-->

Breaking

logo

August 17, 2020

75 Tahun Merdeka, Pemerintah Belum Juga Mau Sahkan RUU PKS, Merdeka atau Mati?

75 Tahun Merdeka, Pemerintah Belum Juga Mau Sahkan RUU PKS, Merdeka atau Mati?

SEWORD - Tentunya di satu sisi, sebagai warga negara 62, saya merasa bangga karena Indonesia bisa merayakan kemerdekaannya yang ke 75 tahun. Artinya merayakan usia emas dari sebuah kemenangan.

Bersama-sama dalam waktu 75 tahun menikmati kemerdekaan adalah sebuah hal yang membanggakan. Akan tetapi masih ada PR besar yang sampai sekarang masih belum dikerjakan oleh negara ini, khususnya terhadap kesetaraan gender dan juga perlakuan terhadap perempuan.

RUU PKS merupakan rancangan payung hukum untuk mencegah dan melindungi korban kekerasan seksual. RUU ini sudah masuk prolegnas prioritas sejak 2016. RUU tersebut mengatur sembilan tindak kekerasan seksual yang akan dipidana, yang sebagian tidak diatur dalam KUHP atau aturan lain.

Anjrit udah dari 2016, DPR masih gak kelar-kelar itu bahas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual? Kan Jaka Sembung bawa tujuh empat satu.

Di negara ini perempuan masih dianggap golongan kelas 2 meskipun Kartini sudah menggalakkan dan berisik tentang kesetaraan dan juga emansipasi wanita. perempuan adalah gender yang mendampingi laki-laki dengan banyak sekali kelebihan-kelebihan yang ada. Perempuan ini berpotensi mampu menjadikan negara ini maju dengan luar biasa. Bahkan ada seorang filsuf, saya lupa namanya pernah berkata tentang kodrat daripada wanita.

Kodrat wanita menurutnya adalah membesar-besarkan sesuatu dengan cara yang sangat positif. Jika engkau memberikan setetes air mani kepada perempuan dia akan memberikan engkau anak. Jika engkau memberikan sedikit waktu untuk perhatian kepada wanita, mereka akan memberikan hatinya dan seluruh hidupnya kepadamu.

Engkau memberikan sedikit uang ia akan memberikan engkau banyak sekali pergi karena kehidupan yang dilimpahkan oleh Tuhan lewat orang yang mengasihi istrinya.

Dari sini kita melihat bahwa peranan perempuan di dalam kehidupan sosial tidak bisa lepas dari kebebasan mereka dan kemerdekaan mereka dalam mendapatkan hak yang sama dengan para lelaki. Hanya saja, masih ada orang-orang yang merasa diri memahami agama memposisikan wanita begitu rendah. Bahkan boleh ditabok dan dipukul dengan begitu bebasnya jika tidak taat.

Bahkan juga ada petinggi agama yang mengatakan bahwa wanita jika tidak mau berhubungan badan dengan pria, sebaiknya diam saja dan nikmati saja sambil tiduran. Ini adalah pelecehan kepada kaum wanita bukan hanya sekadar fisiknya namun kepada harga dirinya.

Dan tidak heran jika sampai saat ini rancangan undang-undang pelecehan seksual yang diatur belum menemukan titik temu. Masih digodok katanya. Saya yakin disini ada peranan-peranan agama dan pemahaman bodoh dari orang-orang yang mengaku diri memahami agama tertentu dalam merendahkan wanita. Bahkan ada yang mengatakan seorang perempuan bisa halal darahnya jika kafir, termasuk ibu atau adik atau kakak perempuan sendiri. Mengerikan betul bukan?

Mereka merasa itu adalah bagian dari kitab suci, yang mengajarkan dan membuat dalil itu, bahwa wanita harus ada di bawah pria. Pemahaman yang salah seperti ini sudah mendarah daging sejak orde baru. Padahal kita tahu bahwa pendiri bangsa ini, insinyur Soekarno, memposisikan wanita begitu tinggi sehingga ia membuat surat cinta kepada istri-istri terdahulunya dengan sangat flamboyan. Mengangkat derajat orang tua setinggi langit.

RUU PKS sampai saat ini belum disahkan hanya karena segelintir orang yang membawa dalil agama untuk memaksa istri harus tunduk kepada pria sang suami. Pertanyaan saya yang terbesar adalah di mana kemerdekaan bagi kaum wanita jika RUU PKS tidak segera disahkan.

Di mana rasa merdeka dari perempuan untuk boleh mendapatkan kebebasan dari komunitas barang sedikitpun? DPR terkesan lemah dan bodoh dalam menanggapi ini. Mereka berlambat-lambat dan terkesan tidak serius dalam mengesahkan RUU PKS ini sehingga bisa menyelamatkan banyak sekali dari depan dari para perempuan Indonesia yang terancam.

Bersembunyi di balik kedok agama dan tidak pernah merdeka dalam berpikir dan berwawasan. Saya bingung mau sampai kapan Indonesia ini tetap dalam status quo nya. Bayangkan saja untuk vaksin covid 19 saja harus tunggu sertifikasi halal. bagi orang yang sebenar-benarnya hidup beragama mereka tahu bahwa tidak semua yang halal harus punya sertifikasinya.

Mungkin mereka sedang mengikuti adab Yahudi bahwa yang tidak dihalalkan artinya haram. sedangkan seharusnya semua yang halal tidak harus dihalalkan agar menjadi bukti bahwa negara ini adalah negara yang ber progres dan tidak terkunci pada satu sistem saja. Makanya saya nggak heran jika sampai sekarang kekerasan terhadap wanita tetap ada dan bahkan berujung pada pembunuhan.

Keuntungan bagi kaum perempuan tidak terlalu tinggi dan berat seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain di Eropa. Jadi kalau bicara tentang kemerdekaan, saya meragukan kemerdekaan para kaum perempuan yang ada di Indonesia. Mereka masih dihantui oleh para predator-predator seksual baik dari kaum beragama maupun dari kaum yang dianggap terpelajar.

Selama kebebasan dan kekuatan yang sama dalam menjunjung tinggi emansipasi tidak ditinggikan oleh negara ini, bagi saya negara ini masih belum merdeka. Saya merasa bahwa ini adalah hal yang penting bagi presiden Jokowi dan kyai ma'ruf Amin untuk cepat-cepat mendorong DPR mengesahkan RUU PKS ini untuk menjadi undang-undang yang bisa dijadikan benteng hukum bagi para perempuan dari seksual yang berkedok agama.

Kalian ini dari 2016 sudah masukkan RUU PKS jadi Prolegnas Prioritas, tapi belum kelar-kelar sampai 4 tahun dengan alasan sulit? Kalian itu merdeka atau mati? Ngoceh-ngoceh merdeka, tapi ternyata mati.

Begitulah kedok-kedok. [seword]