-->

Breaking

logo

August 13, 2020

Amien Rais Minta Jokowi Tak Terjebak Mentalitas 'Koncoisme'

Amien Rais Minta Jokowi Tak Terjebak Mentalitas 'Koncoisme'

NUSAWARTA - Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak terjebak pada mentalitas 'koncoisme' dalam memimpin bangsa dan negara.

Amien mengatakan sebagai seorang presiden, Jokowi harus bisa berpikir, bekerja dan terus berusaha supaya tidak menjadi pemimpin partisan.

"Politik partisan semacam ini tidak bisa tidak, cepat atau lambat membelah bangsa indonesia. Tidak boleh seorang presiden terjebak pada mentalitas 'koncoisme'," kata Amien dalam serial video 'Pilihan Jokowi: Mundur atau Terus' episode Bangsa Indonesia Dibelah yang diunggah lewat akun Instagram @amienraisofficial, dikutip Kamis (13/8).

Amien lantas memberikan contoh ketika Jokowi tak mau menemui kelompok yang melakukan demonstrasi di Istana Negara pada 4 November 2016 lalu.

Ketika itu kelompok yang tergabung dalam GNPF-MUI mendesak mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dipenjara karena menista agama.

Tiga orang dari kelompok meminta untuk bertemu Jokowi. Namun, tiga orang itu tak ditemui Jokowi meskipun ditunggu sejak pagi hingga sore. Saat itu, Jokowi memilih melakukan sidak ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Amien menyebut penyakit politik 'partisanship' itu tetap menjadi pegangan rezim Jokowi dalam menghadapi kelompok yang kritis terhadap pemerintahannya.

"Para buzzer dan jubir di acara diskusi televisi semakin menambah kecurigaan banyak kalangan terhadap politik Jokowi yang beresensi politik belah bambu, menginjak sebagian dan mengangkat sebagian yang lain," ujar Amin.

Amin mengatakan sejak Jokowi menjabat presiden, periode pertama 2014-2019 dan lanjut periode kedu 2019-2024, perkembangan politik nasional kian jauh dari spirit demokrasi.

Mantan ketua MPR itu mengatakan bahwa dirinya ingin melakukan diskusi terbuka, bukan debat terbuka dengan siapapun tentang yang dirinya sampaikan secara terbuka tersebut.

"Demokrasi sejati selalu membuka lebar keran pertukaran gagasan supaya muncul pilihan pilihan alternatif bagi seluruh anak bangsa," ujarnya.

Menanggapi tudingan Amien, Juru Bicara Presiden Fadjroel Rahman mengatakan bahwa Jokowi telah mewakafkan hidupnya untuk perjuangan demokrasi dan reformasi.

"Presiden Jokowi mewakafkan hidupnya untuk perjuangan demokrasi dan reformasi berdasarkan ideologi Pancasila dan UUD 1945," kata Fadjroel.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Indeks Demokrasi Indonesia yang diukur selama rentang waktu 2018. Hasilnya Indeks Demokrasi Indonesia selama 2018 masuk dalam kategori sedang dari skala 0 hingga 100.

Kategori sedang ini didapat lantaran, meski mengalami peningkatan dari angka Indeks Demokrasi di 2017, peningkatan tersebut pun tak terlalu signifikan.

Kepala BPS, Suhariyanto menyebut angka Indeks Demokrasi Indonesia per 2018 meningkat sebesar 72,39 poin sementara pada 2017 lalu Indeks Demokrasi berkisar di angka 72,11 poin.

"Peningkatannya hanya 0,28 poin. Meningkat tipis," kata Suhariyanto di Gedung BPS, pada Juli 2019 lalu. [cnn]