-->

Breaking

logo

August 16, 2020

Amien Rais Sebut Jokowi Cukup Lihai Mainkan Politik Pencitraan

Amien Rais Sebut Jokowi Cukup Lihai Mainkan Politik Pencitraan

NUSAWARTA - Pendiri Partai Amanat Nasional Amien Rais membuat video dengan judul 'Pilihan Buat Pak Jokowi: Mundur Atau Terus', kali ini dengan seri 4 'Otoriterisme Makin Pekat.'

"Masalah keempat, temanya adalah otoriterisme makin pekat. Indonesia di zaman Jokowi tidak sendirian di dalam membanting demokrasi sehingga berubah esensi. Beberapa negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika menunjukkan kemiripan," kata Amien memulai video yang diunggahnya melalui akun Instagram @amienraisofficial, Sabtu (15/8/2020).

Amien menyertakan data dari The Economist Intelligence Unit soal Indeks Demokrasi 2018 yang mensurvei 167 negara berdasarkan kebebasan politik dan sipil. Skor tertinggi 10 berdasarkan 5 kriteria. Dari data yang ditampilkannya, enam negara yang disebutkan tidak disebutkan posisi Indonesia. Keenam negara yang ditunjukkan ialah Korea Utara (1,08), Suriah (1,43), Chad (1,50), Republik Afrika Tengah (1,52), Republik Demokratik Kongo (1,61), dan Equatorial Guinea (1,81).

Amien menyebut di negara otoriterisme, praktik demokratis yang dijalankan di awal akan berubah. Namun kata dia, di Indonesia lebih parah karena Jokowi menjalankan Politik Pencitraan. "Hanya saja di Indonesia, otoriterisme itu jauh lebih parah. Kita menyaksikan pada kuartal pertama Jokowi menjadi presiden, pada awalnya rakyat umumnya percaya akan ada perubahan signifikan bagi kehidupan rakyat Indonesia.

Namun harapan itu cepat kandas. Mengapa? Karena Politik Pencitraan (image building) terus saja dilakukan oleh Jokowi sambil terus melakukan janji sosial, politik, ekonomi, dan hukum yang terdengar merdu di telinga kebanyakan rakyat Indonesia. Dalam literatur politik, Jokowi cukup lihai memainkan politik yang penampilannya itu demokratis tapi substansinya intinya otoriter," kata Amien Rais.

Lebih lanjut, Amien Rais menyebut jika Jokowi selama menjadi pemimpin lebih banyak berulah daripada berprestasi. Sebab Jokowi menjalankan demokrasi iliberal, di mana kebebasan berbicara, berpendapat, dan juga berkumpul mulai dicurigai.

"Orang-orang yang berada dibelakang keberhasilan Jokowi menjadi presiden mampu membentuk citra Jokowi sebagai demokrat populis. Namun Citra sebagai demokrat populis ini justru mulai membuat "kehebatannya" pelan-pelan meredup," kata Amien Rais.

"Jokowi terbuai dengan puja-puji pendukungnya. Para sycophants (penjilat) itu dapat meyakinkan mantan Wali Kota Solo yang 'terbaik di dunia' itu benar-benar dicintai rakyat sampai batas yang sangat jauh sampai dia berani mengatakan 'Aku adalah Pancasila'," kata dia melanjutkan.

Kemudian, Amien Rais mengatakan ada sejumlah penjilat di sekitar Jokowi yang keberadaannya diperlukan saat sistem otoritarisme dibangun.

Dalam pembahasan ini, Amien Rais mengingat cerita saat Firaun melawan Nabi Musa AS. Dimana Firaun menjanjikan posisi penting bagi orang sekelilingnya jika membawanya pada kemenangan. Amien bicara hal ini sembari menampilkan Surat Al-Anfal ayat 113 dan 114.

"Hal ini mengingatkan cerita abadi tatkala Firaun mau beradu kekuatan dengan Musa AS. Para petinggi sihir yang mengerumuni Firaun bertanya 'apa kiranya yang akan kita peroleh bila kami berhasil memenangkan Baginda Firaun?'. Jawab Firaun, 'Pasti kalian akan mendapat posisi penting di sekitarku'. Ini Al-Araf 113. Saya baca aslinya. Jadi mereka bertanya, nanti kita peroleh kemenangan, Raja Firaun, apa yang akan kami peroleh? Maka Firaun mengatakan, 'Pasti akan menjadi orang dekat sekelilingku'," kata Amien.

Lanjutnya, dalam sistem otoriter, sang otokrat selalu mematikan sistem checks and balances dalam demokrasi. "Lembaga legislatif dijadikan lembaga stempel sang otokrat yang sudah jadi penguasa puncak eksekutif. Sementara lembaga yudikatif tak boleh merusak orkestra politik yang sudah dirancang oleh sang otokrat. Nah, penghalang atau penghancuran hukum, secara efektif dihancurkan penegak hukum sendiri," katanya.

Sehingga obstruction of justice menjadi lebih bahaya menjadi desctruction of justice, yaitu penghancuran keadilan. Inilaha kata Amien Rais, tipikal otoritarianisme yang sepenuhnya dipraktikkan oleh rezim Jokowi.

"Tangan rezim otoriter sangat ringan memangkas tangan masyarakat yang tak sejalan dengan kemauan rezim yang sesungguhnya immoral dan illegitimate. Tetapi, berdasarkan contoh nasib rezim otoriter di dunia, otoritisme atau otoritarianisme pasti akan ambruk. Makar politik sebuah rezim otoriter tak ada artinya dengan makar Allah SWT," ucapnya.

"Sayang sekali rezim otoriter rezim Jokowi bukannya makin lemah sehingga demokrasi kita yang sudah terengah-engah makin berdaya. Otoriterisme Jokowi makin kuat dan pekat. Sayang sekali," sambungnya. [akurat]