-->

Breaking

logo

August 19, 2020

Antara Kasihan Tapi Salut! Penggali Makam Jenazah Corona di Jakbar: Lelah Nggak, Kami Niat Ibadah

Antara Kasihan Tapi Salut! Penggali Makam Jenazah Corona di Jakbar: Lelah Nggak, Kami Niat Ibadah

NUSAWARTA - Profesi penggali makam sering dikesampingkan selama pandemi virus Corona ini. Tanpa sadar, mereka berjuang melawan rasa lelah dan bahaya di saat angka kematian akibat Corona di Indonesia terus bertambah.

Rasa lelah turut dirasakan penggali makam di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, bernama Mustaki (48). Dia harus siap menunggu sampai malam untuk menggali makam dan mengurus kedatangan jenazah Corona.

"Kita dari jam 07.00 sampai selesai, bisa malam, bisa jam 22.00 WIB, nggak tentu. Kita tunggu dari pusat," kata Mustaki saat ditemui di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (19/8/2020).

Mustaki juga merasa belakangan jenazah yang dimakamkan karena COVID-19 mulai ramai. Rasa lelahnya kian bertambah ketika ayah tiga anak ini harus bolak-balik menggali di pemakaman umum dan khusus COVID-19.

"Ya begitulah kadang-kadang lumayan juga (yang datang), tapi alhamdulillah saya bilang tadi anak-anak nggak pernah ngeluh. Siap nggak ada istilahnya... pokoknya kalau sampai ini, udah (selesai), standby, jadi istilahnya kayak jemput bola, nggak sampai terus nunggu-nunggu, nggak. Malah di COVID didahulukan, (kalau) di umum ada (dan) di COVID ada (yang mau dimakamkan), kita (urus) ke COVID dulu, kita ngomong ke keluarga, 'pak ini ini', 'ya', alhamdulillah pada ngertiin," jelasnya.

Meski harus bekerja ekstra, Mustaki mengaku meniatkan lelahnya untuk ibadah. Dia turut membayangkan kalau ada keluarganya yang meninggal, pasti dia ingin ada yang mengurus dengan baik.

"Nggak (lelah), alhamdulillah nggak sih, dekat (pemakaman umum dan khusus Corona). Kita niat kan ibadah, kalau terjadi ke keluarga kita kan gimana, seperti itu," ujar Mustaki.

"Kalau masalah itu semua juga capek kita, istilahnya dianggap biasa aja, kan namanya ibadah, alhamdulillah sih, kita juga nggak pernah ngeluh, kan kewajiban," tambahnya.

Sambil bersantai, Mustaki menceritakan kebiasaan yang beda saat tiba di rumah. Dulu, jika pulang ke rumah ia hanya pulang saja, tapi saat ini di tengah pandemi ini dia pulang sebelum masuk rumah disemprot disinfektan dulu.

"Iya, kita pulang kan langsung disemprot juga kadang, mandi juga. Awalnya pada ketakutan, kita baru pulang aja disemprotin 'Pak, ntar dulu semprot dulu', 'iya iya'. Dimasakin air hangat," ungkap warga Kamal, Jakarta Barat, itu.

Kekhawatiran keluarganya turut Mustaki rasakan ketika bertugas. Saat membantu pemakaman jenazah Corona, dia kadang takut tertular dari pihak keluarga yang hadir di TPU.

"Kita kan ini, jenazah sampai, kita siap-siap pakai (APD), kita ngurus (pemakaman), selesai, buka semua (APD), kita tinggal. Kita juga kalau yang meninggal kan udah nggak bahaya kan steril. Cuma kita yang ngeriin kan yang masih hidup dari pihak keluarga dia," terang Mustaki.

Mustaki mengaku upah sebagai penggali makam masih dia terima selama masa pandemi. Namun, dia tidak mengetahui secara pasti bantuan lain dari pemerintah karena dia tidak sempat memikirkannya saat sibuk bekerja.

"Kita nggak tentu juga kan kita nggak perhatiin (bantuannya), kita juga sibuk sama pekerjaan, ya alhamdulillah sih," kata Mustaki. [dtk]