-->

Breaking

logo

August 26, 2020

Begini Penjelasan Pertamina Soal Kerugian Rp 11 Triliun

Begini Penjelasan Pertamina Soal Kerugian Rp 11 Triliun

NUSAWARTA - Ada tiga faktor yang menyebabkan PT Pertamina merugi di semester pertama tahun 2020 yang mencapai Rp 11 triliun.

Kalau kita menyebutnya triple shock,” kata Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini dalam rapat kerja bersama Komisi VII, Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8).

Emma menjelaskan faktor pertama meruginya Pertamina karena adanya penurunan permintaan pasar. Hal ini jauh berbeda dari kondisi krisis sebelumnya yang dihadapkan dengan tekanan nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah.

“Demand-nya sekarang yang berdampak signifikan pada revenue kita. Kondisi ini bahkan lebih berat dari kondisi financial crisis,” katanya.

Nilai tukar rupiah menjadi faktor kedua. Pasalnya, laporan keuangan secara fundamental di Pertamina merujuk pada pembukuan dengan nilai mata uang dolar Amerika Serikat. Hal itu menyebabkan komposisi rugi kurang lebih 30-40 persen dari kerugian Pertamina.

“Yang ketiga ini terkait dengan crude. Dengan melemahnya crude price di second quarter menyentuh angka 19 sampai 20 dolar AS perbarel pak. Dibandingkan posisi Desember 2019 63 dolar AS perbarel kita sangat terdampak sekali pada margin hulu. Padahal margin hulu penyumbang atau kontributor ebitda terbesar 80 persen,” tandasnya.

Sosok Kontroversi, Ahok Akan Ganggu Kinerja Pemerintah Jika Masuk Kabinet

Apabila Basuki Tjahja Purnama alias Ahok jadi menteri dalam wacana perombakan kabinet saat ini, dikhawatirkan malah menganggu kinerja pemerintah lantaran sosoknya penuh kontroversi.

Demikian pandangan Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan dalam acara Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk "Ada Ahok, Pertamina Malah Buntung" yang diselenggarakan Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (26/8).

Mamit menegaskan bahwa Ahok sosok kontroversi yang dalam tanda kutip banyak musuhnya.

"Saya khawatirnya ketika dia (Ahok) masuk ke dalam struktur pemerintahan ya akhirnya nanti akan mengganggu juga kinerja pemerintah," ujar Mamit.

"Karena ya tadi, banyak yang enggak suka dan akhirnya didemo terus," tambah dia menekankan.

Ahok memang tidak salah disebut sosok kontroversi. Saat mau diangkat menjadi Komisaris Utama Pertamina hingga perusahaan minyak negara itu merugi sampai Rp 11 triliun saja, sosok Ahok mengundang beragam reaksi publik.

Belakangan ramai beredar melalui pesan berantai di Whatsapp, daftar susunan kabinet Joko Widodo jika ada terjadi kocok ulang alias reshuffle, Ahok disebut bakal masuk sebagai menteri.

Mantan Gubernur DKI Jakarta yang pernah mendekam di penjara karena kasus penistaan agama itu disebutkan mengganti Erick Thohir pada posisi Menteri BUMN. [rml]