-->

Breaking

logo

August 13, 2020

Buat Surat Terbuka ke Jokowi, Ruslan Buton Didakwa Buat Onar-Ujarkan Kebencian

Buat Surat Terbuka ke Jokowi, Ruslan Buton Didakwa Buat Onar-Ujarkan Kebencian

NUSAWARTA - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menggelar sidang pembacaan dakwaan atas perkara Ruslan Buton. 

Jaksa mendakwa Ruslan berbuat onar dan melakukan ujaran kebencian.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 45A ayat (2) jo. Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik," kata Ketua Tim JPU Abdul Rauf dalam persidangan, PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2020).

Pasal itu didakwakan ke Ruslan Buton karena membuat surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai bersifat ujaran kebencian. 

Surat terbuka Ruslan Buton itu diunggah ke media sosial.

Pasal kedua yang didakwakan jaksa terkait dengan tindakan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dan dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, yang diatur di Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Pasal ketiga, yaitu pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. 

Sedangkan pasal terakhir yaitu Pasal 15 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Abdul Rauf menerangkan ancaman tertinggi terdapat pada pasal 14 ayat (1), dengan ancaman 10 tahun penjara. 

Dia pun menegaskan dakwaan pasal terhadap Ruslan Buton bersifat alternatif, bukan berlapis.

"Alternatif bukan berlapis. Kalau berlapis itu komulatif. Ancaman tertingginya di Pasal 14 ayat 1, yaitu 10 tahun. Kalau ITE 6 tahun. Kalau di Pasal 14 ayat 1 ancaman paling lamanya," terang Abdul Rauf.

Usai pembacaan dakwaan, Majelis Hakim Dedy Hemawan mengagendakan sidang kembali dilaksanakan pada Kamis (27/8). Agenda sidang selanjutnya adalah pembacaan eksepsi oleh pihak penasihat hukum terdakwa Ruslan Buton.

Dalam kasus ini, Ruslan Buton yang merupakan pecatan TNI ditangkap setelah membuat heboh dengan meminta Presiden Jokowi mundur lewat surat terbuka. 

Ruslan ditangkap di kediamannya di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (28/5) waktu setempat.

Usai ditangkap, Ruslan Buton diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani proses hukum di Bareskrim Polri. [dtk]