-->

Breaking

logo

August 30, 2020

Butet Curhat ke Mahfud MD, Diundang Jokowi ke Istana Namun Berujung pada Kekecewaan

Butet Curhat ke Mahfud MD, Diundang Jokowi ke Istana Namun Berujung pada Kekecewaan

NUSAWARTA - Menkopolhukam Mahfud MD mengundang puluhan seniman ke dalam acara silaturahmi di Warung Bu Ageng, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8/2020) malam. Pada momen itu, seniman kenamaan asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa mengadu kepada Mahfud, mempertanyakan kehadiran negara buat para seniman selama masa pandemi COVID-19.

Butet mengungkap kekecewaannya usai dirinya bersama beberapa seniman lain diundang ke Istana Kepresidenan di Jakarta oleh Presiden Joko Widodo, Juli lalu.

"Saya mau wadul sama Menkopolhukam, karena derajatnya lebin tinggi dari menteri to. Jadi terus terang kemarin saya rada kecewa, saya agak sedih ketika seorang menteri memaknai seniman hanyalah orang-orang populer yang wajahnya sering muncul di televisi," kata Butet.

Butet memang tak menyebut siapa sosok menteri tersebut. Namun, dia sempat menyinggung Kemenparekraf dan upaya yang dilakukan kementerian tersebut memberikan santunan kepada para industri kreatif yang terpukul selama masa pandemi corona.

Lanjut Butet, menteri tersebut mengatakan bahwa pihaknya telah mengumpulkan data terkait 40 ribu pelaku seni di Indonesia. Mereka dimasukkan ke dalam daftar penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) melalui Kementerian Sosial.

"Saya bilang (ke menteri), bung, ini bukan masalah orang yang berprofesi seniman menerima bantuan sosial. Ini masalah sebuah profesi yang membutuhkan kebanggaan," kata kakak Mendiang Djaduk Ferianto itu.

Butet mengatakan, seniman butuh eksistensi. Ia menyarankan bantuan dari pemerintah semestinya dikemas sebagai bentuk kehadiran negara menghargai karya seni dan senimannya.

"Saya bilang kepada dia, para perupa, orang-orang sastra itu orang-orang yang tidak mengharuskan dan diharuskan wajahnya dikenal publik melalui televisi. Padahal nama-nama dia nama-nama kelas internasional, dan hari ini tiarap semua," kata Butet.

Butet lantas mencontohkan kepada menteri tersebut, bantuan kepada para pelaku seni bisa diwujudkan ke dalam bentuk pengadaan atau penyelenggaraan pameran daring. Lalu, ada proses jual beli karya para seniman di situ.

"Karya itu dibeli, dibeli oleh negara melalui duit bantuan sosial itu, jumlahnya mungkin sama, tidak mengganggu anggaran. Tetapi bagi seniman itu kan semacam kehadiran negara, pengakuan negara kepada karya seni mereka," ujarnya.

Sang menteri kembali bertanya, akan diapakan karya-karya seni yang dibeli pemerintah. Butet menjawab, untuk lukisan semisal dipakai hiasan interior kantor instansi pemerintahan.

Apalagi pemerintah juga berencana mendirikan ibu kota baru. Para seniman merasa lebih dihargai ketika karya-karya mereka menghiasi kantor lembaga pemerintah di sana.

"Penyair-penyair itu juga bisa, didorong untuk bikin puisi-puisi, dibayar oleh negara. Nilainya, sama dengan bantuan sosial yang akan anda berikan, itu bagi seniman lebih punya makna, daripada anda membagi-bagi seakan-akan ini para penganggur yang perlu ditolong," ungkap Butet yang juga merupakan putra dari Bagong Kussudiardja.

Menteri lantas merespons, menurut Butet dengan jawaban standar. Semua kembali ke masalah birokrasi dan tetek bengek lainnya.

"Ya terserah, aku bilang gitu. Yang penting saya sudah menyatakan. Saya memberi masukkan kepada anda yang mumpung punya jabatan, punya kekuasaan, berpikirlah yang agak kreatif. Saya agak marah waktu itu habis dari istana itu. Makanya saya mengadu ke pak Mahfud, kan menko, luwih duwur derajat e, nah monggo gimana nanti," pungkasnya. [akrt]