-->

Breaking

logo

August 15, 2020

Cerita di Balik Sumpah Pocong Warga Bondowoso yang Viral

Cerita di Balik Sumpah Pocong Warga Bondowoso yang Viral

NUSAWARTA - Gegara sengketa tanah, 2 warga Prajekan, Bondowoso melakukan sumpah pocong. Sumpah itu dinilai masyarakat setempat sebagai upaya penyelesaian terakhir.

ereka yang melakukan sumpah pocong adalah Rukyati, sebagai penggugat, dan Sri Widiarti, sebagai tergugat. Keduanya warga Prajekan Kidul, Kecamatan Prajekan, Bondowoso.

Sumpah pocong terpaksa dilakukan setelah beberapa kali dilakukan penyelesaian yang dimediasi camat setempat menemui jalan buntu. Keduanya bersikukuh pada keyakinan masing-masing.

Camat Prajekan Abdul Manan membenarkan tentang kejadian itu. Sumpah pocong dilakukan di Masjid Al-Arif, Prajekan, Jumat (14/8/2020). Sumpah pocong Dipimpin oleh tokoh agama, dengan didampingi tokoh masyarakat, MUI, dan Muspika setempat.

"Benar, kejadiannya kemarin. Bagi mereka sumpah pocong itu mungkin alternatif terakhir. Karena sebelumnya kedua pihak sudah kami pertemukan untuk mediasi," kata Abdul Manan, ditemui di rumahnya, Sabtu (15/8/2020).

Menurut Abdul Manan, pihaknya sebenarnya sudah beberapa kali mengumpulkan dua pihak yang bersengketa tersebut sejak beberapa tahun lalu. Bahkan kepala desa dan tokoh masyarakat setempat sudah melakukan mediasi sedkitnya empat kali. Tapi tetap saja menemui jalan buntu.

"Kedua pihak sebenarnya juga sudah sempat membuat surat pernyataan kesepakatan. Tapi akhirnya mentah lagi. Akhirnya mereka melakukan sumpah pocong," tandas Abdul Manan.

Sengketa tanah itu bermula saat Rukyati dan Sri Widiarti berebut sebidang tanah yang berlokasi di desa setempat. Tanah atas nama Tanja Boesandi itu terdaftar dengan nomor petok C.288 persil 2, dengan luas sekitar 250 meter persegi.

Kedua pihak merasa sebagai pewaris tanah tersebut berdasarkan garis keturunan. Keduanya lantas bersengketa memperebutkan sebidang tanah itu. Beberapa kali mediasi lantas dilakukan pemerintah setempat.

Karena selalu menemui jalan buntu dan sama-sama meyakini kebenarannya, keduanya lantas memilih alternatif terakhir, yakni sumpah pocong yang disaksikan tokoh agama, masyarakat, maupun aparat setempat. [suara]