-->

Breaking

logo

August 11, 2020

Dari Dalam Penjara, Empat Napi Masih Bisa Lakukan Aksi Tipu-tipu, Ini Modusnya

Dari Dalam Penjara, Empat Napi Masih Bisa Lakukan Aksi Tipu-tipu, Ini Modusnya


NUSAWARTA - Empat Narapidana kembali mengulangi perbuatan tindakan pidana. Kali ini melakukan Penipuan dengan modus mencatut nama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Duta Besar (Dubes) hingga anggota DPR RI.

Keempat pelaku berinisial DA (32), K (37), JS (41), dan DK (30) melancarkan aksinya di Lapas Kelas II A, Kuningan, Jawa Barat. 

Direktur Tindak Pidana Siber (Dir Tipidsiber) Bareskrim Polri Brigjen Pol Slamet Uliandi mengatakan selain mencatut nama Menteri Luar Negeri dan anggota DPR RI, para pelaku juga dalam melancarkan aksi kejahatannya mencatut nama-Nama Pejabat Kedutaan Besar serta Konsulat Jenderal.

"Mereka melakukan Penipuan dengan bepura-pura jual beli kurma, menjadi keluarga dari salah satu pejabat yang membutuhkan uang, meminta dana pemulangan dan administrasi untuk ke Indonesia," kata Slamet di Bareskrim Polri, Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2020).

Ia mengatakan sudah ada puluhan orang yang tercatat menjadi korban Penipuan tersebut. Keseluruhan korban merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di 17 negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, hingga Belgia.        

Para pelaku memiliki akun WhatsApp (WA) untuk mengelabui korban dengan identitas sebagai pejabat. Artinya para napi didalam lapas bisa menggunakan handphone (HP).       

"Jadi pelaku ini membuat akun WhatsApp. Di dalam akun WhatsApp mencantumkan identitas dan profil Ibu Menlu, Dubes, Konsulat Jenderal dan anggota DPR. Dari modus itu, mereka melakukan di 17 negara sasaran operasi dan sudah berhasil," ucap Slamet.

Selama melancarkan aksinya, dikatakan Slamet, para pelaku ditaksir telah mendapatkan keuntungan sebesar Rp 332 juta. Mereka melancarkan aksinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.    
  
"Total kerugian yang kami himpun sampai saat ini mencapai Rp 332 juta rupiah. Motifnya ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka para terpidana itu," jelasnya.   

Saat menggeledah ruang tahanan para pelaku, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya 16 telepon genggam, tiga modem, 33 SIM card, satu kartu ATM, dan buku tabungan. 

Selain itu, polisi juga turut mengamankan narkoba jenis sabu seberat 131,35 gram. 

"Mengejutkan memang dalam penggeledahan itu, dalam kamar salah satu napi ditemukan sabu seberat 131, 35 gram," tegas Slamet.

Atas perbuatannya, keempat Narapidana tersebut pun dijerat dengan Pasal 45 a Ayat 1 jo pasal 48 ayat 1 dan atau pasal 51 ayat 1 jo pasal 35 UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan pasal 3 UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Mereka terancaman hukuman penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar. [akrt]