-->

Breaking

logo

August 21, 2020

Deklarator KAMI: KITA Terjebak Retorik Kekuasaan, Dikira Kami Musuh

Deklarator KAMI: KITA Terjebak Retorik Kekuasaan, Dikira Kami Musuh

NUSAWARTA - Sehari setelah deklarasi Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI), giliran gerakan moral Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) dideklarasikan.

Gerakan yang dibuat mantan relawan Jokowi-Amin di Pilpres 2019 itu dipertanyakan salah satu deklarator KAMI, Gde Siriana Yusuf.

Dia menilai, gerakan itu adalah kelompok yang tak bisa lepas dari kungkungan penguasa.

Ia juga menyatakan bahwa orang-orang yang membentuk KITA itu terjebak dalam retorik dan permainan kekuasaan yang mengganggap KAMI sebagai musuh.

“Sehingga kelompok ini mengedepankan sikap yang defensif,” ujar Gde Siriana kepada RMOL, Kamis (20/8/2002).

Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) ini juga menilai, gerakan tersebut berbeda dengan gerakan KAMI.

Ia menyatakan, gerakan yang dimotori Din Syamsuddin itu bersikap proaktif dan antisipatif pada situasi yang tengah dihadapi negara saat ini maupun ke depannya.

Bahkan menurut Gde Siriana, jika dilihat dari pemilihan kata singkatan yang dirangkai oleh kelompok ini terkesan dipaksakan dibanding KAMI.

Terlebih dengan penggunakan kata ‘KITA’ yang dianggap sebagai tandingan ‘KAMI’.

“Padahal makna KAMI sendiri bukan sebagai kami ‘us’ dalam English, hanya kebetulan saja singkatannya jadi KAMI,” jelasnya.

Dengan demikian, katanya, terlihat jelas bagaimana makna KITA sangat dipaksakan sebagai tandingan.

“Jadi responnya pembentuk KITA jauh dari konteksnya,” ujar dia.

Sebelumnya, Kordinator KITA, Maman Imanulhaq menyatakan bahwa gerakan tersebut adalah gerakan moral dan kebudayaan.

Akan tetapi, mantan Direktur Relawan TKN Jokowi-Amin ini menegaskan bahwa KITA bukan gerakan untuk menandingi KAMI.

“Bukan tandingan (KAMI). Tapi sebagai politik kesadaran,” katanya.

“Indonesia milik kita. Jangan terus menyulut dendam keterbelahan. Kita butuh kebersamaan,” tegas Maman.

Maman menyatakan, KAMI sangat menghormati langkah sejumlah tokoh yang mendeklarasikan KAMI.

“Tapi pembelahan opini di saat kita butuh bekerjasama menghadapi pandemi jelas mengganjal spirit kebangsaan kita”, ucap Maman.

Saat ini, kata Maman, kritik yang konstruktif dan argumentatif dibutuhkan agar pemerintah lebih serius menghadapi pandemik Covid-19.

Bukan kritik yang sentimen yang terkesan menyerang personal.

“KITA ingin para tokoh bangsa ini berjiwa negarawan, bukan yang haus kekuasaan,” tegasnya.

“Apapun motifnya, jiwa kenegarawanan para tokoh sangat diperlukan untuk Indonesia saat ini,” ujar Maman.

Karena itu, KITA berharap agar para tokoh bangsa memberi semangat persatuan dan gagasan kebangsaan yang lebih konstruktif. [pjst]