-->

Breaking

logo

August 16, 2020

"Demokrasi Tanpa Merasa Paling Agamis dan Pancasilais"

"Demokrasi Tanpa Merasa Paling Agamis dan Pancasilais"

NUSAWARTA - Seiring usia ke-75 tahun Kemerdekaan Indonesia ini, embrio demokrasi Indonesia pun turut tumbuh dan berkembang. Tumbuh dengan terpaan badai dan gelombang politik di dalam negeri menjadikan demokrasi Indonesia semakin matang dalam kedewasaannya, dalam membawa bangsa dan negara menuju kemakmuran cita-cita perjuangan kemerdekaan. 

Ini harapan kita warga bangsa yang menjunjung tinggi jerih payah dan nilai-nilai juang para pendiri bangsa ini, tidak terkecuali para pejuang kemerdekaan yang telah merelakan dirinya sebagai tumbal berdirinya negara Indonesia tercinta ini. 

Mereka rela meregang nyawa agar Indonesia diakui keberadaannya, agar Indonesia bukan hanya menjadi budak bangsa lain terutama bangsa penjajah yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari bumi kaya raya ini.

Perjuangan kemerdekaan ini bukan hanya upaya terbebas dari kaum kolonial, tetapi juga perjuangan fundamental berdirinya sebuah negara, yaitu dasar pijakan yang mampu mempersatukan banyaknya ragam (suku, agama, golongan, bahasa, budaya) yang ada di bangsa ini. 

Ini telah dibuktikan oleh para cendekiawan pendiri bangsa yang telah mampu mengakomodasi keberagaman itu, dengan merumuskan Pancasila. Falsafah Pancasila yang bermakna dalam dan luas, diharapkan mampu menjadi kendali bangsa dan dasar negara dalam perjalanan menuju kebesaran bangsa Indonesia. 

Dan impian ini oleh Tuhan dikabulkan. Jadilah Indonesia sebagai bangsa dan negara yang merdeka dengan Pancasila-nya.

Di usia 75 tahun Kemerdekaan Indonesia ini, seharusnya Indonesia telah meninggalkan beberapa negara Asean bahkan Asia dalam berbagai bidang terutama bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. 

Demokrasi Indonesia yang mempunyai ciri kemajemukan, merupakan nilai tersendiri yang menjadi kebanggaan bangsa dan negara Indonesia. Inilah yang memperkokoh jati diri, bahwa negara Indonesia terbentuk sebagai negara kesatuan telah diperjuangkan oleh seluruh komponen warga bangsa. Bukan oleh sekelompok atau golongan tertentu saja.

Namun sayang, dalam merangkaknya usia kemerdekaan sampai yang ke-75 ini, ada saja yang berusaha merobek, menyayat, dan melukai demokrasi Indonesia. Mereka merasa kuat dan mampu menekan yang lemah. Mereka menunjukkan kedominannya untuk menguasai yang lain. Mereka berusaha membungkam hak berdemokrasi warga masyarakat. 

Apalagi kalau sudah dengan dalih agama. Mereka merasa paling benar, dan yang tidak sepaham dianggapnya salah. Tindakan-tindakan tercela dan melanggar hak orang lain pun dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwa kelompok itu ada. 

Bahkan yang paling berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ini adalah usaha-usaha memprovokasi warga masyarakat dengan ujaran-ujaran yang memunculkan kebencian, terlebih kebencian terhadap bangsa dan negaranya sendiri. 

Solidaritas agama mereka tunggangi untuk kepentingan merongrong keberadaan negara Indonesia yang sah. Inilah yang harus kita waspadai dan harus disikapi dengan tegas.

Kebebasan berdemokrasi telah disalah-gunakan dan disalah-artikan oleh kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang memang bertujuan mencederai cita-cita luhur para pendiri bangsa. 

Dianggapnya kebebasan berdemokrasi itu bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan yang mengikat. Bebas mencaci maki orang tanpa mengindahkan lagi etika bermasyarakat, bebas menekan yang dianggapnya lemah, bebas dalam melanggar hak orang lain, bebas mempersekusi pihak lain yang dianggap tidak sejalan. Inilah kelompok yang disebut “bisa berpikir baik tapi memilih bodoh”, ibarat kerak-kerak negara yang menghambat kemajuan dan kebesaran bangsa.

"Demokrasi memang menjamin kebebasan, namun kebebasan yang menghargai hak orang lain. Jangan ada yang merasa paling benar sendiri, dan yang lain dipersalahkan. Jangan ada yang merasa paling agamis sendiri. Jangan ada yang merasa paling Pancasilais sendiri. Semua yang merasa paling benar dan memaksakan kehendak, itu hal yang biasanya tidak benar," ujar Jokowi Joko Widodo dalam Sidang Tahunan MPR dan sidang bersama DPR-DPD.

Jika kita coba cermati, benar apa kata Presiden Joko Widodo, bahwa siapa yang dirinya merasa paling benar biasanya justru yang tidak benar. Siapa yang merasa paling agamis justru dangkal pemahaman agamanya. Dan yang merasa dirinya paling nasionalis, justru biasanya tidak mengerti untuk apa nasionalisnya.

Diakui atau tidak, pernyataan Joko Widodo ini merupakan gambaran banyaknya orang yang merasa dirinya agamis tetapi malah menistakan agama yang dianutnya. Lihat saja, bagaimana seseorang menunggangi agama untuk meraih jabatan, tetapi setelah menjabat lantas melakukan tindakan korupsi, yang oleh agama dilarang. Dan yang lebih tidak bisa dinalar lagi alias cunthel untuk dipikir, korupsi dianggap tidak apa-apa asal seiman. What!! Mau dikemanakan negeri gemah ripah loh jinawi ini?

Pembaca yang baik, marilah kita bertanggung jawab atas kemerdekaan bangsa dan negeri ini. 75 tahun usia kemerdekaan Indonesia bukanlah waktu yang singkat untuk sekedar direnungi. Bertanggung-jawablah bukan kepada siapa-siapa, tetapi kepada diri sendiri. Bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara Anda di 75 tahun kemerdekaan ini. Rasakan dan renungkan apa yang telah Anda berikan untuk bangsa dan negara ini. [seword]

Salam Pekik MERDEKA !