-->

Breaking

logo

August 22, 2020

Duka Ledakan Belum Sembuh, RS Lebanon Kini Kewalahan Hadapi...

Duka Ledakan Belum Sembuh, RS Lebanon Kini Kewalahan Hadapi...

NUSAWARTA - Usai ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon kini dihadapkan oleh lonjakan virus corona baru (Covid-19). Tingginya angka kasus positif virus corona di sana membuat pemerintah memberlakukan kembali penguncian atau lockdown parsial dan jam malam.

Dikutip dari laman Aljazeera, tim medis di berbagai rumah sakit Lebanon kini cukup kewalahan karena pasien berasal dari dua sisi yakni ledakan Pelabuhan Beirut dan pasien positif virus corona. Menurut Kementerian Dalam Negeri pada Jumat, 21 Agustus 2020, penguncian akan ditetapkan selama dua minggu. 

Namun ia memastikan bahwa pembatasan tersebut tak akan memengaruhi upaya pembersihan dan bantuan kepada masyarakat setelah ledakan mematikan di Pelabuhan Beirut yang telah menewaskan sedikitnya 180 orang tersebut.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa semua pasar, mal, gym, kolam renang, termasuk bisnis swasta lainnya telah diperintahkan untuk ditutup selama lockdown virus corona.

Pertemuan sosial pun kini kembali dilarang oleh pemerintah Lebanon. Jam malam yang diberlakukan mulai pukul enam sore waktu setempat hingga 6 pagi waktu setempat atau 15.00 GMT-03.00 GMT.

Bagi bermacam profesi pada sektor medis, makanan, tentara, diplomat dan jurnalis jam malam tersebut tak berlaku. Meski begitu, bandara akan tetap dibuka untuk para wisatawan dengan syarat harus melalui uji reaksi rantai polimerasi (PCR) sebelum menaiki pesawat.

Lebanon melaporkan peningkatan kasus virus corona dalam beberapa pekan terakhir setelah ledakan di Beirut memicu demonstrasi di sejumlah tempat. Negara tersebut memiliki rekor 605 kasus baru dan empat kematian pada Kamis, 20 Agustus 2020 sehingga totalnya menjadi 10.952 pasien terinfeksi virus corona.

Perawatan kesehatan di Lebanon dinilai telah 'runtuh' akibat ledakan sehingga pihak berwenang mulai khawatir bahwa lonjakan kasus virus corona akan terus terjadi jika tak memberlakukan lockdown. Saat ledakan terjadi pada 4 Agustus 2020 lalu, sekitar 55 pusat medis di Beirut tak berfungsi.

Senada dengan itu, Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hassan menyatakan bahwa rumah sakit di ibu kota Lebanon tersebut memiliki kapasitas terbatas.

"Rumah sakit umum dan swasta khususnya di ibu kota memiliki kapasitas yang sangat terbatas, baik berupa tempat tidur di unit perawatan intensif maupun alat bantu pernapasan. Kini kami berada di tepi jurang," ujarnya.

Selain berakibat pada ledakan virus corona, Lebanon dihadapkan oleh para demonstran yang menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas tindakan korupsi yang marak terjadi. Para demonstran pun menganggap bahwa ledakan tersebut dipicu oleh banyaknya kasus korupsi di pemerintahan. Terkait rumah sakit yang kewalahan karena lonjakan kasus Covid-19, hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai pengadaan bantuan dari pihak lain untuk Lebanon. [wrte]