-->

Breaking

logo

August 29, 2020

Eks Ketua HTI: Sangat Menjijikkan Islam Khilafah Ala Ismail Yusanto

Eks Ketua HTI: Sangat Menjijikkan Islam Khilafah Ala Ismail Yusanto

NUSAWARTA - Mantan Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bangka Belitung, Ayik Heriansyah menilai bahwa Khilafah memang ajaran agama Islam. Hanya saja, statusnya tidak serta merta wajib seperti yang dipropagandakan oleh para pegiat Hizbut Tahrir.

“Betul, khilafah ajaran Islam. Makan, minum, buang hajat, kawin, mandi, tidur, jalan-jalan, ngopi, ngerujak, ngojek, bisnis, doa, zikir, wiridan, suluk, shalat, puasa, sedekah, umrah, dan lain-lain juga ajaran Islam,” kata Ayik, Sabtu (29/8/2020).

“Akan tetapi, apakah setiap ajaran Islam itu, wajib dikerjakan? Atau bagaimana? Nah, di sini perlu perincian, serinci-rincinya sehingga ditemukan tuntutan yang sebenarnya. Wajib-kah? Sunnah-kah? Mubah-kah? Makruh-kah? Atau haram-kah?,” imbuhnya.

Sementara secara umum, Khilafah adalah sistem pemerintahan. Lalu, ia pun mempertanyakan, Khilafah yang diutarakan oleh Hizbut Tahrir termasuk Ismail Yusanto adalah Khilafah yang seperti apa. Karena sejauh ini, kelompok Hizbut Tahrir hanya menyebut Khilafah semata.

“Kemudian Khilafah ajaran Islam yang dimaksud Ismail Yusanto itu, khilafah yang mana? Khilafah Nabi Adam-kah, Nabi Daud-kah? Khilafah di masa Abu Bakar-kah? Umar-kah? Utsman-kah? Ali-kah? Hasan-kah? Umayyah-kah? Abbasiyah-kah? Usmaniyah-kah? Imamiyah Syi’ah-kah? Ahmadiyah-kah? ISIS-kah? Al-Qaedah-kah? Taliban-kah? NKRI-kah? Khilafatul Muslimin yang di Lampung-kah? Khilafah Mahdiyah-kah? Khilafah Yusanto-iyah? Khilafah Tahririyah-kah? Atau khilafah yang mana?,” ujarnya.

Ia pun berharap agar Ismail Yusanto yang disebut masih konsisten melabeli diri sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia itu untuk menjawabnya dengan tegas.

“Ismail Yusanto punya kewajiban untuk menjawabnya, sebelum menyanggah kritikan pihak lain atas gerakan Ismail Yusanto dan kawan-kawannya, sehingga nyambung antara apa yang dikritik dengan sanggahannya,” sambungnya.

Khilafah ala HTI

Pria yang kiri menjadi pengurus Lembaga Dakwah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat (LD PWNU Jabar) ini menyebut, bahwa Khilafah Islamiyah yang menjadi agenda politik Hizbut Tahrir berbeda dengan Khilafah yang pernah ada.

“Ada tiga ciri khas dari Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah (sebutan Khilafah ala HTI -red) yang tidak dimiliki oleh khilafah-khilafah yang lain,” kata Ayik.

Pertama, Khilafah ini akan menunjuk Khalifah dari kelompok mereka saja. Dan ini pun disampaikan oleh Ketua Umum HTI periode 2014-2010, Hafidz Abdurrahman di majalah Al-Waie edisi Mei-Juni 2012 serta di website HTI yang kini sudah diblokir oleh pemerintah itu.

“Calon khalifah diambil dari kader terbaik Hizbut Tahrir yakni Amir Hizbut Tahrir. Amir Hizbut Tahrir sekarang bernama Atha bin Khalil Abu Rusytah. Dijelaskan oleh Hafidz Abdurrahman,” jelasnya.

Selain itu, dari sisi regulasinya, Khilafah Islamiyah ala Hizbut Tahrir juga akan menyusun Undang-Undangnya sendiri.

“Undang-undang Dasar Khilafah diambil dari Rancangan UUD yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Seperti yang dijelaskan di dalam kitab Nizhamul Islam, Ad-Daulah al-Islamiyah, Muqaddimah Dustur dan nasyrah. Bagaimana menjadi bagian intergral Hizbut Tahrir, Tabanni dan Qassam yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir,” ucap Ayik.

Terakhir, Hizbut Tahrir memiliki agenda untuk menumbangkan kekuasaan melalui cara-cara inkonstitusional yaitu dengan mekanisme kudeta. Dan cara ini, kata Ayik sudah diterapkan metodenya dalam kitab-kitab mereka.

“Metode peralihan kekuasaan dari kepala negara sebelumnya kepada Amir Hizbut Tahrir dilakukan dengan thalabun nushrah (kudeta). Bukan melalui pemilu yang konstitusional secara langsung, umum jujur dan adil,” jelas Ayik.

“Pembahasan tentang thalabun nushrah ada di kitab Nizhamul Islam. Mafahim Hizbut Tahrir, At-Takattul Hizbi, Dukhul Mujtma’, Manhaj Hizbut Tahrir fi Taghyir, nasyrah-nasyrah tentang Thalabun Nushrah, Soal jawab Amir Hizb, dan lain-lain,” imbuhnya.

Inilah mengapa Ayik menyebut, Khilafah Islamiyah ala Hizbut Tahrir yang masih dikampanyekan kelompok penganut Taqiyuddin An-Nabhani termasuk Ismail Yusanto berbeda dengan Khilafah yang sudah ada.

“Tiga kekhasan Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah yang membedakannya dengan khilafah-khilafah yang lain. Khilafah dari zaman Nabi Adam AS, sampai Imam Mahdi nanti, tidak memiliki tiga spesifikasi seperti yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir,” tuturnya.

Ismail Yusanto ditantang agar menunjukkan dalil untuk benarkan Khilafah Islamiah ala mereka

Selanjutnya, Ayik menyatakan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, namun bukan baku seperti yang diklaim oleh Hizbut Tahrir.

“Semua bentuk khilafah pada hakikatnya adalah ajaran Islam, termasuk NKRI. NKRI ajaran Islam sudah menjadi ijma ulama di Nusantara. Secara konseptual, Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah juga boleh disebut ajaran Islam. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan; wajib-kah, sunnah-kah, mubah-kah, makruh-kah atau haram-kah, mendirikannya?,” tandasnya.

Hanya saja, ketika Hizbut Tahrir termasuk Ismail Yusanto memaksakan diri untuk terus menyuarakan bahwa Khilafah Islamiah ala mereka adalah wajib, ia menantang mereka untuk menyebutkan dalilnya secara terperinci.

“Jika wajib, silahkan Ismail Yusanto kemukakan dalil-dalil terperinci terkait kewajiban memilih dan mengangkat Amir Hizbut Tahrir menjadi khalifah,” tantangnya.

Dalil selanjutnya adalah tengang pembuatan Undang-Undang ala Hizbut Tahrir. Ayik menantang Ismail Yusanto dan elit-elit HTI untuk menunjukkan dalilnya pula.

“Jika wajib, silahkan Ismail Yusanto kemukakan dalil-dalil terperinci terkait kewajiban mengambil rancangan UUD susunan Amir Hizbut Tahrir,” sambungnya.

Terakhir, Ayik menantang Ismail Yusanto dan Hizbut Tahrir untuk menunjukkan dalil yang menyatakan bahwa cara mengambil kekuasaan adalah dengan mekanisme kudeta.

“Jika wajib, silahkan Ismail Yusanto kemukakan dalil-dalil terperinci terkait kewajiban thalabun nushrah (kudeta) sebagai metode peralihan kekuasaan dari kepala negara sebelumnya kepada Amir Hizbut Tahrir,” tegasnya.

Khilafah Islamiah ala HTI menjijikkan

Di sisi lain, Ayik juga menyinggung tentang statemen Ismail Yusanto yang pernah mengatakan, bahwa Khilafah juga telah dicatat oleh sejarah, berperan sangat penting dalam mewujudkan peradaban Islam yang agung berbilang abad lamanya.

Bagi Ayik, statemen Ismail Yusanto tersebut tidak ada yang salah, hanya saja kurang lengkap.

“Khilafah yang berhasil mewujudkan peradaban Islam adalah khilafah dari era Khulafaur Rasyidin sampai Turki Usmani, bukan Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah,” tegas Ayik.

Ketua Divisi Riset DPP Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia) itu mengatakan, bahwa era Khilafah yang dimaksud Ismail Yusanto dan Hizbut Tahrir berbeda dengan khilafah yang sudah pernah ada dan juga telah tumbang, peradaban Islam yang pernah ada sudah hancur lebur.

“Peradaban yang dibangun Khilafah Umayyah dihancurkan oleh Khilafah Abbasiyah. Peradaban yang diwujudkan oleh Khilafah Abbasiyah dihancurleburkan oleh Tentara Mongol. Peradaban Islam yang diciptakan Khilafah Turki Usmani luluh lantak di tangan negara-negara Eropa terutama Inggris, Perancis, Rusia dan Italia. Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah belum pernah mewujudkan peradaban islam yang gemilang dan belum pernah hancur,” tuturnya.

Oleh karena itu, memandang dari berbagai penjelasannya yang telah diutarakan, Ayik menyatakan bahwa Khilafah Islamiah ala Ismail Yusanto dan Hizbut Tahrir sangat bermasalah.

“Argumen pertama Muhammad Ismail Yusanto dalam membela Khilafah Tahririyah Yusanto-iyah, sudah bermasalah dan sangat menjijikan,” tutupnya. [instf]