-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Heboh Transgender Kendal: Dulu Cantik Berkerudung, Kini Berjambang Lebat

Heboh Transgender Kendal: Dulu Cantik Berkerudung, Kini Berjambang Lebat

NUSAWARTA - Belakangan jagat maya digegerkan dengan kisah transgender asal Kendal, Jawa Tengah. Transgender itu bernama Amar Al-Fikar.

Kisah itu diungkal transgender asal Kendal tersebut di akun Twitter-nya, hingga menyita banyak perhatian publik.

Dalam kisahnya, Amar bercerita kalau sewaktu lahir pada 29 tahun lalu, dia adalah seorang perempuan. 

Kedua orangtuanya memanggil dia dengan nama Amalia. Dia besar di lingkungan pondok pesantren. Di mana kedua orangtuanya lah yang mengelola pondok pesantren tersebut.

Namun, Amalia kecil mengaku kesulitan menceritakan apa yang dia alami. Karena dia sering kesulitan menempatkan ekspresi gender dan kondisi biologisnya sebagai perempuan. Alhasil, ketika itu dia lebih sering mengenakan pakaian laki-laki.

Bukan cuma itu saja, dia juga acap tidur di kamar santri putra di pondok pesantren milik orangtuanya. Kian umur bertambah, kian sulit juga bagi Amalia kecil untuk menyesuaikan dirinya.

Sebab sosoknya justru kian digambarkan sebagai seorang perempuan. Padahal, perilaku dan sikap nyaris sebagai laki-laki.

Mulai Sakiti Diri Sendiri

Mentalnya semakin tertekan saat duduk di SMP. Dia tak lagi bebas memakai baju. Untuk urusan pakaian, transgender asal Kendal ini dipaksa untuk mengenakan jilbab.

Disitat JPNN, Senin 17 Agustus 2020, Begitu pula untuk urusan tidur, mesti di tempat santri putri. Alhasil, kadung stres, dia lantas mulai menyakiti dirinya sendiri.

“Saya nggak memahami apa yang saya rasa. Waktu saya disuruh tidur di kamar santri putri dan memakai jilbab, saya sering memecahkan kaca. Selain itu, melukai tangan tangan dengan silet, pokoknya destruktif sekali karen tertekan,” kata dia bercerita.

Dia terus saja bingung tentang identitasnya. Amalia kecil terus merasa berbeda dengan sosok perempuan.

“Saya dari dulu merasa berbeda, apa dan siapa sebenarnya saya. Pas SMA terkaburkan rasanya, karena saya ikut banyak kegiatan. Tetapi rasanya (krisis identitas) enggak hilang-hilang,” katanya.

Yakini Dirinya Lelaki


Kehidupan transgender asal Kendal ini berubah usai duduk di bangku kuliah. Dia mulai merasa mulai menemukan siapa dia sebenarnya. Dari buku yang banyak dia baca di perpustakaan, dia mulai bertemu dengan cakrawala baru, tentang keberagaman gender, identitas seksual, dan juga Islam.

“Saya enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Hingga pada saat kuliah, wawasan saya semakin terbuka. Saya membaca buku tentang keberagaman, gender, Islam, identitas, seksualitas. Dan di situ saya menemukan muaranya,” kata dia.

Berbagai buku dan wawasan baru membuatnya tak lagi ingin berlari dari pertanyannya. Rasa ingin tahu untuk menemukan dirinya, semakin membuncah.

Di tanah suci, tahun 2012, dia menitipkan keresahannya, melangitkan doanya, meminta agar Tuhan memberi petunjuk tentang pertanyaanya, tentang identitas dirinya.

Doanya diijabah. Dia memberanikan diri mencari psikolog. Lantaran psikolog di kota asalnya terbatas, Amar memutuskan pergi ke Semarang hingga Jogjakarta.

Menemukan psikolog tak semudah membalik telapak tangan bagi sosok seperti Amar. Butuh dua tahun untuk mencari bantuan yang memberikan bimbingan bagi pertanyaanya. Sejumlah psikolog justru membuatnya semakin tersesat. Hingga di 2016 dia menemukan bantuan atas masalahnya.

“Sejak 2014 tiga kali bertemu psikolog, dari Kendal ke Semarang dan Jogjakarta. Sayangnya mereka transphobic dan justru menceramahi saya. Pada 2016 di Jogjakarta, Alhamdulillah akhirnya bertemu psikolog yang bisa mengidentifikasi masalah saya,” tuturnya.

Amar pun menjalani observasi selama enam bulan. Hasilnya, dia didiagnosa mengidap dysphoria gender. Yaitu, kondisi di mana identitas gender tidak sesuai dengan genitalia.

Amar merasa lega, pertanyaannya selama ini terjawab sudah. Amar lantas menjelaskan keadaannya kepada kedua orang tua.

Dukungan Orang Tua


Transgender asal Kendal ini bersyukur karena Ayah dan Ibunya menghargai pilihan dia. Meski sebelumnya terjadi perdebatan yang tak berujung, baik Amar dan orang tuanya memilih bertemu di titik tengah.

“Saya bersyukur karena mereka masih menganggap saya sebagai anak dan memperhatikan hak-hak saya. Saya tidak diusir, ibu saya juga lega karena saya sudah mau cerita,” ujarnya.

Tentu bukan hal mudah menerima kondisi Amar. Ayah dan ibunya adalah Kiai dan Bu Nyai, pengasuh pondok pesantren. Ibunya sering menerima cemoohan tentang kondisi anaknya.

Dan kini, Amalia yang dulu memakai kerudung, telah bertransformasi menjadi Gus Amar, berkopiah dengan jambang lebat di wajahnya. Amar pun tak henti meyakinkan dan memberi pemahaman. Amar menjelaskan jika yang dilakukannya diakui dan dihargai dalam Islam.

“Saya dengar penjelasan kiai kalau yang dilihat Allah itu ketakwaan kita, bukan gender kita. Saya juga sering diskusi dengan tokoh Islam yang humanis dan menghargai keberagaman. Orang tua saya sendiri alhamdulillahnya tidak memaksa pun menyerang,” kisahnya. [hps]