-->

Breaking

logo

August 17, 2020

"Intoleransi, BUMN Dan Bagaimana Makna Kemerdekaan Sejati Itu?"

"Intoleransi, BUMN Dan Bagaimana Makna Kemerdekaan Sejati Itu?"

SEWORD - Bagaimana memaknai kemerdekaan ke-75 tahun ini? Jika masih banyak kejanggalan yang terjadi dari hari ke hari.

Kasus intoleransi masih marak. Ada yang mengaku mencintai NKRI tetapi di sisi lain melakukan tekanan dan kebencian kepada kelompok minoritas.

Meskipun ormas intoleran sudah di-perppu-kan sebagai ormas terlarang, tetapi ideologinya masih marak. Mereka teriak kemerdekaan juga, tapi anehnya pernah berkata bahwa itu tidak ada dalilnya, maka kemerdekaan yang dimaksud adalah tegaknya khilafah? Lelucon konyol apa ini.

Bagaimana memaknai kemerdekaan jika mereka dipiara elit? Ada buktinya? Kalau mereka masih eksis dan bebas menyebarkan kebencian, dengan kekayaan logistik yang melimpah, apakah ini bukan adanya indikasi ke arah itu? Bukankah negara dan pemerintahan punya wewenang tanpa beban memberanguskan ideologi horor itu?

Gonjang-ganjing politik bisa melahirkan banyak sifat-sifat anjing, bagaimana bisa memaknai kemerdekaan itu jika gonggongan itu adalah sebuah arahan?

Luar biasa hiruk pikuk politik di negeri ini. Pertarungan habis-habisan tetapi kemesraan kalangan atas membuat para pendukungnya banyak kuciwa? Inikah demokrasi? Atau sebuah kompromi?

Bagaimana memaknai kemerdekaan saat ini jika ada banyak yang mengaku pancasilais tapi nilai-nilai pancasila seperti mengambang di awan-awan? Menjadi pembahasan teoritis tanpa aplikasi nyata?

Kekayaan alam dikelola negara untuk kesejahteraan semua rakyat Indonesia, bunyi pasal 33 UU 1945, tapi nyatanya? Sudah 75 tahun merdeka, segelintir elit jumlah kekayaannya melimpah ruah, dan tentu saja utang negara masih banyak. Bagaimana bisa memaknai ini? Ada banyak elit di negara ini yang kaya raya tapi negara utangnya akan terus bertambah?

Ahh...dulu kami sebagai relawan membela Jokowi soal utang dari serangan para kampret dan atau kadrun. Tapi di masa pandemi ini, ada banyak yang tak beres yang kami perhatikan. Oh Bapak....apa makna tanpa beban itu di periode keduamu ini? Akankah Bapak membiarkan anggaran negara "tercecer" dengan perlakuan mubazir?

Jiwasraya adalah tantangan kemerdekaan. Jika semua yang terlibat dan bertanggungjawab, boleh dikatakan benar-benat merdeka. Namun sebaliknya, justru jika ada nama tenar yang terlibat tapi terlindungi, apalah makna merdeka itu? Oh...jika ada elit yang terlibat tapi tak diringkus, maka penjajahan bisa saja masih berlangsung.

Apalah makna merdeka jika masa pandemi ini bukan menjadi ajang perjuangan untuk bangsa namun hanya menjadi ajang menggasak anggaran demi kepentingan kekuasaan 2024? Tidakkah pembaca melihat keanehan-keanehan itu?

Bagaimana bisa obat yang diklaim unair sebagai obat covid-19 tetapi belum teruji secara komprehensif mau dipatenkan di BPOM? WHO saja sudah menghentikan obat ini, dan bukan solusi covid. Kenapa minta segera dipatenkan? Apakah ini terkait anggaran?

Belum lagi soal vaksin yang nantinya akan kita saksikan keanehannya. Kemerdekaan itu bukan cuma sebuah lagu yang membanggakan secara simbolik yang dinyanyikan beramai-ramai. Tapi kemerdekaan adalah hakikat kemanusiaan suatu bangsa, yang seharusnya meruntuhkan egoisme dan segala kepentingan pribadi maupun golongan demi kepentingan bersama, Indonesia Raya.

Kemerdekaan bukan wacana politik yang seenaknya dipergunakan segelintir elit yang merasa telah berkeringat berjuang pada musim kampanye pilpres 2019.

Kemerdekaan sejati itu bukan hanya wacana yang didengungkan oleh elit pejabat yang merasa paling berakhlak, tapi nyatanya semua ada proses transaksi hingga bisa mendapatkan posisi penting.

Entah bagaimana bisa memaknai kemerdekaan yang sudah berumur tua ini? Sudah 75 tahun dinyatakan merdeka, tetapi ketimpangan bukannya akan redup tapi malah akan makin merengang.

Apakah kehadiran BUMN dengan logo barunya mampu menghadirkan kesejahteraan yang berkeadilan sosial? Atau hanya mensejahterahkan orang-orang tertentu saja? Jika kemelut soal jumlah PHK dan sistem penempatan Komisaris dan Dirut masih dipertanyakan, apakah sesuai dengan kapabilitas ataukah kepentingan politis?

Oh..jiwasraya. Berapa kali lagi peringatan hari kemerdekaan bangsa ini digaungkan sampai menemukan titik terang kasusnya? Apakah sampai lebaran kuda? Atau memang tak akan terungkap seiring kaburnya makna kemerdekaan?

Aku khawatir jika esok lusa generasi muda yang ada saat ini ditanya "Sebutkan isi Pancasila" Lalu dijawab "Pancasila....ehhh...itu...ehh..apa ya?"

Bukannya mereka tidak bisa menghafal, tapi bosan hanya diucapkan saja sedangkan tidak diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, khususnya point "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Karena sebagian besar elit politik hanya mementingkan cara menggasak anggaran negara, tak peduli negara berutang lagi dan lagi.

Aku dan mungkin para sahabat pun akan khawatir, bahwa peranan mafia anggaran memang sangat besar dan cepat gerakannya dalam memberanguskan ideologi bangsa ini lewat cara-cara bulus. Apakah 75 tahun kemerdekaan tetap menjadi kebanggaan atau justru penjajahan akan makin mencengkram negara ini dengan topeng-topeng bahasa kemajuan atau bahasa-bahasa kehebatan lainnya? Bahkan bahasa agama pun dilibatkan? Atau menggunakan bahasa akhlak?

Wallahualambishohwab. Lagi-lagi hanya pada Tuhan menyerahkan semua ini setelah bersuara keras dan lantang. [seword]