-->

Breaking

logo

August 16, 2020

Janji Dai Nippon Kepada Indonesia Tak Terwujud

Janji Dai Nippon Kepada Indonesia Tak Terwujud
NUSAWARTA - Amerika Serikat (sekutu) menjatuhkan bom atom pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima dan 9 Agustus di Nagasaki. Dua kota yang terletak di Jepang (dulu Dai Nippon) itu kemudian hancur luluh seketika.

Tak lama kemudian tepatnya 15 Agustus 1945, Pemerintah Dai Nippon saat itu secara resmi menyerah kepada sekutu dan sekaligus menandai berakhirnya perang dunia kedua. 

Dai Nippon yang saat itu masih menjajah kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia sempat membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dai Nippon rupanya punya tujuan ingin meyakinkan dan mendukung penuh keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka. 

Mereka kemudian mengundang  Sukarno, Muhammad Hatta, dan KRT  Radjiman Wedyodiningrat untuk bertemu perwakilan Dai Nippon  di Dalat, Vietnam pada 12 Agustus 1945. Pertemuan itu bertujuan untuk membahas rencana penyerahan kemerdekaan.

Ketiga tokoh Indonesia itu kemudian bertemu dan berbicara langsung dengan Field Marshal (Marsekal) Hisaichi Terauchi, panglima militer tertinggi Kekaisaran Jepang mereka di kawasan Asia Tenggara. 

Tiga hari kemudian atau pada 15 Agustus 1945, Dai Nippon menyatakan kalah perang dan menyerah kepada Sekutu. Akhirnya kemerdekaan Indonesia secara resmi diproklamirkan 17 Agustus 1945 atau 2 hari setelah Jepang menyerah kepada sekutu. 

Sebelumnya, pada 9 Agustus 1945 malam, pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia segera bergerak, menerbangkan tiga tokoh PPKI yakni Sukarno, Hatta, dan Radjiman ke Kota Dalat, Vietnam. Perjalanan dengan memggunakan pesawat udara dari Indonesia menuju Vietnam sebenarnya tidak terlalu jauh, namun tetap saja berisiko dan berbahaya karena saat itu dalam situasi perang. 

Pesawat yang mengangkut rombongan dari Indonesia itu sempat mendarat di Singapura untuk transit dan mereka akhirnya menginap semalam. Penerbangan dari Singapura menuju Vietnam kemudian dilanjutkan pada 10 Agustus 1945. 

Rombongan kemudian mendarat dengan di Kota Saigon (sekarang Ho Chi Ming City) Vietnam. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kota Dalat. Dalam buku Mohammad Hatta: Memoir (1979), Hatta menjelaskan bahwa jarak antara Saigon ke Dalat kira-kira sejauh 300 kilometer (km) ke arah utara.

Rombongan dari Indonesia kemudian bertemu dengan Marsekal Terauchi.  Saat itu Marsekal Terauchi meyampaikan maksudnya dan berencana akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia saat itu. 

Terauchi menyampaikan pesan kepada Sukarno, Hatta, dan Radjiman, bahwa kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh segera dinyatakan, tergantung kinerja PPKI. 

Terauchi menyampaikan kepada ketiga tokoh itu bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945 (hlm. 74). Keterangan tersebut berdasarkan buku Pendudukan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1991) yang ditulis A.J. Sumarmo,

Terauchi beralasan diperlukan waktu untuk melakukan berbagai persiapan sebelum proklamasi kemerdekaan. Sukarno dan kawan-kawan saat itu menyatakan sepakat dengan tawaran Terauchi. Sebenarnya, harapan rencana pemberian kemerdekaan yang dijanjikan akan diberikan 24 Agustus 1945 kepada Indonesia itu hanya merupakan “harapan palsu” dari Dai Nippon.

Dai Nippon jelas tidak ingin Indonesia merdeka, namun situasi mereka dalam di Perang Asia Timur Raya (Pacific War) posisi Dai Nippon semakin terdesak. Terauchi masih berharap Jepang mampu membalikkan keadaan dan bangkit dalam perang melawan sekutu, dengan demikian mereka tidak perlu memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. 

Tahun sebelumnya atau tepatnya pada pertengahan 1944, Dai Nippon juga pernah menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada negara-negara jajahan mereka. Hal itu dilakukan Dai Nippon setelah mereka banyak mengalami kekalahan dalam perang Pasifik melawan sekutu. 

Tujuan Jepang menjanjikan kemerdekaan itu sebenarnya hanyalah strategi mereka ingin menarik simpati rakyat Indonesia dengan harapan mendapatkan bantuan jika musuh (sekutu) sewakt waktu datang menyerang. Tujuan lainnya, Dai Nippon bermaksud ingin memperkuat posisi politik dan militer mereka di kawasan Asia Tenggara.

Melalui Deklarasi Koiso pada September 1944, Kekaisaran Jepang mengumumkan akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Kabar ini disambut dengan suka-cita oleh Sukarno dan kawan-kawan ketika itu. 

Di satu sisi, Dai Nippon tentu saja tidak ingin kehilangan Indonesia, tapi di sisi lain, situasi mereka di Perang Asia Timur Raya semakin terdesak. Jepang pun akhirnya mengaku kalah dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 15 Agustus 1945. 

Dua hari setelah penyerahan Jepang kepada sekutu atau tepatnya pada 17 Agustus 1945, Soekarno kemudian membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan didampingi Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh nasional lainnya.

Janji hamya tinggal janji, iming-iming rencana pemberian kemerdekaan dari Pemerintah Dai Nippon yang akan diberikan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945 itu pun tak pernah terwujud. [rri]