-->

Breaking

logo

August 19, 2020

Jejak 'Dahsyat' Benny Mamoto, Dari Densus ke Kompolnas

Jejak 'Dahsyat' Benny Mamoto, Dari Densus ke Kompolnas

NUSAWARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD telah menunjuk Benny Jozua Mamoto sebagai Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). 

Dengan demikian, Benny tidak hanya menjalankan sebagai anggota, tetapi sebagai ketua harian Kompolnas.

Penunjukan ini dilakukan setelah Mahfud dilantik sebagai Ketua Kompolnas di Istana Negara, Jakarta, Rabu pagi(19/8).

"Kita meminta Bapak Benny Jozua Mamoto untuk menjadi dalam jabatan resmi di Keppres namanya sekretaris Kompolnas, tapi kita akan mengubahnya menjadi ketua harian," kata Mahfud, Rabu (19/8).

Benny terpilih sebagai anggota Kompolnas usai mengikuti proses seleksi. Purnawirawan polisi berpangkat inspektur jenderal ini lolos dalam proses seleksi Kompolnas mewakili unsur pakar kepolisian.

Dalam perjalanan kariernya, lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini banyak bertugas di bidang reserse. Benny pernah menjadi penyidik di Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri hingga Wakil Sekretaris NCB-Interpol Indonesia.

Kinerjanya yang dinilai baik membuat Komisaris Jenderal (Purn.) Gories Mere mengajaknya bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN). Kala itu Gories menjabat sebagai Kepala BNN.

Benny pun menjadi Direktur Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2009 hingga 2012. Ia kemudian menjadi Deputi Pemberantasan Narkotika BNN selama setahun sejak 2012 sampai 2013.

Benny dikenal banyak menangani kasus besar saat bertugas di Polri maupun BNN.

Ia pernah menangani kasus pembobolan BNI senilai Rp1,7 triliun, penyidikan kasus BLBI, hingga memimpin pengungkapan kasus mafia narkoba Freddy Budiman.

Setelah pensiun dari tugasnya di BNN, Benny aktif menjadi dosen dan mengajar di sejumlah universitas termasuk di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

Pada 2015, Benny Mamoto sempat menjadi calon gubernur Sulawesi Utara. Dia berpasangan dengan David Bobihoe namun kalah.

Benny juga sempat terjun di bidang politik dengan bergabung di Partai NasDem. Saat itu ia dicalonkan dalam pemilihan anggota legislatif dari daerah pemilihan Sulawesi Utara pada Pemilu 2019.

Namun ia kemudian mundur dari NasDem pada Desember 2019 sebagai syarat untuk mengikuti seleksi Kompolnas. Sesuai syarat, calon Kompolnas bukan anggota partai politik. [cnn]