-->

Breaking

logo

August 23, 2020

Keinginan Anies Cat Atap di Flyover Tapal Kuda Dinilai Kebijakan Pencitraan

Keinginan Anies Cat Atap di Flyover Tapal Kuda Dinilai Kebijakan Pencitraan

NUSAWARTA - Pengamat tata kota menyebut keinginan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengecat atap rumah di kawasan flyover tapal kuda, Lenteng Agung, Jakarta Selatan hanya kebijakan pencitraan. Tidak ada dampak lain yang mengubah kehidupan di masyarakat.

"Kebijakan itu sebetulnya, untuk branding saja, untuk pencitraan kota. Ini ada icon bagus loh. Ini sangat dipengaruhi untuk kepentingan citra kota, atau media sosial, atau kepentingan yang lagi trending sekarang. Tapi nilai manfaat hanya sesaat, foto bagus lalu apa? Kita harus lihat suatu kebijakan punya outcome. dan impact," ucap pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, saat dihubungi, Sabtu (22/8/2020).

Yayat menyebut, kebijakan untuk menghias kawasan pemukiman juga dilakukan oleh darah lain. Namun, menghias atau mewarnai kota dilakukan untuk mengubah pemukiman kumuh.

"Surabaya ada warga cat rumah warna-warni, Semarang ada, Malang ada tembok dicat warna-warni. Dari objeknya, itu kampung kumuh agar terlihat cantik," kata Yayat.

"(Pemukiman di flyover tapal kuda) itu perumahan normal di tapal kuda itu. Itu perumahan bukan perumahan kumuh, perumahan normal, ada bisnisnya, ada rumah yang katanya permanen, lantai dua," ucap Yayat.

Menurut Yayat, kebijakan mengecat atap rumah sekitar jalan layang tapal kuda tidak memiliki dampak lain selain soal foto bagus. 

Padahal, kebijakan yang baik seharusnya memiliki dampak lebih besar kepada masyarakat.

"Foto dapat, tapi foto ini manfaatnya apa? harusnya ketika buat kebijakan, kebijakan unggulan, jika kebijakan memberikan manfaat bagi masyarakat. Rencanakan, ada anggaran, dan terasa dari input, proses, output, dan outcome. Kalau foto output foto, tapi tidak beri outcome dan impect. hanya output saja," ujar Yayat.

Yayat juga menyinggung soal kebijakan pemotongan atap di jembatan penyeberangan orang (JPO) Jalan Jenderal Sudirman. Menurutnya, kebijakan itu hanya pandangan selera dari Anies Baswedan.

"Nah, ini sesuatu tidak ada dalam rencana (kebijakan), tetapi kebijakan ini ide sepintas. Misalnya melihat, menurut pandangan atau persepsi beliau bagus. Contoh waktu JPO atap dipotong, itu kan muncul karena melihat posisi, posting foro bagus, tapi hilangkan fungsi kanopi (atap). Sekarang kalau ingin cat, ini pekerjaan untuk siapa?" ujar Yayat.

Hal senada pun diungkapkan oleh pengamat tata kota lain dari Universitas Trisakti Nirwono Joga. Nirwono menyebut Anies beberapa kali membuat kebijakan yang mementingkan estetika.

"Ini menunjukan kemampuan dalam menata kota lebih pada segi esetikanya bukan menyelesaikan masalah pada substansi. Contoh yang dikerjakan bukan substansi, contoh mundur dikit ke JPO (Jalan Sudirman), JPO dipotong, itu kan tidak esensi, tidak ada pentingnya kebijakan, istilahnya kan dengan iklim tropos," kata Nirwono.

Soal penataan di flyover tapal kuda, dia menyebut, sebaiknya yang lebih utama dipikirkan oleh Anies adalah mengatasi masalah kemacetan. "Flyover kan pasti akan macet kalau diujungnya, turunan jalur lebar jalan jadi sempit. Itu yang harusnya diperhatikan," ucap Nirwono.

Diketahui, permintaan agar rumah warga di sekitar flyover Tapal Kuda dicat seragam diutarakan Anies saat memimpin rapat progres pembangunan simpang tak sebidang. Penyeragaman warna cat rumah dimaksudkan agar pemandangan di sekitar flyover lebih cantik.

"Enak betul warnanya begini (genting warga). Jangan dong. Kita yang tentukan warnanya apa. Kita sumbang kepada mereka," ujar Anies dalam siaran YouTube Pemprov DKI Jakarta, seperti dilihat detikcom, Kamis (20/8).

Anies bahkan langsung memerintahkan Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali membicarakan rencana pengecatan rumah itu dengan warga sekitar flyover. Anies yakin flyover Tapal Kuda akan menjadi flyover model U-turn pertama di Indonesia.

"Nanti ini akan begini terus fotonya (flyover Tapal Kuda) bertahun-tahun ke depan. Walkot bicarakan dengan rumah-rumah di sini, gentingnya dicatin semua, Pak. Jadi kita obrolin dari sekarang," kata Anies.

"Bapak-Ibu sekalian harus melihat ini (flyover Tapal Kuda) sebagai ikon untuk Indonesia, bukan hanya ikon untuk Jakarta. Jadi jangan pernah nanggung," imbuhnya. [dtk]