-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Kekhawatiran Seorang Haji Agus Salim Setelah Kemerdekaan Indonesia

Kekhawatiran Seorang Haji Agus Salim Setelah Kemerdekaan Indonesia

NUSAWARTA - Cucu Haji Agus Salim, Agus Tanzil Sjahroezah menceritakan bahwa pejuang H. Agus Salim merupakan sosok yang sangat cerdas dan tidak takut kepada siapapun.

"Kalau di islam itu namanya berislam secara total, beliau hanya takut sama Allah. Jadi, enggak ada yang dikhawatirin sama sekali," ucapnya ketika berdialog khusus bersama RRI jelang Hari Raya Kemerdekaan, beberapa hari yang lalu.

Dulu, katanya, saat Agus Salim bekera di surat kabar ia pernah menyinggung pemerintah hindia belanda. Kemudian, pemilik surat kabar mengatakan bahwa artikel yang ia tulis tidak boleh dimuat, jika nekat dimuat makan Agus Salim akan diberhentikan dari pekerjaannya.

"Waktu beliau bekerja di surat kabar, apa yang menjadi pemikirannya, apapun itu ditulis. Dia tidak peduli soal bahwa itu akan menyinggung pemerintah hindia belanda. Kadang-kadang pemilik surat kabar itu mengatakan bahwa tulisannya nggak boleh dimuat, terus dibilang, 'kalau kamu muat juga, kamu akan diberhentikan'. Yaudah dia berenti, dia tidak perduli," paparnya.

"Keyakinan dia seperti itu, ia juga percaya betul bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Jadi dia harus jaga prinsipnya," sambungnya.

Selain itu, lanjutnya, Agus Salim pernah ahrus pindah rumah karena penghasilannya kurang. Oleh sebab itu, ia pindah ke tempat tinggal yang jauh lebih kecil. Saat pindah, rumahnya sering bocor, tetapi ia salut bahwa Agus Salim tidak pernah mengeluh akan kondisi tersebut.

"Waktu rumahnya bocor dan hujan lebat, dia ambil ember, ember besar. Lalu, dia bikin kapal-kapalan pake kertas kemudian diajak anaknya main kapal-kapalan. Jadi enggak ada yang tau kalau itu sengsara karena rumah bocor," ceritanya seraya mengenang.

Kekhawatiran politik pecah belah

Ia mengatakan, Agus Salim dan para Founding Fathers sudah memprediksi soal keadaan Indonesia jauh ke depan. Dibuku Agus Salim dikatakan bahwa dirinya khawatir jika partai politik (parpol) bukan digunakan untuk pendidikan politik anggotanya, melainkan dijadikan kendaraan untuk menuju kekuasaan.

"Sebetulnya dia mengharapkan partai politik itu adalah alat pendidikan politik untuk rakyat yang menjadi anggota partai politiknya supaya mengerti dan memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Tapi, yang dikhawatirkan itu kalau kemudian parpol dijadikan kendaraan politik bagi si pimpinannya," jelas pria yang akrab disapa Iwong.

Para founding fathers, lanjutnya, sudah mengatakan jika ingin mewujudkan adil dan makmur, setiap orang harus mengatur kehidupannya sendiri. Untuk itu, para founding fathers selalu memperjuangkan kemerdekaan agar tidak terjadi pecah belah.

"Mereka (Founding fathers, red) sudah mengatakan bahwa untuk mewujudkan adil dan makmur kita harus mengatur kehidupan kita sendiri. Karenanya apa? Mereka terus memperjuangkan kemerdekaan, jadi kalau liat pembukaan UUD 1945, merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ya diharapkan politik devide et impera (politik pecah belah, red) tidak bisa berjalan," katanya.

"Kalau dulu kerajaan bisa dipecah dengan politik adu domba dari Belanda, begitu merdeka harusnya enggak bisa. Cuma dengan globalisasi, segala macam cara akhirnya kita bisa juga dipecah belah," pungkasnya. [rri]