-->

Breaking

logo

August 30, 2020

Kembali Panas, Chintya Candaranaya Tantang Balik Mereka yang Tuduh Aksinya Editan

Kembali Panas, Chintya Candaranaya Tantang Balik Mereka yang Tuduh Aksinya Editan

NUSAWARTA - Pesilat wanita asal Lampung, Chintya Candrana membeber 10 fakta terkait polemik yang terjadi antara dirinya dengan  Gerakan #BeladiriBersatu.

Dalam beberapa waktu belakangan ini, dunia beladiri nasional dihebohkan dengan barisan #BeladiriBersatu yang menyebut kesaktian Chintya dalam konten-kontenya di media sosial hasil editan, alias palsu.

Gerakan yang digawangi beberapa petarung papan atas Indonesia seperti Theodorus Ginting, Suwardi, Rudy Agustian, hingga Mustadi Anetta sempat mendatangi markas Chintya di Lampung pada 8-9 Agustus 2020.

Namun, Chintya tak hadir dan malah mengirim beberapa kuasa hukum untuk menemui Theodorus Ginting cs. Karena itulah, rumor tentang kepalsuan aksi-aksi Chintya semakin kuat.

Sebab, ketika Gerakan #BeladiriBersatu ingin melihat secara langsung, Chintya tak bisa menunjukkanya. Chintya sebelumnya sudah mengungkapkan jawabanya terkait tidak bersedia untuk menemui Gerakan #BeladiriBersatu.

Melalui sang manajer, Anjar Weni mengatakan #BeladiriBersatu datang ke Lampung tanpa ada undangan dari pihak mereka. Kemudian, #BeladiriBersatu juga mengingkari kesepakatan untuk bertemu masing-masing tim lima orang.

Kini, Chintya kembali buka suara untuk meluruskan polemik yang berkepanjangan ini. Sang pesilat wanita ini mengatakan orang-orang yang telah menuduhnya melakukan pembohongan tidak memiliki bukti yang jelas.

"Menurut saya, jika video saya itu adalah editan, tolong tunjukkan bagaimana yang bukan editan itu. Harusnya, pembuktian itu dimulai dari oknum yang menyimpulkan itu adalah editan," kata Chintya di akun Youtube-nya.

"Oknum tersebut juga harus bisa membuktikan yang bukan editan secara jelas dan nyata agar tidak terjadi penyimpangan dan fitnah seperti yang tersebar sekarang ini," sambungnya.

Chintya juga menyayangkan banyaknya video-video yang seolah-olah membongkar kebohongan dalam aksinya. Menurut Chintya, harusnya orang-orang tersebut memberikan pembuktian dengan aksi serupa jika apa yang dilakukannya editan.

"Menggunakan alasan pembodohan publik dan menyudutkan saya. Sebenarnya menurut saya jika itu adalah editan dan pembodohan publik, seyogyanya tunjukkan dengan tindakan," ucapnya.

"Jadi bisa menjadi nilai rujukan yang jelas, bukan mengubah-ubah video yang sudah ada jadi dibuat seolah editan yang justru memperuncing ke pembohongan publik," tegasnya. [viva]