-->

Breaking

logo

August 16, 2020

Kisah Laskar Hizbullah Lawan Penjajah, Tentara Belanda Terserang Gatal saat Masuk Masjid

Kisah Laskar Hizbullah Lawan Penjajah, Tentara Belanda Terserang Gatal saat Masuk Masjid

NUSAWARTA - Deretan bus tentara Jepang berjejer rapi di depan Jam Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat untuk bersiap berangkat menuju Padang.  Saat itu, Ali Makjunar masih berusia 15 tahun. Pria yang kini berusia 91 tahun ini masih ingat peristiwa tahun 1944 atau 76 tahun silam.

Kala itu, dia sibuk mengangkat barang-barang milik penumpang termasuk beberapa perwira tentara Jepang untuk menaiki bus yang berangkat menuju pelabuhan Emmna Haven (Teluk Bayur sekarang) Padang sebagai markas Jepang di Padang dan sekaligus pelabuhan para tentara Jepang.

Ali ditugaskan oleh komandan menjadi kurir untuk Badan Keamanan Indonesia (BKR) atau sekarang Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyamar sebagai kenek bus (kondektur). Tugas utamanya adalah melaporkan basis tentara Jepang, dimana markasnya, dimana posisi letak senjata dan jam berapa beroperasi, kemudian hasilnya itu dilaporkan kepada komandannya.

“Saat itu saya ditugaskan Kapten Bur, saya tidak ingat nama lengkapnya untuk menjadi kurir atau mata-mata untuk Jepang. Saat itu diperintahkan saya sebagai kenek bus Jepang dari Bukittinggi ke pelabuhan Emmna Haven (Teluk Bayur). Saya harus memberi laporan kepada komandan saya dimana posisi Jepang atau markasnya, senjatanya, berapa banyak pasukan, berapa besar senjata serta jam berapa mereka beroperasi,” tuturnya pada Okezone, Jumat (14/8/2020).

Sesampai di Pelabuhan Emmna Haven tersebut, Ali melakukan pengintaian dengan cara menyamar sebagai kenek bus dan mangkal di Gaung yang lokasinya dekat dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Kemudian Ali naik ke Bukit Gaung untuk memantau berapa banyak kapal perang milik Jepang.

“Dulu mana pernah ada teropong untuk melihat kapal-kapal perang Jepang, yang jelas pada saat itu hanya melihat dengan kasat mata, kemudian hasil dari pengintaian saya melapor kepada komandan di Padang bernama Serma Sumanijar di Bungus Teluk Kabung sebagai markas tentara,” ungkapnya.

Sebenarnya saat itu Ali tidak sendirian melakukan pengintaian, ada dua orang lagi temannya yang ditugaskan Kapten Bur. “Kami itu bertiga melakukan tugas tapi kami berpencar. Tidak ingat lagi nama-nama mereka, kami semua melakukan pengintaian dengan cara menyamar,” tuturnya.

Sampai tentara Jepang hengkang dari Indonesia begitulah tugas yang dilakukan Ali pada saat itu. Orang Jepang tidak mencurigainya, selain dia suka menyanyi dalam bahasa Jepang dia juga suka membuat humor . “Orang Jepang tidak curiga sama saya, kadang-kadang di dalam bus saya bernyanyi dengan bahasa Jepang kadang membuat kelucuan itulah cara saya menyamar,” ceritanya.

Kemudian setelah Jepang pergi dan Belanda kembali masuk Ali kembali bergabung dengan pasukannya di Surian. Ali menjadi pasukan melawan penjajah Jepang dan Belanda itu sejak tahun 1943, saat itu dia bergabung dengan laskar hizbullah.

“Ada satu pleton kami bergabung pada saat itu, kemudian kami latihan bersama dan melawan tentara Jepang, satu tahun berikutnya saya ditugaskan menjadi kurir,” ucapnya.

Setelah Jepang menyerah pertempuran masih terjadi antara pasukan Indonesia dengan Belanda, puncak pertempuran terjadi pada saat agresi Belanda pada tahun 1948.

“Kami bergerilya Padang, Bukittinggi, Pesisir Selatan, Solok, Dhamasraya. Saya sudah tidak ingat lagi sebab perang-perang kecil sering terjadi, saat itu kami hanya memakai senjata peninggalan Jepang arisaka,” ungkapnya.

Puncak peperangan saat Belanda memasuki daerah Muara Labuh saat ini ibu kota Kabupaten Solok Selatan. “Kami menghadang rombongan pasukan Belanda dari bukit-bukit, biasanya kami mendirikan posko pengintaian di perbukitan di atas kayu, dari sana saya melempar granat buatan Jepang ke arah gerombolan pasukan Belanda,” tuturnya.

Untuk ukuran granat peninggalan Jepang ini lebih besar dari granat milik Amerika. “Saya cabut pelatuknya sekitar lima menit kemudian baru dilemparkan, kalau punya Amerika lebih kecil cabut pelatuknya langsung dilempar tapi kalau milik Jepang tunggu sebenar dulu baru dilempar. Saat itu banyak tentara Belanda yang mati,” tuturnya.

Masih pada tahun 1949, Laskar Hizbullah yang ikut berperang bergabung dalam Gabungan Tentara Indonesia (GATI) yang kemudian Ali menjadi pasukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Aksi heroik yang mereka lakukan pada saat itu adalah memasang ranjau tumbuhan dalam masjid, saat pasukan Belanda melakukan operasi di dalam masjid mereka akan gatal-gatal.

“Kami memakai perangkap daun jelatang hutan di sekitar masjid termasuk dalam masjid. Jika mereka masuk mereka akan menyentuh daun itu dan mereka akan gatal-gatal dan akhirnya mereka tidak berani datang,” ucapnya.

Setelah agresi Belanda selesai, Ali Makjunar bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat pangkat terakhir adalah Sersan Satu. “Panggilan terakhir saya itu dua bengkok kuning,” tuturnya.

Tugas yang diemban pada saat itu mengawal presiden darurat dalam masa Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI). “Kami saat itu bergabung bersama dengan presiden darurat Syafrudin Prawiranegara bersama pasukan lainnya,” ucapnya.

Kini setelah kemerdekaan, Ali Makjunar yang tinggal di Jambi ini kerjanya membantu mengobati orang yang sakit. Saat dia jadi tentara dulu, sering belajar sama orang pintar, mulai dari pawang hujan sampai mengobati gatal-gatal dan kurap.

“Saat itu ilmu itu dipakai saat berperang melawan musuh. Kini dipakai untuk mengobati orang sakit dan pawang hujan kalau ada yang mau menikah,"ujarnya.

"Saya juga tidak mematok harga, berapa yang dikasih ya terima saja, disitulah saya menggantungkan hidup sampai hari ini. Tapi saya tidak bisa mengobati corona itu urusan rumah sakit bukan pada saya datanya,” ledek Ali.

Berjuang Hidup di Hari Tua

Sudah dua minggu ini, Ali menginap di asrama veteran belakang Kantor Administrasi Veteran Dan Cadangan (Kanminvetcad) 1/27 Padang jalan Rasuna Said Padang. Kedatangannya di Padang ini untuk mengurus pengakuan pensiunan veteran.

“Dari Jambi saya kesini atas saran dari komandan disini untuk mengurus pengakuan sebagai pejuang veteran, ini masih sedang diurus nanti surat-surat ini akan dikirim ke Medan untuk ditindaklanjuti mendapat pengakuan dan pensiun,” ucapnya.

Sebenarnya pengurusan itu sudah dilakukan sejak tahun 2009, namun surat pengakuan sebagai bekas pasukan melawan Jepang dan Belanda tidak pernah muncul.

“Kemudian pada tahun ini dari seorang kapten meminta saya untuk menyerahkan kepada komandan disini menyerahkan surat-surat agar dapat pengakuan dia sebagai veteran dan mendapat hak pensiun. Kalau tidak atas saran saya tidak mau mengurusnya,” ungkapnya.

 Menurut pengetahuannya, ada temannya Bachtiar yang juga satu pasukan dengannya mendapatkan pensiun veteran, rumahnya tidak jauh dari kantor Kantor Administrasi Veteran Dan Cadangan (Kanminvetcad) 1/27 Padang. Okezone mencoba menggali informasi dari Bachtiar ini yang tinggal di Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara.

Okezone berangkat ke rumahnya bersama Ali Makjunar, namun sesampai di rumahnya ternyata Bachtiar sahabatnya itu sudah meninggal dunia pada Selasa (11/8) lalu.

Anak almarhum Bachtiar ini kenal dekat dengan Ali Makjunar karena Ali ini sering datang ke rumah Bachtiar teman saat berperang dan sempat mengobati almarhum tersebut.

Ali Makjunar harus berjuang lagi, jika sebelumnya berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia, kali ini dia harus berjuang untuk kelanjutan hidupnya. [source: okezone]