-->

Breaking

logo

August 23, 2020

Masih Tahun 2000, Ada Bom di Kejagung Saat Pemeriksaan Djoko Tjandra

Masih Tahun 2000, Ada Bom di Kejagung Saat Pemeriksaan Djoko Tjandra

NUSAWARTA -  Kebakaran di Kejaksaan Agung (Kejagung) masih menyisakan tanya. Polisi melakukan penyelidikan berkaitan dengan penyebab kebakaran itu.

"Hari ini tim Labfor dengan Inafis yang sudah kita bentuk akan melakukan penyelidikan penyebab kebakaran tersebut," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana kepada wartawan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2020).

"Kami sudah sementara sudah mempetakan beberapa saksi dan nanti akan dimintai keterangan," imbuh Nana.

Terlepas dari itu kejadian ini menjadi catatan peristiwa mengerikan di tubuh Korps Adhyaksa. Terlebih saat ini ada sorotan publik lantaran Kejagung tengah memproses perkara yang berkaitan dengan Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra yang menyeret seorang jaksa bernama Pinangki Sirna Malasari.

Jaksa Agung ST Burhanuddin sebelumnya mengatakan bila bagian gedung yang terbakar tidak menyimpan berkas perkara apapun. Namun ruang kerja Burhanuddin ikut hangus terbakar termasuk kantor Wakil Jaksa Agung, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) dan Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan (Jambin).

"Ini adalah gedung pembinaan, jadi di situ ada biro kepegawaian, biro keuangan dan perencanaan, dan biro umum," ujar Burhanuddin pada Sabtu (22/8) malam saat melihat langsung penanganan kebakaran di kantornya itu.

Diketahui sebelumnya Pinangki menjabat Kepala Subbagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan. Ruang kerja Pinangki berada di gedung utama yang saat ini sudah hangus terbakar.

Menilik ke belakang sekitar 20 tahun lalu peristiwa buruk juga pernah menimpa kantor Kejagung. Namun saat itu lebih mengerikan yaitu ada teror bom di Kejagung.

Dikutip dari Harian Kompas edisi Kamis, 6 Juli 2000, ada temuan bom di Gedung Bundar Kejagung sehari setelah ledakan terjadi di lokasi yang sama. Gedung Bundar Kejagung merupakan kantor Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).

Berikut artikel dari Harian Kompas edisi Kamis, 6 Juli 2000 judul 'Kelanjutan Bom Meledak di Kejaksaan Agung: Ditemukan Lagi Dua Buah Bom':

Kelanjutan Bom Meledak di Kejaksaan Agung: Ditemukan Lagi Dua Buah Bom

Jakarta, Kompas

Tim Gegana Kepolisian RI, Rabu (5/7) siang, menemukan dua bom lagi di kamar mandi Lantai II Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung), Jalan Hasanuddin, Jakarta Selatan. Bom berupa kardus sebesar batu bata itu ditemukan pukul 12.20 oleh Senior Inspektur (Kapten Polisi) Kasmen dari Bagian Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Polri.

Polisi segera mengisolasi Gedung Bundar. Seluruh karyawan menghentikan kegiatannya. Saat bom ditemukan, beberapa jaksa sedang memeriksa mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin dan Dirut PT Era Giat Prima Joko Soegiarto Tjandra sebagai saksi atas tersangka Gubernur Bank Indonesia (nonaktif) Syahril Sabirin, serta FX Soedjasmin dalam kasus penyalahgunaan dana reboisasi. Pemeriksaan akhirnya dihentikan dan ditunda untuk diteruskan di lain hari.

Dengan terburu-buru, ratusan karyawan Kejagung berlari ke lapangan di belakang gedung. Sebagian lagi berlari ke halaman beraspal di sekeliling gedung. Polisi terus memerintahkan agar mereka yang masih berada di dalam gedung segera ke luar.

Mengejutkan

Ditemukannya dua bom di Gedung Bundar Kejaksaan Agung itu dinilai banyak kalangan sangat mengejutkan, karena sehari sebelumnya, Selasa, sebuah bom meledak di kamar mandi belakang gedung yang sama.

"Kardus sebesar batu bata itu dicurigai sebagai bom, karena ada barang yang berada tidak pada tempatnya," kata Kepala Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Brigadir Jenderal Polisi Erwin MAP. Dari dalam kardus itu tersembul dua kabel pendek warna hitam dan putih.

Tim Gegana Polri yang menggunakan pelindung segera mengamankan dua bom itu. "Awas! siapa pun tolong jangan mendekat. Bom ini sewaktu-waktu bisa meledak," teriak seorang petugas. Bom itu dibawa dan dimasukkan ke mobil dengan perlahan-lahan, dan dengan sangat hati-hati. Kedua bom rakitan aktif itu masing-masing beratnya 2 kilogram.

Menurut petugas itu, bom berjenis padat itu, bila meledak, dapat menghancurkan seperempat dari Gedung Bundar. "Dua bom yang terakhir ini masing-masing 2 kali lipat lebih kuat dari yang meledak di lantai dasar," katanya.

Pihak kepolisian, kemarin, mengingatkan warga, pemilik, atau pengelola gedung/kantor, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan karena aksi teror telah terjadi Ibu Kota.

"Peledakan (gedung) itu bisa saja terjadi. Di luar negeri pun terjadi risiko-risiko seperti itu," kata Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi (Mayjen Polisi) Nurfaizi, Rabu. Sebab itu, Nurfaizi menambahkan, "Kalau ada orang- orang yang keluar-masuk mencurigakan, segera tanya keperluannya. Untuk kepentingan keamanan bersama, diperlukan suatu kewaspadaan bersama," ujar Nurfaizi.

"Jika ada ancaman, laporkan segera ke polisi terdekat. Kami akan segera datang ke lokasi untuk mengambil tindakan tepat," katanya.

Direncanakan

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari polisi mengenai jenis bom dan pelaku di balik bom yang meledak Selasa, dan yang ditemukan Rabu. Menjawab pertanyaan, Kepala Polri Jenderal (Pol) Rusdihardjo mengungkapkan, yang meledak di Gedung Kejaksaan Agung Jakarta adalah jenis bom rakitan dan kualitas bom tersebut tidak terlalu berbahaya. "Peristiwa itu tidak dilakukan orang profesional. Meski demikian, pihak kepolisian sampai sekarang terus menyelidiki kasus pengeboman tersebut," katanya di sela-sela Sidang Kabinet di Bina Graha, Jakarta.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi (Mayjen Pol) Nurfaizi di Balai Kota DKI Jakarta juga mengatakan, bom yang meledak di Kejaksaan Agung, Selasa, petang sudah bisa diidentifikasi, yakni berupa bahan peledak hasil rakitan tangan, tradisional (handmade). "Terlalu dini rasanya kalau kesimpulannya disampaikan sekarang, karena polisi masih melakukan penyelidikan," ujarnya.

Saat dikonfirmasi temuan bahan TNT di lapangan, Kepala Sub-Dinas Penerangan Senior Superintendent (Kolonel Polisi) Saleh Saaf mengingatkan, bahan peledak TNT tidak cuma dimiliki oleh TNI.

Dari berbagai temuan serpihan bom, yakni residu dari nitrat dan pemantik api, untuk sementara polisi menyimpulkan bahwa peledakan bom itu adalah tindakan yang direncanakan dan dilakukan secara profesional. Ledakan di lantai dasar diklasifikasikan tim Puslabfor sebagai ledakan tipe menengah ke atas.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Senior Superintendent (Kolonel Polisi) Edward Aritonang mengatakan, jika melihat bom-bom yang ditemukan tanpa timer, ada kemungkinan bom diledakkan dengan remote control (pengendali jarak jauh), atau dengan sumbu. Hingga Rabu siang, Polres telah memanggil lima orang sebagai saksi. Selain Benny dan Rudi, sudah dipanggil juga dua petugas keamanan dalam Kejagung, Doddy dan Tumino, serta Sugiyo, sopir salah seorang jaksa.

Teror

Ditemukannya lagi dua bom di Lantai II Kejagung, menurut Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Ramelan, adalah bentuk teror terhadap Kejaksaan. "Ini te-ror yang sangat mengganggu," kata Ramelan. Sejak Selasa malam hingga Rabu, kantornya tak dapat melakukan kegiatan dengan normal. Namun, ia sudah meminta karyawan agar tetap tegar dan bekerja seperti biasa.

Jaksa Agung Marzuki Darusman mengatakan, peristiwa tersebut dapat dikualifikasikan sebagai aksi teror yang ditujukan pada Kejagung. "Diduga kuat, ini terkait dengan pemeriksaan-pemeriksaan dalam rangka mengungkap kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sedang dilakukan Kejagung," katanya.

"Mungkin ini berhubungan dengan masalah-masalah yang sedang ditangani Kejaksaan Agung. Selama ini, kami memang mengalami tekanan-tekanan yang kuat dari luar dan intimidasi yang ditujukan pada Kejaksaan Agung, tetapi ini (bom-Red) di luar dugaan," kata Marzuki dalam jumpa pers yang didampingi para stafnya.

Menjawab pertanyaan, Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya Senior Superintendent (Kolonel Polisi) Harry Montolalu mengatakan, sangat sulit untuk menilai apakah peledakan itu berlatar belakang politik atau tidak.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Nurfaizi. "Bisa iya, bisa juga tidak, karena segala kemungkinan bisa saja terjadi. Terlalu dini untuk mengambil kesimpulan karena penyidikan masih berlangsung. Dan, kami tidak masuk dalam tatanan politik," kata Nurfaizi. Sedang Montolalu mengatakan, "Tugas saya cuma mengungkap peristiwa tersebut dan siapa pelakunya."

Namun, Kepala Polri Rusdihardjo mengaku belum mengetahui motif di balik aksi peledakan bom tersebut. Ditanya apakah ada kaitan dengan Tommy Soeharto, "Kami belum tahu, link-nya antara memeriksa Mas Tommy dengan peledakan itu. Kita tidak bisa semudah itu menuduh, tetapi bisa saja orang lain mengambil kesempatan. Mumpung Mas Tommy ke sana (Kejaksaan Agung)," tambahnya.  [detik]