-->

Breaking

logo

August 18, 2020

"Membongkar Alasan Soekarno Pernah Gaungkan Presiden Harus Islam

"Membongkar Alasan Soekarno Pernah Gaungkan Presiden Harus Islam

NUSAWARTA - Sebelum Indonesia merdeka, ternyata Soekarno pernah menganjurkan bahwa Presiden Republik Indonesia harus datang dari kalangan Islam.

Sebulan sebelum dibacakannya proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada salah satu agenda rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 15 Juli 1945, Soekarno pernah menyatakan bahwa umat Islam dipersilakan untuk bekerja keras mempropagandakan Islam agar presiden terpilih nanti adalah orang Islam.

Pertanyaan Kritis KH Masykur

Disitat dari Republika, pandangan milik Soekarno itu merupakan jawaban dari pertanyaan KH Masykur. Kala itu, Kiai asal Malang itu mempertanyakan adanya dua pasal yang saling bertentangan.
Adapun pasal yang saling bertentangan itu terkait jabatan Presiden dengan sumpah pelantikan janji-janji Presiden.

KH Masykur mengungkapkan pandangannya, tentang ketidaksesuaian antara dua pasal yang tumpang tindih. “Telah dinyatakan bahwa dalam Republik Indonesia ada kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Lalu saya membaca di dalam rancangan Undang-Undang Dasar yang terdapat dalam pasal 7, bahwa presiden itu bersumpah menurut agamanya.”

Pria yang kelak menjabat sebagai Menteri Agama RI ini pun melanjutkan pertanyaannya, “Dengan demikian maka saya pikir keadaannya begini; kalau dalam Republik Indonesia ada kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, padahal Republik Indonesia ada dikepalai oleh orang beragama lain daripada Islam, umpamanya; apakah keadaan itu dapat dijalankan dengan baik, atau apakah umumnya golongan Islam dapat menerimanya, dan apakah keadaan yang demikian itu tidak jahat?”

Berdasarkan buku Naskah Persiapan UUD 1945 milik Muhammad Yamin, ia meminta agar Soekarno menanggapi pandangan dan pertanyaan KH Masykur tersebut.

Jawaban Diplomatis Soekarno

Secara diplomatis, pria yang kerap disebut sebagai Penyambung Lidah Rakyat ini langsung pun menjawab. Bahwa dalam pandangannya Presiden Republik Indonesia lebih baik datang dari sosok yang beragama Islam. Ia pun menyebutkan alasannya, tak lain karena mayoritas masyarakat di Indonesia adalah beragama Islam.

“Kalau Tuan Haji Maskur menanyakan hal itu kepada diri saya sebagai person Soekarno, saya seyakin-yakinnya bahwa presiden Indonesia tentu orang Islam. Tak lain dan tak bukan karena saya melihat dan mengetahui bahwa sebagian besar dari penduduk Indonesia ialah beragama Islam.” jawab Bung Karno.

Sosok Singa Podium ini pun melanjutkan, seperti halnya dalam pidato yang ia sampaikan dalam sidang perdana. Dalam pidatonya, ia menganjurkan kalangan yang berasal dari Islam agar mempropagandakan agamanya di kalangan masyarakat Indonesia.


“Bahkan dalam pidato saya di dalam sidang pertama, saya telah menganjurkan sebagai orang Islam supaya bekerja keras untuk mempropagandakan agama Islam sehebat-hebatnya dalam kalangan rakyat Indonesia. Sehingga jikalau betul sebagian besar dari rakyat Indonesia itu jiwa berkobar dengan api Islam, rohnya menyala-nyala dengan roh Islam, tidak boleh tidak, bukan saja presiden Republik Indonesia nanti adalah orang Islam. Bahkan –saya berkata- tiap-tiap undang-undang yang keluar daripada badan perwakilan bercorak Islam pula.” jelas Bung Karno ketika menceritakan isi pidatonya.

“Marilah saudara, terutama sekali saudara-saudara dari pihak Islam, marilah kita menerima apa yang beberapa hari yang lalu saya namakan fair play ini. Mari kita bekerja keras; saya sebagai orang Islam, saya pun senang melihat jikalau agama Islam itu di sini berkembang dengan sehebat-hebatnya. Saya kira, jikalau Kiyai Haji Maskur sudah merenungkan hal ini dalam arti seperti yang saya terangkan ini, tidak akan timbul sedikitpun syakwasangka.” tambahnya.

Kendati demikian, meski mendukung pemimpin negara yang berasal dari agama Islam, para tokoh itu pula yang mengganti adanya sila pertama yang berbunyi ‘Menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Dengan lapang dada para pendiri bangsa Indonesia melihat bahwa masyarakatnya tak hanya terdiri dari agama Islam saja.

Demi mengedepankan persatuan bangsa dan menghindari timbulnya kekacauan, oleh karena itu mereka merevisi sila pertama tersebut menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa”. [hps]