-->

Breaking

logo

August 13, 2020

Mengungkap Alasan Soekarno Pilih 17 Agustus Sebagai Hari Kemerdekaan

Mengungkap Alasan Soekarno Pilih 17 Agustus Sebagai Hari Kemerdekaan

NUSAWARTA - Mengungkap alasan Putra Sang Fajar alias Soekarno memilih tanggal 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Putra Sang Fajar merupakan salah satu dari sekian banyak julukan yang disematkan kepada presiden pertama kita, Soekarno.

Ia mendapat julukan itu lantaran dilahirkan pada pukul 05.30 pagi, ketika fajar mulai menyingsing. Ida Ayu Nyoman Rai, Ibunda Bung Karno percaya bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit akan ditakdirkan menjadi orang besar dan bernasib baik.

Benar saja, pemiliki nama kecil Koesno Sosrodihardjo ini kelak menjadi orang nomor satu di Indonesia, bahkan disegani dunia.

Kemerdekaan kita saat ini, tak lepas dari campur tangan Soekarno sebagai pembaca Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dengan pertimbangan jangka panjang, Soekarno ikut ambil bagian dalam memilih tanggal yang cocok sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Lantas, mengapa ia memilih tanggal 17 Agustus sebagai hari pembacaan Teks Proklamasi sekaligus Hari Kemerdekaan? Inilah kisahnya.

Hal itu bermula pada 15 Agustus 1945, setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang akhirnya bertekuk lutut kepada sekutu. Berita peristiwa ini langsung menyebar di kalangan pemuda yang mendapat informasi melalui radio asing.

Besoknya, pada tanggal 16 Agustus 1945 para pemuda dari perkumpulan Menteng 31 yang dipimpin oleh Sukarni, Wikana, dan Chaerul Shaleh langsung mendesak serta menculik Soekarno dan Hatta agar lekas memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia saat itu juga.

Alasan para pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang agar mereka berdua tidak terpengearuh oleh pemikiran Jepang yang selalu menghalangi Indonesia untuk merdeka.

Perdebatan hebat antara golongan tua dan muda terjadi di sana, hingga akhirnya Wikana yang emosional menggertak dengan nada ancaman ke Soekarno.

“Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah!” ujar Wikana.

Seketika Soekarno berdiri dari tempat duduknya, berdiri mendekati Wikana, lalu menjawab ancaman itu.

“Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!” jawab Soekarno.

Setelah perdebatan sengit itu mereda, dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarni bertanya kepada Soekarno, ”Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16?”.

Soekarno menjawab pertanyaan itu, dan menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 Agustus sebagai tanggal kemerdekaan, ”Saya orang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, tidak dapat menjelaskan mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci.”

”Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua sedang berpuasa. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang berbahagia dan suci dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Karena itu, kesucian angka 17 bukan buatan manusia.” sambungnya.

Begitulah jawaban dan alasan Soekarno mengapa ia memilih tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Hampir semua kebijakan yang diambil Soekarno memiliki makna filosofis yang besar.

Sekarang kamu jadi tahu kan alasan tanggal 17 Agustus dipilih menjadi Hari Kemerdekaan kita. Kita harus bangga ya guys pernah punya presiden dengan pemikiran panjang seperti Soekarno. [hps]