-->

Breaking

logo

August 23, 2020

"Menjaga Pancasila dari Bahaya Propaganda Komunisme dan Khilafah"

"Menjaga Pancasila dari Bahaya Propaganda Komunisme dan Khilafah"

NUSAWARTA - Radikalisme kelompok yang mengaku Islam memang masih marak terjadi. Bahkan kelompok ini seperti terus bergerilya untuk mempengaruhi masyarakat awam agar menjadi pengikut mereka, tentu melalui berbagai propaganda yang dimainkan hingga pola penjaringan yang terstruktur dan masif.

Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Ahmad Zainul Hamdi mengatakan, bahwa penjaringan mereka sudah masuk ke wilayah-wilayah tempat ibadah yang banyak didatangi oleh generasi muda, di mana masjid-masjid kampus menjadi sasaran empuk untuk melakukan propaganda.

 “Masjid kemudian berubah wilayah gerakan mahasiswa. Celakanya adalah masjid ini sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok islamis yang mengusung ide-ide Ikhwanul Muslim (IM). Di mana tahun 80-an mekar yang berbasis masjid. Seperti Masjid Arif Rahman Hakim yang di UI dan Salman ITB. Dan ini bibit awal,” kata Zainul Hamdi dalam webinar dengan tema “Menjaga Pancasila dari Bahaya Propaganda Komunisme dan Khilafah” yang digelar oleh Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Se-Indonesia, Sabtu (22/8/2020).

Tidak hanya di UI dan ITB, Zainul Hamdi juga menyebut, ada sebuah masjid di wilayah kampus besar di Yogyakarta juga dijadikan sarang untuk melakukan agitasi dan propaganda untuk menjaring banyak pengikut kelompok tersebut.

“Dalam riset saya, ada sebuah kampus top di Yogyakarta. Di mana markas mereka ada di masjid dan sudah lama menjadi wilayah. Namun tidak disentuh oleh pihak rektorat. Sehingga masjid menjadi wilayah suaka,” ujarnya.

Dan kelompok yang menguasai masjid tersebut kata Zainul adalah mereka yang memiliki tujuan mendirikan negara Khilafah.

“Di masjid ini kalau tidak IM, Tarbiyah atau HTI. Mereka menjadikan basis untuk menggalang massa. Dan bahkan kos-kosan di sekitarnya ter-blok menjadi semacam pesantren tempat bidikan kaum Salafi,” terangnya.

Lalu mengapa kelompok pelajar dan intelektual muda yang seharusnya mampu berpikir jernih dan membedakan mana yang salah dan mana yang benar justru terpapar pemahaman kelompok-kelompok tersebut, pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PW NU Jawa Timur itu mengatakan, bahwa mereka cenderung tidak memiliki pemikiran pembanding.

“Dari paparan intens kelompok-kelompok di atas secara intens, berdekatan dengan lingkungan itu, tidak memiliki alternatif wacana dan lebih-lebih jika seluruh aspek kehidupannya bisa didapatkan ketika bergabung dengan kelompok itu maka dia akan teradikalisasi,” terangnya.

Namun begitu, ia pun menilai bahwa hal itu bisa diatasi dengan countering narasi yang bisa dilakukan oleh kelompok Nahdlatul Ulama dan ormas yang cinta pada NKRI. Sehingga intensitas para pemuda dan pelajar serta Mahasiswa di lingkungan mereka bisa ditarik kembali untuk mencintai NKRI.

“Cara paling efektif untuk menangkal gerakan mereka adalah kehadiran intens kita di kampus-kampus agar anak-anak mahasiswa baru, ketika mereka membutuhkan sesuatu maka kita yang bisa hadir,” tuturnya.

Waspada dan Kenali Narasi Pengusung Khilafah

Dalam forum dialog yang sama, Founder Media Sangkhalifah.co, Makmun Rasyid menyampaikan bahwa ada beberapa fase yang digunakan oleh kelompok IM dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam melakukan perekrutan.

“Di kampus-kampus irisan IM dan HTI, sangat terbaca (pola penjaringan) dengan menggunakan tiga fase, yakni fase pengenalan atau ajakan, fase pembinaan dan perekrutan serta pengkaderan, dan fase pelaksanaan. Cara ini telah digagas oleh Hasan Al-Banna,” kata Makmun.

Narasi yang dibangun oleh kelompok bentukan Hasan Al Banna dan Taqiyuddin An-Nabhani ini akan memperkenalkan bagaimana negara Islam versi mereka.

“Pertemuan IM dan HTI juga pada konteks wacana Negara Islam selain teori hakimiyyah dan manhaj seperti yang digagas oleh Sayyid Qutb dan di HTI digagas oleh Taqiyuddin al-Nabhani,” jelasnya.

Dan pria yang juga merupakan ketua Yayasan Bina Bangsa ISNU tersebut akan melakukan narasi empatik kepada masyarakat Indonesia untuk bersimpati dengan negara-negara yang tengah terjajah dan berkonflik di Timur Tengah (Timteng). Dengan narasi empatik seperti penggalangan dana dan gerakan pembebasan ini, mereka selalu selipkan narasi pendirian negara Khilafah sebagai solusi untuk mengatasi persoalan yang ada.

“IM maupun Hizbut Tahrir yang ada di Indonesia kerap menyuarakan berupa ajakan untuk membantu negara-negara yang ditindas di luar Indonesia, seperti narasi-narasi membantu Palestina, soal Suriah, Libya dan lainnya. Salah satu yang jelas bahwa kelompok tarbiyah dan HTI memberikan simpatisan kepada pemberontak di Suriah adalah dengan simbol bendera yang dimilikinya,” sebutnya.

Terakhir, pria yang juga hafidz Quran tersebut mengatakan bahwa kelompok HTI dan IM akan selalu membungkus gerakan mereka dengan menyertakan narasi ketakutan kepada masyarakat tentang komunisme dan PKI di Indonesia.

“Membangkitkan narasi-narasi masa lalu dilakukan sembari membuat ketakutan di masyarakat tentang bahaya komunisme dan PKI. Ini dilakukan kelompok HTI agar gagasan khilafah tidak disentuh oleh pihak-pihak di luarnya,” ucapnya.

Padahal bagi Makmun, kedua ideologi itu baik komunis maupun Khilafah memiliki bahaya yang sama bagi eksistensi NKRI dan Pancasila.

“Tapi bagi saya, baik komunisme, PKI dan khilafah sama-sama terlarang dan berbahaya,” tutup Maksum.

Komunisme dan Khilafah Sama Bahayanya

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Wadah Silaturahmi Khotib Indonesia (WASATHI), Fauzan Amin berpendapat, bahwa maraknya paham dan kelompok radikalisme komunis dan khilafah terjadi karena aparat penegak hukum kurang tegas dalam menyikapi pergerakan mereka di Indonesia.

“Pihak keamanan harus tegas soal-soal radikalisme, komunisme dan khilafah sampai tingkat bawah. Jangan biarkan Banser dan sejenisnya sendirian. Sebab, saat ini kelompok-kelompok sayap kanan tidak saja di kampus tapi menjalar di masyarakat,” kata Fauzan.

Apalagi gerakan mereka juga sudah masuk ke lingkungan lembaga negara. Seharusnya mereka bisa diantisipasi dengan baik oleh negara agar mereka tidak berkembang biak dan menjadi batu sandungan tersendiri bagi eksistensi NKRI di masa mendatang.

“Mereka-mereka juga masuk ke masjid-masjid lembaga negara. Mereka anti-negara tapi mengambil uang-uang yang dikelola negara,” ujarnya.

Terakhir, Fauzan berpendapat bahwa baik komunisme maupun khilafah adalah ideologi yang sama-sama membahayakan eksistensi NKRI sebagai negara yang menganut ideologi Pancasila.

“Komunisme dan khilafah sama-sama bahaya dan harus sama-sama kita tangkal dan counter,” tutupnya. [instf]