-->

Breaking

logo

August 25, 2020

Merinding! Otak Pelaku Penembakan Bos Pengusaha Pelayaran Kesurupan, Begini Katanya..

Merinding! Otak Pelaku Penembakan Bos Pengusaha Pelayaran Kesurupan, Begini Katanya..

NUSAWARTA - Tersangka Nur Luthfiah (34) beberapa kali sempat kesurupan saat menjalani pemeriksaan polisi.

Bahkan sebelumnya, otak pembunuhan pengusaha pelayaran ini juga kerap ‘memainkan drama kesurupan’  dihadapan tersangka lainya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Wirdhanto Hadicaksono menyebut tersangka Nur Luthfiah tiba-tiba kerasukan arwah dari korban Sugianto (51), sesaat setelah korban dieksekusi.

“Yang bersangkutan (Nur Luthfiah) saat pemeriksaan sempat kesurupan dan mengarahkan ke salah satu motif. Jadi kesurupan arwah korban,” ujar Kompol Wirdanto di Ruko Royal Gading, Jalan Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, Selasa (25/8/2020).

Wirdanto menjelaskan, Nur Luthfiah saat itu menjalani pemeriksaan sebagai saksi selaku karyawan korban. Namun tiba-tiba ‘kesurupan’, menyebut bahwa pelaku penembakan adalah saingan bisnis korban.

“Dan menyampaikan bahwa (motif) pelakunya adalah masalah persaingan bisnis,” ujar Wirdanto.

Tidak sampai di situ, lanjut Wirdanto, Nur Luthfiah juga kembali berpura-pura kesurupan saat menghadiri pemakaman korban. “Dan ini diulangi lagi pada saat di tempat pemakaman,” ucapnya.

Namun, menurut Wirdanto, Polisi tidak serta merta mempercayai keterangan NL. Karena itu, pihak kepolisian melakukan pemeriksaan lebih insentif dan hasilnya menyimpulkan tersangka telah berbohong.

“Kami melakukan tes juga ternyata hasilnya bahwa ada semacam kebohongan dari hasil ahli,” tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, Nur Lutfiah menjadi otak dari aksi penembakan bos pengusaha pelayaran di Kelapa Gading, Sugianto. Peristiwa itu terjadi di kawasan Ruko Royal Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dalam kasus ini, polisi berhasil meringkus 12 orang tersangka dengan perannya masing-masing. Para pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api.

Para tersangka terancam pidana hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun. [pjst]