-->

Breaking

logo

August 18, 2020

NARASI: "Tiga Hoaks di Bulan yang Sakral"

NARASI: "Tiga Hoaks di Bulan yang Sakral"

SEWORD - Berurusan dengan Kaum “nyinyir” memang tak ada habisnya. Apakah akan kita biarkan ? Sejatinya kita tidak sedang menyadarkan kaum nyinyir, yang level kebenciannya sudah sampai taraf akut. Hampir mustahil untuk disembuhkan. Yang coba kita cerahkan agar tidak tertular oleh kaum nyinyir adalah masyarakat awam yang tak berdosa. Mudah-mudahan mereka tak tertular, dan menjelma menjadi generasi nyinyir lagi.

Istilah “nyinyir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki arti atau makna “mengulang-ulang perintah atau permintaan” dan juga “nyenyeh, cerewet”. Jadi bisa dibilang bahwa orang yang nyinyir adalah orang yang cerewet, orang yang banyak bacot, orang yang suka mengulang-ngulang kata atau permintaan.

Di bulan Agustus ini, bulan yang seharusnya menjadi bulan yang sakral bagi bangsa ini tidak luput dari gorengan kaum nyinyir. Pertama adalah isu logo HUT RI yang katanya mirip dengan lambang salib. Di satu sisi mereka patut diacungi jempol. Mata dan otak mereka begitu cepat tanggap jika berurusan dengan hal beginian. Bahkan orang awam pun tak bisa melihat hal itu, namun mereka dengan tatapan Superman-nya mampu menangkap logo salib tersebut. Sungguh luar biasa !

Sayangnya, logo salib tersebut berada dalam dunia khayali mereka. Sebab, mereka tak pernah melakukan cek dan ricek dengan sang pembuat logo. Apa pemaknaan dari simbol yang dibuat oleh desainer bersangkutan ? Mereka sekadar menduga-duga. Dan tentu saja, dalam hal apapun, bumbu-bumbu yang mereka tambahkan kepada tuduhan yang dialamatkan kepada pemerintah tak lain adalah bumbu kebencian, iri serta dengki.

Bahkan, ustad sekelas Aa Gym pun seakan-akan mengamini tuduhan ini. Meski, dalam bahasa yang halus, Da’i kondang asal Bandung ini meminta agar semua pihak tidak ber-suudzhon atau berprasangka buruk. Pertanyaannya, jika Aa Gym melihat logo tersebut seperti ada tanda “salib besar” –menurut kata-katanya sendiri, bagaimana dengan pengikutnya sendiri ?

Kedua, soal pakaian adat yang dikenakan oleh Presiden Jokowi ketika menghadiri Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2020. Kaum nyinyir langsung menyambar tanpa berpikir terlebih dahulu. Memang, yang penting bagi mereka adalah kecepatan. Tak peduli soal benar atau salah. Dus, di mata mereka pemerintah selalu salah, maka apa yang dikenakan Presiden Jokowi pun terlihat salah. Tanpa ba-bi-bu mereka menuduh Presiden memakai pakaian adat dari Wuhan, Tiongkok. Suatu tuduhan sontoloyo tak berdasar.

Faktanya, pakaian yang dikenakan adalah pakaian adat khas Sabu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Sabu sendiri merupakan pulau terdepan di bagian ujung selatan Indonesia. Tapi dengan fakta ini pun, saya sanksi, kaum nyinyir akan meminta maaf, sebab tuduhan tidak berdasar atau hoaks adalah kebiasaan, bahkan malah pekerjaan mereka.

Ketiga, isu paling anyar dari kaum nyinyir adalah uang pecahan Rp 75 ribu yang baru saja dikeluarkan Bank Indonesia. Uang pecahan ini keluar untuk menyambut kemerdekaan negeri ini yang sudah menginjak usia yang ke-75 tahun. Usia yang seharusnya mendewasakan bagi kita semua, sayangnya, bagi kaum nyinyir, usia seakan tidak berpengaruh. Seringkali kita temukan kaum nyinyir adalah mereka yang sudah tua, post power syndrom, orang yang sudah lepas kekuasaan dari tangan mereka, orang yang tidak kebagian kue politik atau bahkan orang-orang pecatan.

Dilansir dari tribunnews.com, Bank Indonesia pada Senin (17/8/2020) secara resmi menerbitkan uang rupiah edisi khusus menyambut HUT ke-75 Republik Indonesia. Uang rupiah khusus yang diterbitkan Bank Indonesia ini adalah uang kertas Rp 75.000.

Seperti segerombolan burung pemakan bangkai, mereka kemudian meneliti desain uang pecahan baru tersebut. Peristiwa ini mengingatkan penulis beberapa tahun ke belakang, ketika pecahan uang baru dikeluarkan Bank Indonesia. Isu yang kurang lebih sama digoreng oleh kaum nyinyir. Jika dulu soal logo palu arit, maka tuduhan yang sekarang pun tidak jauh dari itu-itu juga. Mereka sesungguhnya tidak kreatif dalam pengelolaan isu.

Kali ini, ditambah dengan tuduhan pakaian adat yang dikenakan beberapa orang model di latar belakang uang pecahan 75 ribu rupiah tersebut. Kaum nyinyir menyeringai bangga, seakan telah menemukan kesalahan lainnya. Mereka seolah yakin dengan tuduhannya bahwa ada titipan budaya Tiongkok di sana. Dari sembilan gambar orang berpakain adat Nusantara, gambar orang yang berada di tengah menjadi perhatian publik. Banyak netizen yang mempertanyakan itu pakaian adat dari mana, bahkan ada yang menuduh itu pakaian adat dari Cina.

Tentu saja, seperti yang lalu-lalu, tuduhan mereka hanyalah kebohongan belaka. Faktanya, pakaian adat yang diperbincangkan itu adalah busana adat Suku Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara). Topi khas yang ada di gambar uang Rp 75.000 itu, biasanya dipakai oleh pengantin pria Suku Tidung.

Bulan Agustus belumlah habis, tapi di bulan yang sakral ini saja, mereka tak sungkan untuk ber-hoaks ria. Tapi ya itulah mereka. Sekali lagi, tulisan ini dibuat bukan untuk mereka yang sudah menjadikan hoaks serta fitnah sebagai ladang mencari nafkah. Tak ada urusan untuk menyadarkan perilaku mereka. Yang menjadi concern saya -semoga juga anda- adalah masyarakat awam. Merekalah korban sesungguhnya. Merekalah yang perlu diedukasi dengan informasi-informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Dus, bagi saya sendiri punya prinsip kita ladeni saja permaian kaum nyinyir, “lu jual gue beli, atau malah kita borong sekalian !” [seword]