-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Nggak Ada Akhlak, Korban Jiwasraya Banyak Yang Sakit dan Meninggal Tanpa Pengembalian

Nggak Ada Akhlak, Korban Jiwasraya Banyak Yang Sakit dan Meninggal Tanpa Pengembalian

SEWORD - Perusahaan Jiwasraya sebagai perusahaan pelat merah yang menjadi kepercayaan rakyat kini menjadi duri dalam daging tak hanya bagi nasabahnya yang ambyar. Perusahaan ini juga menjadi duri dalam pemerintahan.

Kerugian tak hanya diderita oleh nasabahnya yang sebagiuan besar adalah warga Indonesia sendiri. Warga asing juga ikut merana tanpa adanya solusi dan kepastian untuk dana yang kini gentayangan entah ke mana.

Dalam peringatan kemerdekaan tahun ini bangsa kita masih belujm merdeka dari carut-marut manusia yang tanpa akhlak tapi berlindung dalam motto AKHLAK yang ujungnya hanya jadi simbolis dan moto pemanis belaka.

Kementrian BUMN jangan lepas tangan dong. Rakyat yang jadi korban itu sudah menjerit dalam diam dan senyap tanpa adanya upaya serius untuk membuat dana mereka kembali.

Parahnya tak hanya warga Indonesia yang turut jadi korban iming-iming rayuan manis Jiwasrya lewat Jiwasraya Saving Plan. Warga asing tak terhitung jumlahnya, sampai ratusan lebih menjadi korban ambyarnya Jiwasraya.

Miris, kalau warga asing itu yang menjadi korban adalah para ibu karena menurut pengakuan warga Korsel yang mengatur keuangan itu adalah para istri mereka. Bahkan ada yang dari warga asing yang sudah meninggal tapi uangnya belum kembali!

Hal ini terkuak dari penuturan Lee Kang Hyun, warga negara Korea Selatan yang juga menjabat sebagai VP Samsung Indonesia sekaligus Presiden Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Korea Selatan di Indonesia.

Dialah yang mengungka jumlah besar warga Korsel yaitu sebanayk 474 warga yang dananya terancam tidak bisa dicairkan di Jiwasraya.

"Mungkin uang anak sekolah, atau keperluan sehari-sehari walau dana besar atau kecil. Orang Korea khususnya ibu-ibu kalau suami selesai tugas (kembali ke Korea) tapi belum balik karena uang ini. Sampai ada yang meninggal suaminya, tapi enggak bisa pulang ke Korea karena masalah ini," ujarnya pada Desmeber 2019 lalu.

Miris bukan karena ini berimbas dalam kehidupan keluarga atau tepatnya ekonomi mereka. para kaum ibu ini pasti terpukul apalagi melihat penyelesaiannya masih menggantung dan membuat nasib mereka jadi terkatung-katung!

Menyedihkan sampai memakan korban jiwa tanpa mereka mengetahui dana itu kembali,Nyesek banget apalagi sampai korban meninggal tiu adalah warga asing.

Bagaimana dengan warga sendiri? Jangan ditanya, sudah tak terhitung banyaknya korban baik yang sakit dan meninggal tanpa ada kepastian dari pihak Jiwasraya.

Mereka hidup dalam penantian tanpa akhir sampai sakit bahkan ada yang sampai stroke dan akhirnya meninggal tanpa tahu kepastian pengembalian uang yang telah disetor ke PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

"Sekitar 60 orang nasabah Jiwasraya meninggal, saking lamanya menunggu sampai mereka mendahului kita," kata KS Ho, anggota Forum Nasabah Korban Jiwasraya Saving Plan, dalam diskusi virtual, Kamis, 13 Agustus 2020.

Ada cerita dari salah satu nasabah bernama Wijiningsih yang memasukkan uang pensiun suaminya melalui JS Saving Plan akhirnya sangat terpukul setelah tahu kasus gagal bayar di Jiwasraya sejak Oktober 2018 itu. Suaminya (Wijiningsih) sampai stroke dan meninggal.

Erni Maria menilai pemerintah telah mempermalukan Indonesia dengan menunda pembayaran hak nasabah yang berinvestasi di Jiwasraya.

Ya, khususnya Kementerian BUMN sendiri tyang ikut andil dalam mempermalukan bangsa dan negara ini. Tanpa ada upaya serius maka kasus ini sudah menjadi kasus kemanusiaan yang masif dan akan memperburuk citra negara kita.

Ada juga nasabah yang bernama Gatot, dia menyatakan bahwa setelah dua tahun kasus Jiwasraya bergulir, negara terkesan memberi teladan yang buruk.

Baginya negara bukannya tak punya uang tapi enggak punya niat mengembalikan. Setuju, hanya dengan catatan bahwa pihak-pihak yang bbermain dalam uppaya merugikan Jiwasraya itu juga harus diburu dan dikejar.

Merekalah biang kerok dan dalang utama yang membuat kasus ini semakin menjadi carut-marut nasional tanpa adanya penuntasan yang tegas untuk menguak kebenaran di dalamnya.

Penderitaan yang dialami nasabah itu adalah penderitaan batin yang berujung ke fisik mereka. Mirisnya kaum penjarah dan pembajak di Jiwasraya itu hidup dalam gelimangan kemewahan tanpa peduli.

Di mana akhlak dari Kementrian BUMN yang sesuai dengan mottonya 'AKHLAK' itu? Buktikan dong jangan cuma dengan kata atau citra semata!

Demikian kura-kura! [seword]