-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Pahlawan Sesungguhnya yang Terlupakan: Berjuang Mati-matian Demi Kemerdekaan RI, Hidup Sulit Kemudian

Pahlawan Sesungguhnya yang Terlupakan: Berjuang Mati-matian Demi Kemerdekaan RI, Hidup Sulit Kemudian

NUSAWARTA - Kiki Siregar menulis di CNA, duduk di kursi plastik putih di rumahnya, Bapak Soewarso Warsosoewito mencoba mengingat apa tepatnya yang dia lakukan ketika dia berperang melawan Jepang pada tahun 1945.

Veteran perang Indonesia berusia 95 tahun itu yang menderita kepikunan tinggal di rumah seluas 60 meter persegi bersama istri keduanya Karni di daerah kumuh di Jakarta.

Sebuah tanda di depan rumahnya bertuliskan: “Veteran”. Ketika CNA berkunjung pada awal Agustus, seekor tikus besar berkeliaran di sekitar tempat itu.

“Saya menjaga istana Kraton di Solo dari musuh (jika terjadi serangan Jepang)… tapi saya tidak bisa mengingat banyak, sudah lama sekali,” katanya dengan suara lembut.

Dia juga menderita beberapa masalah kantong empedu, menurut istrinya, tetapi mereka hidup dengan uang seadanya dan tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan terbaik.

“Kami menerima tunjangan bulanan sekitar Rp2 juta dari pemerintah karena suami saya seorang veteran perang. Selain itu, kami tidak benar-benar mendapatkan yang lain,” katanya.

Meskipun demikian, keduanya mengatakan enggan meminta bantuan lebih lanjut. “Kami tidak ingin mengambil apa yang bukan hak kami,” kata mereka.

Bapak Warsosoewito menjaga istana kerajaan Solo di provinsi Jawa Tengah ketika pasukan Jepang menduduki wilayah tersebut dari tahun 1942 hingga 1945.

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memperoleh kemerdekaan dari Jepang setelah 42 bulan pendudukan militer.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Belanda—yang sebelum pendudukan Jepang menjajah Indonesia selama 350 tahun—mencoba untuk mendapatkan kembali kendali atas negara kepulauan ini, yang memaksa Bapak Warsosoewito untuk sekali lagi mengangkat senjata.

Seiring Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-74 pada Sabtu (17/8) esok, mereka yang berjuang untuk kemerdekaan merasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Indonesia memiliki sekitar 100.000 veteran dari 260 juta penduduknya, menurut data pemerintah.

Kolonel Eko Natalius, Kepala Badan Manajemen Administrasi Veteran untuk wilayah Jabodetabek, mengatakan bahwa semua veteran menerima tunjangan sekitar Rp2-3 juta per bulan, tergantung pada layanan dan pangkat mereka.

Namun, dia mengakui, itu tidak cukup.

“Dua juta rupiah jika Anda tinggal di sebuah desa di Indonesia lebih dari cukup, tetapi jika Anda tinggal di ibu kota Jakarta atau kota-kota besar lainnya di mana biaya hidup jauh lebih tinggi, kemungkinan besar itu tidak cukup.”

Upah minimum Jakarta tahun 2019 adalah Rp3,9 juta.

Dia meminta masyarakat Indonesia untuk berbuat lebih banyak dalam membantu para veteran, baik secara finansial atau hanya menunjukkan perhatian kepada mereka.

DIBUTUHKAN LEBIH BANYAK PENGAKUAN?

Beberapa veteran kemerdekaan juga berharap mendapatkan lebih banyak pengakuan dari pemerintah.

Ibu Soekasti (90), berharap pemerintah akan menghormati pengorbanannya dengan mengundangnya ke Istana Presiden di mana perayaan utama Hari Kemerdekaan Indonesia berlangsung setiap 17 Agustus.

“Kami banyak berkorban. Semuanya berbahaya. Saya bisa terbunuh,” katanya.

Dia bertugas sebagai kurir bagi pahlawan perang terkenal Indonesia Jenderal Gatot Soebroto. “Bisa dibilang saya adalah mata-mata,” ia bercerita sambil tertawa.

Dia beruntung karena mampu mandiri secara finansial setelah pensiun, tetapi menekankan bahwa Indonesia kini menghadapi tantangan yang lebih besar dari sebelumnya, terutama di bidang narkoba, ujaran kebencian, dan politik yang memecah belah rakyat.

VETERAN PASCA-KEMERDEKAAN INDONESIA JUGA KESULITAN

Mereka yang bekerja di militer tak lama setelah kemerdekaan Indonesia juga menghadapi kesulitan keuangan.

Bapak Nawawi Sa’Ad (86 tahun), tinggal bersama putrinya yang berusia 34 tahun di Tangerang, di pinggiran Jakarta.

Bersama-sama mereka tinggal di rumah berukuran enam kali tujuh meter yang terbuat dari lantai semen dan dinding anyaman bambu, di tanah milik pemerintah.

Bapak Sa’Ad mengatakan bahwa para pejabat dari berbagai lembaga telah memeriksa rumahnya untuk memastikan apakah itu dapat direnovasi. Tapi begitu mereka tahu dia tidak memiliki izin untuk membangun rumah di tanah itu, mereka mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantunya.

Sama seperti Bapak Warsosoewito, Bapak Sa’Ad juga menerima tunjangan veteran bulanan sekitar 2 juta rupiah. Tetapi tidak cukup untuk merenovasi rumahnya, apalagi untuk membeli tanah.

Dia berperang melawan Belanda pada tahun 1960-an di Papua, dan ditempatkan di kapal selam selama 10 bulan.

“Setiap kali saya melihat tanah, saya sangat senang. Tapi kaki saya tidak pernah menyentuh tanah selama 10 bulan itu. Saya menghabiskan hari-hari saya hidup di bawah air,” katanya kepada CNA.

MASYARAKAT SIPIL AMBIL TINDAKAN

Kebutuhan untuk memberikan perhatian lebih kepada para veteran Indonesia telah menjadi prioritas bagi seorang warga Jakarta, Kriswiyanto Muliawan Wiyogo.

Bersama dengan teman-temannya, ia mendirikan sebuah yayasan bernama Sahabat Veteran, juga dikenal sebagai SaVe.

Sejak tahun 2010, SaVe telah mengadakan berbagai kegiatan untuk menunjukkan perhatian kepada para veteran Indonesia, dari merenovasi rumah mereka hingga memberikan pemeriksaan kesehatan gratis.

Wiyogo mengatakan bahwa kegiatan mereka sangat bergantung pada para pendonor atau komunitas yang ingin membantu para veteran atau bahkan ingin mengenal mereka.

Banyak pendonor adalah perusahaan besar yang memiliki inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), tetapi terdapat pula remaja dan bahkan anak TK yang ingin bertemu para veteran.

Dia mengatakan, generasi muda peduli terhadap masalah sosial, tetapi mereka sering tidak tahu bagaimana mereka dapat berkontribusi kepada masyarakat. Dalam hal ini, SaVe menjembatani dan menghubungkan masyarakat dengan para veteran.

“Tanpa veteran, tidak ada Indonesia. Karena mereka, kita ada. Bisa dikatakan, mereka adalah orang tua kita,” katanya kepada CNA. [cna]