-->

Breaking

logo

August 31, 2020

Pernyataan Halus Tapi Keras IDI Terkait Meninggalnya 100 Dokter Akibat Covid-19

Pernyataan Halus Tapi Keras IDI Terkait Meninggalnya 100 Dokter Akibat Covid-19

NUSAWARTA - Sudah 100 dokter di Indonesia meninggal akibat Covid-19. Disebutkan, itu lantaran beban kerja berlebihan, ditambah jumlah kasus baru yang terus bertambah.

Saat ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tengah berusaha membuat peta terkait apa saja penyebab meninggalnya para dokter itu.

Termasuk, di daerah mana saja paling berisiko bagi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 itu.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Mohammad Adib Khumaidi kepada JawaPos.com, Senin (31/8/2020).

“Ya 100 (dokter yang meninggal). Tapi kami masih mau coba buat tabling data dulu. Umur berapa, daerah mana, ada faktor komorbid atau tidak. Lakukan pelayanan di mana,” ungkapnya.

Menurutnya, pemetaan ini penting dilakukan agar lebih jelas sehingga risiko kematian dokter bisa ditekan.

“Kami enggak mau IDI seolah terkesan hanya ucapan duka cita doang,” terangnya.

Jika dilihat daerahnya, Jawa Timur saja mencatat 27 orang dokter meninggal dunia.

Dan di Jakarta dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di bawah 10 orang.

Ketika disinggung terkait banyak dokter yang gugur di dalam negeri dibandingkan negara tetangga, IDI tak mau gegabah menanggapi hal tersebut.

“Dibandingkan data luar negeri, masih kami cari perbandingan datanya. Karena data di luar negeri juga berubah-ubah,” jelasnya.

Adib mengakui, banyaknya kasus baru setiap hari membuat dokter kelelahan.

Padahal saat ini jam kerja dokter sudah dibagi menjadi tiga shift dan tak bisa lagi ditambah beban kerjanya.

“Jam kerja harus proporsional. Kelelahan bisa jadi faktor penyebab, kekurangan APD juga masih masuk di dalannya,” ungkapnya.

Begitu juga ketika dokter pulang ke rumah dan bertemu dengan banyak orang di dalam komunitas, bisa saja penularan terjadi.

Sehingga bukan selalu tertular dari pasien atau saat melakukan pelayanan.

“Karena kita kan dalam kehidupan sosial, kita bertemu dengan orang lain siapa saja, bisa berdampak juga,”

“Yang kami dorong adalah perilaku safety. Baik itu pelayanan, dan komunitas,” katanya. [pjst]