-->

Breaking

logo

August 26, 2020

Pertamina Merugi, Refly Harun: Ahok Bukan Superman, Komisaris Dekat Kekuasaan Biasanya Belagu

Pertamina Merugi, Refly Harun: Ahok Bukan Superman, Komisaris Dekat Kekuasaan Biasanya Belagu

NUSAWARTA - Kabar Pertamina merugi sampai Rp11 triliun menjadi pembahasan hangat nasional. Mata publik langsung menuju Basuki Tjaha Purnama atau Ahok yang menjabat sebagai komisaris Pertamina. Logika publik bertanya kok bisa di bawah Ahok kok Pertamina merugi, Refly Harun singgung soal kedekatan kekuasaan.

Publik heran, sebab Ahok pernah berujar Pertamina merem saja pasti untung. Lha kenapa kok sekarang ini malah merugi. Atas kkondisi ini, mantan Komisaris Utama Pelindo I, Refly Harun meresponsnya.

Ahok Bukan Superman

Refly mencermati Pertamina menghadapi tantangan berat untuk membalikkan kondisi rugi Rp11 triliun pada semester pertama 2020 ini. Dibanding periode yang sama tahun lalu, Pertamina malah mencetak untung Rp9 triliun.

Dengan kondisi ini, jika Pertamina mau membalikkan untung seperti kondisi tahun lalu, artinya Pertamina harus mencetak untung paling tidak Rp20 triliun. Refly menilai berat tapi bisa saja dicapai.

Berkaitan dengan posisi Ahok sebagai pengawas Dewan Direksi Pertamina, Refly menilai Ahok bukanlah superman yang bisa menyelesaikan semua persoalan BUMN minyak dan gas tersebut. Apalagi posisi Ahok di Pertamina hanyalah pengawas internal bukan eksekutor program Pertamina yang dijalankan dewan direksi.

“Kelebihan Ahok cuma satu saja, dia di-endorse kekuasaan jadi wibawanya tinggi. Omongannya didengarkan,” kata dia.

Namun demikian, posisi Ahok yang dekat dengan kekuasaan itu menyimpan potensi bumerang, yaitu konflik antara komisaris dengan direksi.

“Dewan komisairs kalau terlalu dalam masuk urusan sehari-hari bisa terjadi matahari kembar, crash di Pertamina. Padahal harus ada division of labour antara komisaris dengan direksi,” katanya di channel Youtubenya dikutip Rabu 26 Agustus 2020.

Komisaris Harus Orang Independen

Belajar dari kasus Ahok yang dekat dengan kekuasaan, Refly mengatakan, ke depan komisaris dan direksi Pertamina dan BUMN lainnya harus diisi orang independen dan profesional.

Maksud orang independen itu yaitu orang yang punya kemampuan bertindak secara mandiri dengan penilaian atau ukuran bisnis, bukan bertindak karena dasar dekat dengan kekuasaan. Biasanya direksi BUMN yang dekat dengan kekuasaan dan jika terjadi gesekan dengan komisaris, biasanya direksi akan menang sebab mereka pegang kunci operasional dan eksekusi perusahaan.

“Penyakit BUMN itu begitu, dekat dengan Istana itu. Kalau ada direksi dekat dengan kekuasaan atau dengan kementerian BUMN biasanya kemaki, belagu. Komisaris dekat kekuasaan belagu juga akhirnya bukan profesionalisme yang bertarung, tapi gesekan sering terjadi kuat kuatan siapa yang paling kuat anara direksi atau komisaris,” ujarnya.

BUMN Jangan Beking-bekingan Dong

Sebagai mantan komisaris utama BUMN, Refly memandang selama pengelolaan BUMN dengan cara beking-bekingan, maka perusahaan tak akan pernah maju. Sebab perusahaan bakal tak dijalankan secara profesional.

“Kalau caranya beking-bekingan seperti ini, karena dia dekat dengan kkekuasaan, dipandang orangnya presiden orang jadi tunduk tanpa rasionalitas. Maka tidak akan independen dan profesional. Padahal keduanya wajib kalau perusahaan itu mau maju,” jelasnya.

Refly mengingatkan BUMN dasarnya bukan cuma mencetak profit semata. Ada dua hal lain yang jangan dilupakan yakni agen pengembangan yang menjalankan fungsi pelayanan sosial publik. Selain itu BUMN wajib menciptakan nilai baru yang transpatan dalam pengelolaan perusahaan.

“Kaidah good corporate government, ini disepakati dan dijalankan bersama dan tak tergantung ayunan kekuasaan. Kalau masih begini sampai kapan pun BUMN tak profesionalisme siapa pun menteri dan presidennya akan ayunkan BUMN,” kata dia. [phs]