-->

Breaking

logo

August 15, 2020

Pohon Raksasa Ini Ada di Sumbar, Diduga Terbesar di Dunia

Pohon Raksasa Ini Ada di Sumbar, Diduga Terbesar di Dunia

NUSAWARTA - Pohon medang (Litsea Sp) dengan ukuran raksasa dengan diameter 4,6 meter, lingkaran 14 meter dan tinggi 34 meter tumbuh terjaga di hutan rakyat Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

“Ini pohon terbesar yang saya temukan di Sumbar, karena di hutan cagar alam Panti, Kabupaten Pasaman hanya berdiameter 2,5 meter dan tinggi 26 meter dengan jenis meranti. Berkemungkinan kayu medang ini salah satu terbesar di dunia,” kata Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Ade Putra, Sabtu(15/8).

Ia mengatakan, diameter kayu medang 4,6 meter, keliling 14 meter dan tinggi 34 meter itu berdasarkan pengukuran yang dilakukan Tim BKSDA saat melaksanakan kegiatan survei keanekaragaman hayati ekosistem darat di hutan rakyat Nagari Koto Malintang, Jumat(14/8).

Di hutan itu, tambahnya, tim juga menemukan puluhan pohon dengan berdiamater diatas satu meter yang didominasi pohon durian.

“Kita juga menemukan satwa dilindungi berupa beruang, kijang, kambing hutan, rangkong dan lainnya,” katanya.

Ade memberikan apresiasi tentang kearifan lokal dari masyarakat setempat dalam menjaga kondisi hutan, sehingga pohonnya berukuran besar.

Pihaknya berharap kearifan lokal ini dipertahankan dan di contoh oleh masyarakat lainnya, sehingga seluruh pohon di hutan Sumbar berukuran besar.

Sementara itu, Wali Nagari Koto Malintang, Naziruddin menambahlan di hutan rakyat dan hutan lindung daerah itu ada enam pohon jenis medang berukuran besar dengan usia sekitar 160 tahun.

“Pohon ini kami jaga dan pelihara semenjak ratusan tahun lalu, karena pohon itu penghasil air,” katanya.

Dengan adanya pohon berukuran besar itu maka pihaknya menerima anugerah Kalpataru 2013 kategori penyelamatan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Anugerah itu langsung diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Ke depan, keberadaan kayu itu akan dijadikan destinasi objek wisata minat khusus untuk menambah pendapatan masyarakat sekitar.

Sebelumnya pihaknya telah mengajukan pembangunan jalan dengan melelang kayu ke Pemkab Agam semenjak 2012.

Namun tidak ada respon dari pemerintah setempat, sehingga lokasi belum bisa di kembangkan.

“Saya menargetkan lokasi itu bakal menjadi destinasi wisata dan saya telah menyediakan lahan sekitar lima hektare di sekitar lokasi itu untuk mendukung target tersebut,” katanya. [ant]