-->

Breaking

logo

August 15, 2020

Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak RI

Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak RI

NUSAWARTA - Tak semua tentara yang pernah menjajah NKRI kembali ke negeri asalnya setelah Indonesia merdeka. Beberapa ada yang menetap di Tanah Air sampai menutup usia dan hidup bersama keluarga barunya.

Rahmat Shigeru Ono merupakan salah satu mantan tentara Jepang yang lebih memilih menetap di Indonesia. Ia hidup dengan keluarga barunya hingga menutup usia sekitar delapan hari setelah peringatan HUT Kemerdekaan RI 2014 lalu. Selain faktor usia, dia juga menderita beberapa penyakit yang akhirnya merenggut hidupnya.

Rahmat Shigeru Ono lahir pada 26 September 1919 di Furano, Hokkaido, Jepang dengan nama lahir, Sakari Uno. Ia lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berprofesi sebagai petani. Anak terakhir dari lima saudara tersebut diterima menjadi prajurit Jepang pada 1939.

Di dalam Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik karya Eiichi Hayashi, Shigeru tiba di Indonesia tepatnya di daerah Jawa bagian Barat sekitar 1942. Dia dipercaya menjadi kepala pasukan kecil di bawah Batalyon 153 yang bertugas menjaga ketentraman daerah. Waktu itu, Shigeru bertugas di daerah Cilacap, dekat sebuah penjara (Nusakambangan).

Pada masa awal kedatangannya, Shigeru menilai, masyarakat Indonesia sangat ramah. Rakyat menerima kehadiran para tentara Jepang dengan sangat baik. Tak jarang, mereka acap mendapatkan makanan berupa kelapa muda dari masyarakat setempat.

Saat masa awal pendudukan Jepang, tak ada perang yang terjadi di Indonesia. Situasi ini mengakibatkan beberapa tentara Jepang bosan lalu mencari hiburan dari mengonsumsi minuman keras sampai bermain perempuan. Berbeda dengan lainnya, Shigeru mengklaim lebih memilih belajar dan bekerja.

Selama beberapa tahun di Indonesia, Shigeru telah beberapa kali dipindahtugaskan ke beberapa daerah. Berbagai peristiwa sudah dia saksikan bersama para tentara Jepang lainnya. Hingga akhirnya tiba di masa Jepang berhasil dikalahkan oleh tentara sekutu yang memunculkan upaya Indonesia untuk memerdekakan diri.

Setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang, Shigeru menilai kondisi Indonesia malah semakin kacau. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh tentara Jepang tapi juga pemuda Indonesia.

“Kekacauan dan kerusuhan terjadi di mana-mana dan sangat jelas melibatkan keduanya,” kata Shigeru dalam Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik.

Kekacauan semakin besar ketika sekutu mulai berdatangan ke Indonesia setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya. Sejumlah pasukan khusus diturunkan dengan tujuan melucuti para serdadu Jepang. Kemudian berusaha mengembalikan para pasukan Jepang ke negara asalnya.

Keadaan semakin parah ketika Belanda berusaha untuk menjajah kembali Indonesia. Untuk menghadapi masalah tersebut, pemerintah Indonesia mulai mengumpulkan bekas tentara Jepang. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan mereka ke negara asalnya dengan selamat.

“Namun sebuah kelompok kecil terlupakan dalam sejarah. Mereka adalah para bekas tentara Jepang yang tidak kembali ke negeri asal mereka dan memilih menetap di sini (Indonesia), bahkan sebagai pejuang negara baru mereka,” ungkap Penulis Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik, Eiichi Hayashi.

Sejarawan Asvi Warman Adam dalam Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik mengatakan, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan para tentara Jepang bergabung dengan Indonesia. Alasan ideal, yakni keinginan mereka membebaskan Asia dari cengkraman bangsa kulit putih. Bisa juga karena Jepang sudah berjanji memerdekakan Indonesia namun tidak ditepati.

“Ada pula secara ekonomis, tentulah sangat sulit mencari pekerjaan di Jepang, negara yang porak-poranda akibat perang,” ucap Asvi.

Shigeru merupakan salah satu tentara Jepang yang lebih memilih menetap di Indonesia. Selain karena urusan keluarga dan tidak tersedianya pekerjaan layak di Jepang, dia juga merasa mempunyai utang janji pada Indonesia. Jepang gagal mewujudkan janji kemerdekaan sehingga dia pun mendedikasikan hidupnya membantu NKRI.

Shigeru dan dua temannya memutuskan keluar dari tentara Jepang untuk bergabung di militer Indonesia. Tepat sehari sebelum memasuki 1946, Shigeru resmi menjadi anggota tentara Indonesia. Nama ketiganya diubah oleh pimpinan pasukan polisi militer di Bandung menjadi nama Indonesia.

“Saya diberi nama Rahmat. Teman saya Tetsuo Katano diberi nama Karman dan terakhir teman saya Shunichi Takigawa namanya Adam. Sejak saat itu kami dipanggil dengan nama Indonesia,” jelas Shigeru dalam Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik. [rpb]