-->

Breaking

logo

August 25, 2020

Ratusan Petani Kembali Kepung Istana, “Tiba-Tiba Kami Dituding Tak Punya Surat Izin Polisi”

Ratusan Petani Kembali Kepung Istana, “Tiba-Tiba Kami Dituding Tak Punya Surat Izin Polisi”

NUSAWARTA - Ratusan petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) yang tergabung dalam gerakan Gerbang Tani (GT), kembali melakukan aksi lanjutan di Depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2020).

“Pagi hari ini jam 9 pagi kami sarikat petani Smalingkar dan Sei Mencirim mulai kembali lagi jalan kaki dari tempat penampungan kami kantor YTKI menuju istana negara Jakarta Pusat,” kata Dewan Ketua GT, Aris Wiyono.

“Apapun hambatan dan rintanganya terus akan kami tempuh dan jalani, termasuk hari ini hari yang kedua aksi kami menuju istana negara,” ujarnya.

Namun, kata Wiyono, aksi yang mereka lakukan tiba-tiba dituding tidak ada pemberitahuan kepada kepolisian.

“Padahal pemberitahuan kami jelas dari tanggal 25 juni sampai dengan selesai, dan kami akan terus berjalan apapun yang terjadi,” tegasnya.

Ia mengatakan, bahwa aksi yang mereka lakukan adalah sesuai dengan komitmen dan tujuan awal perjuangan sejak brangkat dari Medan Sumatra Utara berjalan kaki ke Jakarta.

hal itu mereka lakukan, lanjutnya, hanya untuk mencari keadilan dan berharap ketika sampai di Jakarta bisa bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo.

Karena menurutnya, hanya Jokowi yang dapat menyelesaikan persoalan konflik agraria yang menimpa para petani selama ini.

Sebelumnya, ratusan petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) yang tergabung dalam Gerbang Tani akan longmarch dari Kantor YTKI Gatot Subroto menuju Istana Negara, Jakarta pada pagi ini, Senin (24/8 ).

Ratusan petani ini sebelumnya telah berjalan kaki selama 41 hari dari Medan ke Jakarta. 

Mereka telah menempuh jarak lebih dari 1800 km dan tiba di Jakarta pada Jumat (8/8) lalu.

Hal itu dilakukan, meminta Presiden Joko Widodo untuk membantu mengembalikan tanah mereka yang sudah dirampas oleh PT. Perkebunan Nusantara II atau PTPN.

“Kami tidak mencuri Tanah. Tapi tanah Kamilah yang dirampas oleh korporasi plat merah daerah yang dibantu oleh TNI-Polri menghancurkan menghancurkan, merampas rumah-rumah kami, ”teriak salah satu orator di atas mobil komando. [pjst]