-->

Breaking

logo

August 18, 2020

Risma Kembali Pamitan, Ini Pesan Visioner yang Nggak Boleh Diabaikan Calon Penerusnya

Risma Kembali Pamitan, Ini Pesan Visioner yang Nggak Boleh Diabaikan Calon Penerusnya

SEWORD - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kembali berpamitan. Menjelang berakhirnya masa jabatan yang akan selesai pada Februari 2021 nanti, Bu Risma memakai momen peresmian lapangan olahraga di Tambak Asri, Surabaya, pada Minggu (16/8/2020), untuk menyampaikan pidato perpisahan.

Bu Risma pun menyampaikan kerinduan hatinya, bahwa beliau ingin melihat warga Surabaya mengalami kemajuan atau peningkatan mutu kualitas SDM, tak hanya kotanya yang menjadi cantik dengan infrastruktur yang berkembang.

"Tujuan saya memang untuk membangun motivasi karena tidak ada gunanya saya bangun Surabaya bagus-bagus, tapi manusianya tidak mendapatkan apa-apa, kan eman (sayang. Saya ingin menyampaikan, kenapa saya masih bertahan jadi wali kota. Karena, tujuan saya (ingin) warga Surabaya lebih sejahtera," tutur Risma.

Wali Kota yang dikenal suka berbicara tegas dan tanpa basa-basi ini juga berkata bahwa beliau ingin warga Surabaya berjuang, bergerak, dan jangan sampai menjadi penonton di kotanya sendiri. T’rus ada pula pesan motivasional buat anak-anak Surabaya, yang disebut Bu Risma berhak untuk sukses dan berhasil lewat perkataan ini:

"Kalian semua berhak sukses dan berhak berhasil. Sekarang, jangan lagi bilang saya hanya anaknya tukang becak dan sebagainya, meskipun anaknya tukang becak, kalian masih bisa berhasil, asalkan kalian mau bekerja keras. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, asalkan kalian mau."

By the way ... awas jangan ada yang memelintir ucapan Bu Risma yang bagian ini ya. Beliau jelas tidak sedang memandang rendah atau menganggap remeh profesi sebagai tukang becak. Namun, beliau sedang mengobarkan semangat dan memberi motivasi agar anak-anak dari keluarga yang sederhana berani bermimpi, yakin bahwa mereka bisa berhasil, dan mau bekerja keras dengan penyertaan Tuhan. Kehidupan Bu Risma sendiri dapat menjadi contoh sekaligus inspirasi, sebagai wanita pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Surabaya, melalui pemilihan langsung, selama dua periode pula!

Bagi saya, terlepas dari keterbatasan beliau sebagai manusia biasa, kerinduan dan hasil kerja yang beliau tunjukkan sebagai orang nomor satu di Surabaya patut diacungi jempol. Sejak beliau menyulap wajah Surabaya menjadi lebih enak dipandang dan menyegarkan, saya bahkan ingin setiap saat ada waktu pergi ke Surabaya, menengok kota kelahiran sambil bernostalgia dan menikmati kuliner khas Suroboyo-an.

Apa yang dikerjakannya sungguh visioner, memikirkan masa depan warga Surabaya ketika beliau sudah tidak lagi menjabat. Saya sih setuju. Apalah artinya jabatan seorang Wali Kota, kalau ketika menjabat tidak ada perkembangan nyata terhadap kondisi kotanya juga kualitas SDM di dalamnya. Apa gunanya menjadi pemimpin daerah jika tidak ada sesuatu yang bisa dikenang dan terpatri kuat dalam benak warganya, seperti yang kelak akan ditinggalkan oleh Bu Risma bagi warga Surabaya.

Sejatinya pemimpin yang visioner seperti inilah yang diperlukan, bahkan tak hanya bagi warga Surabaya. Ada kerinduan untuk meningkatkan kualitas SDM warganya, bukan terus-menerus diberi janji kosong dan kata-kata manis tapi realitasnya bau amis, dengan harapan mereka menjadi pribadi yang lebih baik, supaya kualitas kotanya juga bisa terangkat. Peningkatan kualitas yang seharusnya menjadi hak setiap warga, tak hanya bagi golongan tertentu, tak hanya bagi kaum berduit, atau mereka yang kebetulan dekat dengan para penguasa suatu daerah.

Otoritas dan segenap sumber daya yang dimiliki oleh Pemkot, Pemkab, dan Pemprov ... memang sudah selayaknya dipakai untuk meningkatkan kualitas hidup warga di daerah tersebut, tanpa ada niat untuk menggolkan kepentingan pribadi, kelompok, atau partai dari mana sang pemimpin daerah itu berasal.

Ketika seorang pemimpin daerah sudah terpilih dan dilantik secara resmi, seharusnya pemimpin daerah terpilih ini menyadari sepenuhnya bahwa dia adalah pemimpin bagi seluruh warga, tak hanya mereka yang memilih sewaktu hari pencoblosan.

Inilah yang seharusnya bisa dipahami dengan baik oleh calon penerus Tri Rismaharini kelak, siapa pun dia, laki-laki atau perempuan, kader PDI Perjuangan atau kader partai lain. Apa yang sudah dibangun dengan berjerih lelah oleh Tri Rismaharini seharusnya bisa diresapi, lalu diteruskan sampai niatan mulia tadi terwujud. Tentu saja dengan membuka kemungkinan adanya perbaikan terhadap segala sesuatu yang dirasa masih kurang selama kepemimpinan Bu Risma sebagai Wali Kota Surabaya.

Apakah nantinya visi luar biasa dari seorang Tri Rismaharini bisa diteruskan, bahkan dikembangkan dengan lebih mantap lagi oleh penerusnya? Kita tunggu bersama. Semoga kejadian seperti Jakarta sepeninggal Ahok-Djarot tidak sampai terjadi di Surabaya yah ... dan saya yakin tidak akan terjadi karena Surabaya berbeda dengan Jakarta.

Begitulah kura-kura...