-->

Breaking

logo

August 16, 2020

Rumah Pembacaan Proklamasi Ternyata Milik Keluarga Keturunan Arab

Rumah Pembacaan Proklamasi Ternyata Milik Keluarga Keturunan Arab

NUSAWARTA - Rumah pembacaan teks naskah proklamasi yang dinyatakan oleh Soekarno ternyata milik keluarga keturunan Arab. Ia juga kerap membantu kemerdekaan Republik Indonesia.

Perumusan hingga pembacaan teks naskah proklamasi memiliki sejarah panjang dan tak hanya melibatkan segelintir orang. Sejumlah tokoh yang terlibat dalam peristiwa bersejarah itu pun mempunyai peran dan jasanya tersendiri.

Salah satunya kepemilikan rumah ketika naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan. Mungkin selama ini kita hanya mengetahui, bahwa proklamasi tersebut dibacakan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur no. 56, atau justru sepengatahuan kita rumah tersebut adalah milik Soekarno.

Ternyata, rumah yang menjadi saksi bisu dibacakannya teks proklamasi tersebut adalah milik keluarga saudagar keturunan Arab bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak atau dikenal sebagai Faradj Martak.

Pria yang dilahirkan di Hadhramaut (Yaman) pada 1897 ini, datang ke Indonesia pada tahun 1940. Kedatangannya ke tanah air bersama keluarga Badjened tak lain untuk merintis sebuah usaha yakni N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Martak Badjened.

Lalu salah satu anaknya bernama Ali bin Faradj Martak memiliki hubungan dan kedekatan khusus dengan para tokoh pergerakan nasional, terutama Bung Karno. Ia pun didapuk sebagai penerus usaha yang diwarisi oleh ayahnya.

Sebagai pengusaha yang sukses, ia pun kerap membantu para tokoh pergerakan dalam mewujudkan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu bentuk perjuangan Faradj bin Said ialah dengan memberikan rumahnya di Pegangsaan Timur nomor 56 secara cuma-cuma kepada para tokoh nasional.

Konon di rumah yang dihibahkan ini pula Ibu Fatmawati mengeluarkan air mata sambil menjahit Bendera Pusaka Merah Putih pada malam sebelum teks proklamasi dinyatakan.

Sempat Mengobati Soekarno Ketika Sakit Malaria

Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, Soekarno jatuh sakit karena terserang penyakit malaria. Kala itu, sosok yang dikenal sebagai singa podium ini hanya bisa terbaring dengan kondisi badan demam dan menggigil.

Mengetahui sahabatnya sedang terbaring sakit, Faradj bin Said memberikan obat tradisional Hadramaut yaitu Sidr Bahiyah atau madu Arab. Madu tersebut dikenal memiliki khasiat tinggi dan sudah teruji selama ratusan tahun sebagai obat antibiotik dan antiseptik.

Tak lama setelah meminum obat yang diberikan Faradj bin Said, penyakit malaria yang kerap diderita Soekarno semenjak dalam pengasingan tersebut berangsur-angsur menghilang, kesehatannya pun berangsur membaik. Lalu, dengan didampingi Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh lainnya, Soekarno menyatakan proklamasi kemerdekaan di depan rumah Faradj bin Said di Jalan Pegangsaaan Timur No.56.

Mendapat Penghargaan dari Pemerintah

Beberapa tahun setelah momentum bersejarah tersebut, pada 14 Agustus 1950, pemerintah RI melalui Menteri Pekerjaan Umum dan Pehubungan Indonesia, Mananti Sitompoel memberikan sebuah pengharagaan dan ucapan terimakasih kepada keluarga Martak karena telah berjasa membantu kemeredekaan bangsa Indonesia.

Salah satu jasanya ialah telah menghibahkan sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur bagi para tokoh nasional untuk menyatakan kemerdekaan.

Diketahui, rumah tersebut sempat menjadi tempat tinggal bagi Bung Karno. Namun sejak tahun 1962, bangunan itu diratakan dan dibangun sebuah Gedung Alur atau Gedung Pola.

Kini bangunan tersebut dikenal sebagai monumen Tugu Proklamasi. Sejak saat itulah, Jalan Pegangsaan Timur berganti nama menjadi Jalan Proklamasi.

Selain menghibahkan rumahnya, ia juga pernah memberikan tanah dan bangunan untuk masjid besar Al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Meski tak seterkenal tokoh-tokoh lainnya, namun perjuangan dan ketulusan keluarga Martak dalam membantu para tokoh pergerekan perlu diapresiasi ya guys. [hops]