-->

Breaking

logo

August 16, 2020

Rumah Penculikan Rengasdengklok Ternyata Milik Keluarga Tionghoa

Rumah Penculikan Rengasdengklok Ternyata Milik Keluarga Tionghoa

NUSAWARTA - Sebelum dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, sejumlah tokoh dari golongan muda sempat menculik Soekarno dan Hatta. 

Kedua tokoh proklamator itu dibawa ke rumah seorang tuan tanah keturunan Tionghoa di Rengasdengklok, Karawang.

Peristiwa pengasingan atau penculikan Soekarno dan Hatta itu terjadi sehari sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada dini hari pukul 03.00, tanggal 16 Agustus 1945.

Kala itu, terjadi sebuah perdebatan antara golongan muda dan golongan tua soal waktu yang tepat dalam memproklamirkan kemerdekaan, mengingat keadaan Indonesia sedang dalam posisi kekosongan kekuasaan alias vacuum of power.

Golongan tua yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta cenderung memilih kemerdekaan dengan cara teroganisir yakni bekerja sama dengan pihak Jepang tanpa terjadi keributan dan pertumpahan darah. 

Rencananya mereka akan membahasnya dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Golongan muda yang mengetahui hal itu, menolak mentah-mentah, lantaran menganggap PPKI adalah organisasi bentukan Jepang. Golongan muda yang dipimpin Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana lebih menyetujui kemerdekaan dilakukan secara mandiri tanpa campur tangan pihak lain.

Agar dua tokoh proklamator itu terhindar dari pemikiran Jepang yang akan menghambat proklamasi kemerdekaan, golongan muda pun mengamankan mereka ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok, Karawang. Daerah ini dipilih karena lokasinya yang dianggap aman dari tentara Jepang.

Nah, rumah yang dimaksud dalam peristiwa bersejarah itu adalah milik seorang tuan tanah berdarah Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Pada masanya ia sempat memiliki dua hektar tanah di sekitar rumahnya.

Djiaw Kie Siong merupakan warga keturunan Tionghoa Hakka. Menurut penuturan cucunya, ia dilahirkan pada tahun 1880 di desa Pisangsambo, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Djiaw Kie Siong merupakan petani sekaligus pedagang sayuran yang ia tanam sendiri. Sejumlah sayuran yang ia tanam di sekitar tanahnya, yakni Singkong, timun, kacang, dan terong. Setelah panen usai, biasanya para tengkulak menghampiri rumahnya untuk memborong.

Di sana lah Soekarno, Hatta, bersama Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi di asingkan. Tak lama berselang, pada pukul 16.00, Subardjo ditemani oleh Sukarni, Soebeno, dan Sutardjo Kartohadikoesoemo bertemu dengan Soekarno di rumah itu, lalu mereka sempat melakukan rapat menentukan hari yang tepat untuk dibacakannya proklamasi kemedekaan.

Hasilnya, mereka sepakat bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00. [hps]