-->

Breaking

logo

August 14, 2020

Sebelum Nota Keuangan Tiba-tiba Sri Mulyani Posting Foto Jadul Bersama Jokowi, Takut Direshuffle?

Sebelum Nota Keuangan Tiba-tiba Sri Mulyani Posting Foto Jadul Bersama Jokowi, Takut Direshuffle?

NUSAWARTA - Melalui akun instagramnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenang peristiwa 22 tahun yang lalu saat dirinya bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sebuah seminar di Solo yakni tepatnya 14 Agustus 1998. Peristiwa itu dikenang melalui fotonya bersama Presiden Jokowi. 

Dalam keterangan foto itu, Sri Mulyani menuliskan "Throwback 22 tahun yang lalu. 14 Agustus 1988 - 22 tahun lalu kamu ada di mana?" 

Bendahara Negara itu membeberkan bahwa foto-foto itu diambil saat Indonesia mengalami Krisis ekonomi yang dahsyat. Saat itu, dirinya yang masih menjadi seorang ekonom dari Universitas Indonesia diminta untuk menghadiri sebuah seminar di Solo.

Ia diminta menjelaskan mengapa krisis dapat terjadi dan bagaimana menyelamatkan Indonesia ke depan. Katanya, pengundang dan sponsor seminar tersebut adalah Jokowi.

Ia adalah seorang pengusaha eksportir furnitur yang justru mendapatkan berkah luar biasa dalam kondisi krisis tersebut, karena penerimaan ekspor dalam US dollar melonjak lebih dari enam kali lipat.

Sri Mulyani menceritakan dengan detil soal bagaimana Presiden Joko Widodo bisa mencapai kesuksesan dalam menghadapi krisis saat itu.

Namun, apakah unggahan di instagramnya ini berkaitan dengan adanya isu Reshuffle terhadap sejumlah menteri di Kabinet Kerja? Pasalnya salah satu Menteri yang selalu menjadi sorotan perihal kinerjanya adalah Sri Mulyani. Dan pada hari ini (14/8/2020), Jokowi juga akan memaparkan poin-poin APBN hasil rancangan Sri Mulyani Cs.

Seperti diketahui, sebelumnya Presiden Jokowi geram terhadap kinerja sejumlah menteri dalam menangani Covid-19 dan yang malah bekerja layaknya kondisi 'normal' padahal situasi saat ini dinilai mengalami krisis.

Bahkan, Jokowi sampai mengeluarkan ancaman Reshuffle kepada para pembantunya yang dinilai begitu-begitu saja.

Salah satu yang disinggung Presiden Jokowi yakni lambatnya pencairan belanja-belanja di kementerian. Dimana dalam hal ini Menteri Keuangan sebagai bendahara umum negara yang menjadi memegang kendali keuangan negara.

Padahal, menurut dia jika dana ini segera cair jelas-jelas akan membuat konsumsi masyarakat meningkat. Sehingga Jokowi menegaskan bahwa pencairan harus bisa dipercepat, bila perlu aturan-aturan yang perlu diterbitkan segera dilakukan.

Ia pun tak segan untuk menerbitkan Perpres asalkan bisa membuat dana ini segera cair.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira pun meminta Presiden Jokowi untuk mengevaluasi Sri Mulyani karena dianggap belum mampu menjaga pembiayaan utang secara lebih bijaksana.

Seharusnya, menurut Bhima, Sri Mulyani mampu mencari sumber alternatif seperti pembubaran lembaga atau kementerian yang tidak produktif ketimbang menerbitkan utang-utang baru.

"Rasio utang terus naik. Di saat yang sama, beban pembayaran bunga utang menggerus belanja," ucapnya beberapa waktu lalu. [akrt]