-->

Breaking

logo

August 8, 2020

Siapa Kiai Singkil yang Makamnya di Depan Kantor Bupati Demak?

Siapa Kiai Singkil yang Makamnya di Depan Kantor Bupati Demak?

NUSAWARTA - Sebuah nisan berada di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak, Jawa Tengah dipercaya sebagai 'makam' Kiai Singkil. Lantas, siapa sebenarnya sosok Kiai Singkil?

"Makam itu sebuah tanda bahwa Syekh Singkil pernah berdomisili di Demak sementara waktu, di dalam rangka mendukung Demak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Majapahit," kata Plt Kasi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Demak Ahmad Widodo di kantornya, Jumat (7/8/2020).

"Di makam tersebut adalah, tenan opo ora (benar atau tidak), orang-orang yang memiliki spiritual tahu bahwa di situ terdapat pusaka. Kalau ada pusaka, berarti pusaka Syekh Singkil tadi yang ditanam di sana, untuk pangingetan (pengingat) bahwa pernah berada di sana. Berarti pernah ada di daerah Demak," jelas widodo

Widodo menyebut, pertanda makam Kiai Singkil tersebut lebih kepada suatu tanda bahwa Kiai Singkil dari Kerajaan Pasai, Aceh, pernah membantu Demak dalam upaya pembebasan dari kekuasaan Majapahit.

"Versi saya, dari beberapa pendapat dan pengamatan, lebih kepada di mana para ulama dan wali se-nusantara, mendukung kebebasan Demak di bawah tekanan Majapahit, karena Brawijaya pernah melarang penyebaran agama Islam, termasuk para wali se-nusantara," tuturnya.

Demak, lanjutnya, saat itu didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam terlebih dulu. Seperti Kerajaan Pasai-Aceh, Sumatra, Jambi. Ia menjelaskan, Kiai Singkil tersebut berasal dari ulama Aceh.

Ia menambahkan, Kiai Singkil dari Kerajaan Aceh menyatu dengan Demak, membantu Demak dalam upaya melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

"Demak didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam dulu, seperti kerajaan Pasai-Aceh, terbukti Syekh Singkil datang ke sini," jelasnya.

"Pada zaman dulu tidak makam. Mungkin beliau (Kyai Singkil) berdomisili di situ. Di situlah mereka memberikan suatu tanda, barangkali suatu pusaka sebagai suatu kenang-kenangan," jelasnya yang juga sebagai Kepala Museum Glagah Wangi UPTD Dindikbud Demak.

Ia menjelaskan, keberadaan kiai dan ulama zaman dahulu berdomisili di dekat sungai. Begitupun setelah meninggal, lanjutnya, dimakamkan di dekat area rumah, antara sisi kanan rumah atau kirinya.

Dirinya menyimpulkan, keberadaan makam tersebut merupakan sebuah pertanda, Kiai Singkil pernah ada dan berdomisili di Demak, dalam rangka mendukung Demak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Majapahit.

Widodo mengatakan, makam tersebut tidak menghadap sebagaimana laiknya makam umumnya. Dirinya cenderung menyebut makam tersebut sejajar dengan Masjid Agung Demak.

"Coba kamu urutkan, Masjid (Agung Demak) menghadap ke mana dan makam tersebut ke mana," tutur Widodo.

Widodo menambahkan, makam Kiai Singkil tersebut memiliki dua versi cerita. Pertama makam tersebut merupakan era Kasultanan Demak. Kedua, sebagai pusaka yang dulunya ditanam pada sebuah tanggul pencegah air masuk ke keraton.

"Dua versi, yang jelas makam itu era Kasultanan Demak. Sementara versi kedua, legenda dari orang-orang, sebagai tanggul atau bendung, supaya air tidak masuk ke keraton. Sebelahnya (Kali Tuntang) ada gundukan atau tanggul sampai panjang sekali. Pusaka itu untuk dijadikan tanggul, agar air tidak masuk dalam keraton," tutur Widodo.

Terkait perawatan nisan tersebut, Widodo menyebut, pembangunan makam dalam bentuk keramik dan pembatasnya, bukan dari pemerintah melainkan dari orang yang memiliki kedekatan secara spiritual dengannya.

"Bukan pemerintah, justru orang-orang yang peduli. Wallahualam (dari orang Demak atau luar Demak). Orang peduli dalam tanda kutip dia memiliki spiritual yang lebih. Sehingga, memberanikan diri untuk membangun. Yang jelas sudah meminta izin ke aparat setempat saat itu," ungkapnya.

Sementara untuk alasan tidak memindahkan makam tersebut, Widodo menyebut, sebagai cagar budaya dan upaya menghormati syuhada yang berjuang untuk Demak.

"Bagaimanapun juga usia makam tersebut lebih dari 50 tahun, dan nisannya masih asli, itu merupakan cagar budaya. Kita juga menghormati syuhada yang berjuang untuk Demak," terang Widodo. [dtk]