-->

Breaking

logo

August 29, 2020

Supaya Ekonomi Pulih Kembali, Sri Mulyani Minta Masyarakat Sering-sering Nongkrong di Warkop

Supaya Ekonomi Pulih Kembali, Sri Mulyani Minta Masyarakat Sering-sering Nongkrong di Warkop
NUSAWARTA - Ada dua perkiraan terkait rendahnya konsumsi, Bisa jadi karena rakyat sedang tak punya duit, atau malas belanja karena maunya ngirit. Meski pusat perbelanjaan telah dibuka dan perjalanan tercatat telah menanjak sejak Juni, namun aktivitas masyarakat seperti 'nongkrong' atau 'nongkrongtivitas' masih rendah.

"Konsumsi menurun sangat tajam karena kalangan menengah bawah dalam situasi sangat rapuh. Kalangan menengah atas di rumah tapi masih bisa kegiatan digital, beli online. Tapi tidak mensubstitusi yang biasanya, pergi beli kopi atau nongkrong di warung, itu tidak terjadi," ujar Sri Mulyani lewat video conference, Jumat (28/8/2020).

Ia mengungkapkan, data Google Mobility Indeks (GMI) sejak Juni telah menunjukkan pergerakan yang membaik. GMI Juni tercatat minus 12 dari normal, membaik dari perolehan Mei yaitu minus 24. Namun, hal tersebut tak lantas menjamin masyarakat melakukan konsumsi atau berbelanja.

Menurutnya, konsumsi masyarakat tak terjadi, ini terbukti dari capaian konsumsi pada kuartal II-2020 yang minus 5,51%. Pasalnya, masyarakat menengah ke bawah yang memiliki situasi keuangan rapuh tak dapat melakukan konsumsi. Sementara kalangan menengah ke atas meski masih berbelanja namun tak sekencang normal.

Oleh karena itu, Sri Mulyani menyebut pemerintah akan kian gencar menyalurkan stimulus seperti bantuan sosial (bansos), mau pun bantuan tunai langsung (BLT) kepada 40% masyarakat terbawah.

Tak hanya dari sisi konsumsi (permintaan), perangsang juga diberikan dari sisi produksi dengan menyalurkan kredit usaha baru serta stimulus untuk dunia usaha baik UMKM mau pun korporasi. "Pemerintah memformulasikan kebijakan melihat 2 sisi, permintaan atau konsumsi terutama kelompok rapuh tapi juga memberi confidence (keyakinan) untuk kelompok menengah atas agar mereka bisa mulai melakukan aktivitas dan konsumsi," jelas mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini.

Namun, itu saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan. Pasalnya, investasi selama pandemi anjlok, minus 8,6% selama pada kuartal II 2020. Untuk mendongkrak pertumbuhan kuartal III dan IV tahun ini, pemerintah sejak Agustus telah mengakselerasi belanja lintas kementerian. Salah satunya, dengan melanjutkan pembangunan infrastruktur yang memungkinkan.

Kementerian teknis seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Perhubungan disebutnya mendapat mandat untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur yang sempat terhenti pada kuartal II lalu.

Harapannya, permintaan akan tumbuh dari pembangunan infrastruktur tersebut. "Infrastruktur merupakan salah satu indikator menjaga produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur memiliki dua sisi mata pedang, sisi permintaan dan sisi produksi," kata Sri Mulyani. [bzlw]