-->

Breaking

logo

August 26, 2020

Tak Cukup Sebatas Idealisme, Pancasila Harus Jadi Cara Berpikir dan Bertindak

Tak Cukup Sebatas Idealisme, Pancasila Harus Jadi Cara Berpikir dan Bertindak

NUSAWARTA - Kepekaan bangsa Indonesia terhadap urgensi nilai Pancasila harus diakui belum mencapai titik yang diharapkan. Jika diamati sekarang ini, Pancasila yang berfungsi sebagai Ideologi bangsa dan paradigma bangsa, hanya diajarkan semata, tapi tidak terlihat adanya perilaku yang nyata dari masyarakat maupun generasi muda.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, mengakui Pancasila saat ini hanya sebatas pengajaran definisi tanpa adanya implementasi.

Lebih jauh dari itu, rohaniawan ini juga mengakui Pancasila sebagai pola pikir hanya sebatas idealis, sedangkan realisnya sudah tidak terlihat lagi.

Padahal, posisi Pancasila yang fundamen, seharusnya menjadikan ideologi yang mampu menyatukan ribuan suku di Indonesia ini menjadi pandangan hidup. Benny mengatakan Pancasila harus menjadi acuan cara berpikir dan bertindak bagi masyarakat Indonesia.

Hal itu ia sampaikan dalam Webinar BPIP bersama Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabes TNI AU) dengan tema "Pembekalan Bintal Rohani, Ideologi, dan Tradisi Kejuangan TNI AU, Rabu, 26 Agustus 2020.

‘’Pancasila harus menjadi cara berpikir, bernalar, bertindak, dan berelasi. Pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi keyakinan bagi seluruh rakyat yang menjadi cita-cita yang diwujudkan dengan konkret untuk mewujudkan kesejahteraan,’’ kata Benny dalam webinar tersebut.

Benny menerangkan, jika bangsa yang multikultural tidak memiliki sebuah pola pikir yang benar dan sehat, konsekuensinya sangat mudah muncul pola pikir yang dapat mempertaruhkan keutuhan dan kedamaian negeri ini. Tindakan ekstremisme dan separatisme adalah contoh dari akibat tidak teramalkannya nilai-nilai Pancasila.

Ia menegaskan Pancasila adalah penawar dari kecenderungan pola pikir yang ekstrim dan radikal. TNI sebagai garda terdepan menjaga kedaulatan Indonesia dari hal-hal tersebut, harus mempunyai bekal yang matang mengenai apa itu Pancasila.

Filosofi "apa itu" adalah mencari dan memahami esensi berikut substansi suatu objek. Tanpa memahami esensi dan substansi Pancasila, siapapun akan mudah digoyahkan dengan ideologi asing di luarnya.

Mempelajari dan mengamalkan Pancasila, bukanlah aktivitas yang berhenti sampai di bangku sekolah atau seminar, tetapi ia merupakan kegiatan yang terus-menerus dilakukan sepanjang zaman. “Pancasila sebagai ideologi bangsa harus menjadi dasar atau pondasi bagi seluruh lapisan masyarakat,’’ tegas Benny.

Alumni Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang ini menekankan bahwa semua pemangku kepentingan yang membuat kebijakan publik pun harus bahu-membahu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap regulasinya.

Hal itu, kata Benny, akan membawa Pancasila menjadi keyakinan yang nantinya mampu membawa bangsa ini dalam mewujudkan cita-citanya. Namun, perlu dicatat, penanaman nilai-nilai Pancasila tidak boleh dilakukan secara doktrinal seperti tempo dulu, tetapi harus menjadi habituasi atau kebiasaan.


"Pancasila bukan dipaksakan secara doktrinal, tetapi harus menjadi kebiasaan. Sebenarnya orang yang taat kepada tuhan dirinya maka akan secara otamatis akan mengamailkan nilai-nilai kemanusiaan,’’ jelas Benny.

Dalam kesempatan itu, Benny juga mengingatkan urgensi mengenai kedaulatan pangan yang harus menjadi fokus bangsa, khususnya di era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sejurus dengan itu, ia mengingatkan dalam kemajuan teknologi seperti sekarang, masyarakat harus mampu merebut ruang publik dan menghiasinya dengan konten positif.

‘’Kedulatan pangan juga harus diperjuangkan dengan cara pembelaan pada petani, peningkatan kesejahteraan petani, tercukupinya kebutuhan pangan dalam negeri, meningkatkan kemandirian,” kata Benny.