-->

Breaking

logo

August 14, 2020

Terdampar di Kapal Asing, 3 Warga Jabar Minta Tolong Jokowi

Terdampar di Kapal Asing, 3 Warga Jabar Minta Tolong Jokowi

NUSAWARTA - Tiga Warga Negara Indonesia (WNI) asal Jawa Barat terdampar di atas kapal asing jenis kargo pendingin MV Ocean Star 86 selama delapan bulan dengan status pekerjaan tidak jelas. 

Mereka meminta pertolongan Presiden Joko Widodo untuk diselamatkan.

Dua dari tiga orang WNI tersebut merupakan berasal dari Palabuhanratu, Sukabumi yakni Guspiyadi dan Dadan. Sementara satu orang lagi asal Depok Naufal Hibatulah.

Kabar adanya tiga WNI yang meminta pertolongan itu viral melalui aplikasi perpesanan. Sebuah foto menunjukkan tiga WNI asal Jabar nampak memegang tulisan yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Dalam tulisannya mereka berharap adanya pertolongan dari pemerintah.

"Pak Jokowi tolong kami agar bisa pulang dan evakuasi kami secepatnya....Nasib kami tidak jelas di China kami kami di terlantarkan selama 8 bulan dan tidak ada kepastian untuk di pulangkan disini kami serba kekurangan dan mandi pun sudah pakai rinso dan uang kami sudah habis. Kami sangat memohon untuk evakuasi dan di pulangkan ke Indonesia tercinta. Saya udah melapor kesana kemari tapi gak ada tindakan sama sekali. Kami sudah lapor ke kedutaan tapi hanya dibilang untuk sabar dan sabar," tulis mereka.

Guspiyadi salah seorang WNI yang meminta pertolongan menjelaskan, saat ini dia dan dua rekannya berada di Kapal MV Ocean Star 86. 

Mereka sudah delapan bulan tertahan tidak bisa kemana-kemana dari kapal tersebut.

"Kami saat ini berada di Kapal MV Ocean Star 86, kami sebenarnya yang tanpa status 6 orang, tiga dari Jawa Barat. Status kami titipan, sudah dari 8 bulan lebih," kata Guspiyandi melalui aplikasi perpesanan, Jumat (14/8/2020).

Guspiyandi menjelaskan saat ini posisi kapal tengah sandar di Pelabuhan Dhongsan, China. Mereka tidak berani keluar, permohonan pertolongan sudah diajukan namun menurutnya diabaikan oleh perwakilan pemerintah Indonesia.

"Saya sudah bekerja sampai selesai kontrak dan tidak mendapat hak-hak saya. Di sini sekarang nasib kami tidak jelas di China, saya udah ngelapor ke sana kemari tapi enggak ada tindakan sama sekali. Ke kedutaan sudah, jawabannya hanya diminta sabar," tuturnya.

Upayanya meminta tolong kepada kapten kapal juga sia-sia. Mereka mengaku kerap dibohongi akan dipulangkan dan disuruh bekerja namun tanpa upah. Bukan hanya untuk makan, untuk mandi saja mereka terpaksa menggunakan sabun pembersih pakaian.

"Untuk makan dan peralatan mandi kami mengemis ke pekerja asal Filipina, kami minta sabun karena konsulat mereka responsif dan mengirimkan makanan dan sabun," ujar Guspiyandi. [dtk]