-->

Breaking

logo

August 13, 2020

Viral Skripsi 'Zionis' Berdaftar Pustaka Medsos, Ini Kata Kemendikbud

Viral Skripsi 'Zionis' Berdaftar Pustaka Medsos, Ini Kata Kemendikbud

NUSAWARTA - Viral mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyusun skripsi yang membahas zionis dengan merujuk pada laman media sosial. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) angkat bicara terkait hal itu.

"Secara umum bahan pustaka yang dapat disitir adalah yang kebenaran ilmiahnya sudah teruji," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud Nizam saat dikonfirmasi detikcom pada Rabu (12/8/2020).

Cara menyitir bahan pustaka dari media sosial (medsos) tidak berkaitan dengan lulus tidaknya seorang mahasiswa. Menurutnya, proses kelulusan mahasiswa dinilai melalui karya tulisnya yang harus memenuhi kaidah ilmiah.

"Penyitiran medsos tidak ada kaitannya dengan lulus atau tidak lulus. Tergantung pada karya tulisnya itu sendiri. Yang penting karya tulis tersebut sudah memenuhi kaidah ilmiah," ujar Nizam.

Nizam juga mengatakan sebuah karya tulis harus dapat dibuktikan isi tulisannya. Selain itu, menurutnya, harus memiliki logika di dalamnya.

"Bisa dibuktikan kebenaran isi tulisan dan logika penyimpulannya," ujar Nizam.

Sebelumnya kualitas sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Indonesia diperbincangkan dan viral di media sosial. Itu setelah akun twitter @gilangcomrade memposting hasil skripsi salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang memuat daftar pustaka dari laman media sosial.

"Kualitas Skripsi Sarjana FISIP di Indonesia," cuit Gilang Lukman, Rabu (12/8/2020), siang.

Dalam postingan itu, Gilang menambahkan foto hasil tangkapan layar sebuah skripsi berjudul 'Tanda-Tanda Zionisme Dalam Film Kartun Anak Di Televisi' yang diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk persyaratan mendapatkan gelar sarjana (S-1).

Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UMM Himawan Sutanto membenarkan jika skripsi yang diperbincangkan di media sosial adalah milik alumni Ilmu Komunikasi tahun 2016. 

Mahasiswa itu disebut berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu yakni empat tahun dengan nilai sangat memuaskan.

"Iya, itu benar alumni kami, tahun 2016. Anaknya lulus tepat waktu 4 tahun, kemudian nilainya juga bagus memuaskan. Kalau indikasi mengarah kepada mengabaikan, sangat kecil. Memang kita tidak bisa membandingkan satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain. Tapi standar model metodologi riset sudah cukup," ujar Himawan kepada detikcom dalam sambungan telepon, Rabu (12/8). [dtk]