-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Walah, Gawat Nih! Danjen Kopassus: Ada 686 WNI yang Bergabung dengan ISIS di Timur Tengah

Walah, Gawat Nih! Danjen Kopassus: Ada 686 WNI yang Bergabung dengan ISIS di Timur Tengah

NUSAWARTA - Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa menyebut jumlah warga dari kawasan Asia Tenggara yang menjadi teroris dengan cara bergabung ke dalam organisasi ISIS di Timur Tengah mencapai 1.000 orang. 

Dari 1.000 orang tersebut, 686 di antaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).

Dia mengatakan, para teroris ISIS sekurang-kurangnya berjumlah 41.000 dan sekarang sedang dalam kondisi terdesak dan mereka semua terbagi ke dalam dua kamp pengungsian. 

Data tersebut disampaikan Cantiasa berdasarkan laporan intelijen yang diterimanya.

"Terorisme itu dikaitkan dengan lingkungan strategis itu kalau lihat akhir-akhir ini sekarang sudah terpojok di Suriah atau Timur Tengah. Di mana ada sekitar 41.000 pelaku terorisme di sana mereka terdesak dan dibagi dua camp, mereka tertawan dan 1.000 orang dari Asia Tenggara. Setelah kita bedah lagi, dari 1.000 kelompok ISIS yang ada, ternyata ada 686 hasil data informasi intelijen itu berasal dari Indonesia," katanya di sebuah Video yang diunggah Puspen TNI, Senin (17/8/2020).

Lebih lanjut dia menuturkan para terorisme yang ada di Indonesia terkhusus di Poso. Sulawesi Tengah menggunakan metode hit and run. 

Di mana, sambungnya, baru-baru ini ada seorang petani yang menjadi korban keganasan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kelora.

"Jadi mereka menangkap dan menyandera masyarakat dan kebetulan mereka itu butuh logistik, butuh makanan, nah masyarakat ini yang diancam kalau tidak menyerahkan makanan atau logistik ya dibunuh. Tidak main-main mereka membunuh itu dengan sadis. semua modusnya dengan potong leher," ujarnya.

"Di Poso sana ada petani atas nama Agus, sedang melaksanakan kegiatan di kebun ternyata mereka dibunuh," sambungnya.

Sementara itu, dia menuturkan bahwasanya para teroris itu sekarang sudah memiliki berbagai macam cara untuk meneror. 

Bahkan, dikatakan olehnya, di Filipina, para teroris telah menggunakan alutsista seperti roket, tidak hanya melakukan percobaan bunuh diri menggunakan bom.

"Kalau kita lihat tetangga kita, khususnya Filipina, di mana Filipina saat ini berjuang untuk melawan terorisme dan tidak main-main di sana sampai hari ini militer dan semua komponen terlibat perlawanan terhadap terorisme. Kalau mereka di sana sudah menggunakan alutsista. Teroris itu bukan melakukan bom bunuh diri, tapi mereka sudah melakukan serangan-serangan dengan roket," tuturnya. [okz]