-->

Breaking

logo

August 12, 2020

WHO Tetap Pede Dunia Bisa Taklukkan Corona karena Alasan Ini

WHO Tetap Pede Dunia Bisa Taklukkan Corona karena Alasan Ini

NUSAWARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan masih ada harapan untuk menaklukkan pandemi virus corona (Covid-19).

Meski virus ini sudah menginfeksi 20 juta orang dan mengakibatkan hampir 750.000 orang tewas. DATA yang dihimpun AFP per Senin (10/8) pukul 18.00 WIB menunjukkan, corona telah menewaskan sedikitnya 731.518 jiwa secara global sejak wabah itu muncul di China, Desember lalu.

Setidaknya 19.884.260 kasus infeksi telah dikonfirmasi di 196 negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.879.100 orang telah dinyatakan sembuh.

Sementara, data yang dihimpun laman Worldometer menunjukkan, jumlah kasus Covid-19 di seluruh dunia kini telah mencapai 20.053.818 kasus yang dikonfirmasi.

Dari jumlah itu, 734.556 kasus berujung pada kematian, sedangkan sebanyak 12.916.143 orang dinyatakan sembuh.

“Di balik statistik ini, ada banyak rasa sakit dan penderitaan. Setiap nyawa yang hilang itu penting. Saya tahu banyak (perasaan) Anda yang berduka dan ini adalah saat yang sulit bagi dunia. Tapi saya ingin menjelaskan, ada tunas hijau harapan dan tidak ada kata terlambat untuk membalikkan wabah,” tutur Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada konferensi pers virtual yang dikutip AFP, Senin (10/8/2020).

Ghebreyesus memberikan contoh negara-negara yang berhasil menekan penyebaran virus seperti Selandia Baru dan Rwanda.

Dia juga memuji Inggris dan Prancis karena mengambil tindakan cepat baru-baru ini untuk mengatasi lonjakan kasus baru.

Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah di dua negara itu antara lain memberlakukan karantina (lockdown) di sekitar klaster di Inggris Utara dan mewajibkan penggunaan masker di tempat-tempat terbuka yang sibuk di Paris.

“Pesan saya sangat jelas: tekan, tekan, tekan terus (penyebaran) virus ini. Jika kita menekan virus secara efektif, kita dapat dengan aman membuka masyarakat,” ujarnya.

Australia Utara Ditutup

Mengantisipasi ledakan Covid-19 dari transmisi impor, Wilayah Utara Australia rencananya bakal menutup diri selama 18 bulan ke depan.

Langkah ini diambil demi menghindari penularan Covid-19 ke populasi suku Aborogin. Mereka dinilai rentan terkena virus ini karena tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan.

Diberitakan AFP, kemarin, wilayah utara yang jarang penduduknya adalah rumah bagi sekitar 250.000 orang, di mana 30 persen adalah warga Aborigin.

“Kita akan memiliki kontrol perbatasan ketat setidaknya selama 18 bulan ke depan. Dan kita mengerahkan sumber daya untuk melakukan itu,” kata Menteri Utama Wilayah Utara Michael Gunner.

Wilayah Utara mencatat sedikit kasus corona dan tidak ada kematian akibat virus ini sejak awal pandemi. Saat ini, Wilayah Utara ditutup untuk negara bagian Victoria dan New South Wales.

Australia mencatat hampir 22.000 kasus dan 332 kematian akibat corona. Australia mencatat hampir 22.000 kasus dan 332 kematian akibat corona. [wrte]