-->

Breaking

logo

August 17, 2020

Wong Cilik soal HUT RI: Merdeka? Nggak. Cari Uang Aja Semakin Susah Gini Kok Merdeka

Wong Cilik soal HUT RI: Merdeka? Nggak. Cari Uang Aja Semakin Susah Gini Kok Merdeka

NUSAWARTA - Kios emperan milik Joko (36) atau yang akrab disapa Pak Jo tak kenal tanggal merah. Pada Senin (17/8) saat HUT RI ke-75 pun rutinitas di kiosnya tak banyak yang berubah.

Sejak pagi, Joko tetap membuka kios miliknya yang berada di baju Jalan HOS Cokroaminoto, Tangerang. Melayani pembeli, siapa pun yang datang.

Bagi Joko, peringatan Hari Kemerdekaan RI tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Apalagi, lanjutnya, bagi 'wong cilik' sepertinya.

Joko juga mengaku tak terlalu memusingkan arti kemerdekaan. Tapi, jika ditanya soal kemerdekaan, Indonesia, di matanya, belum sepenuhnya merdeka.

"Ya, kalau merdeka dalam arti penjajahan pasti sudah merdeka. Tapi kalau konteks hari ini menurut saya belum [merdeka]," tuturnya, Senin (17/8).

Merdeka seutuhnya, bagi Joko, berarti setiap orang yang lahir di Indonesia tak perlu lagi memusingkan hal-hal dasar seperti urusan pangan dan pendidikan. Arti merdeka seutuhnya bagi Joko adalah saat negara menjamin kesejahteraan masyarakat.

Tak perlu jauh-jauh, kata Joko. Dia mencontohkan dirinya sendiri yang telah bekerja siang malam, tapi masih saja jauh dari kata sejahtera. Meski tak kelaparan, tapi pendapatan yang diraihnya tak sebanding dengan pengeluaran.

"Sejahtera, ya, belum lah. Cari uang masih susah, kok. Kerja siang malam belum tentu nutupin [biaya sehari-hari]," kata Joko.

Setali tiga uang, Nana (28), seorang asisten rumah tangga (ART) yang merantau ke Jakarta dari kampung halamannya di Lampung, juga merasa belum merdeka sepenuhnya.

Nana geram pada tindak korupsi yang masih saja mewarnai Indonesia. Baginya, korupsi adalah merampas hak 'wong cilik'.

"Korupsi, tuh, masih banyak. Gendut-gendutin perut sendiri aja. Merdeka, sih, merdeka, tapi masih aja susah," ucapnya.

Kata sejahtera juga masih tampak jauh dari kehidupan Nana. Baginya, sejahtera adalah ketika dia dapat membelanjakan upahnya untuk keperluan pribadinya.

Namun, apa mau dikata, tiga anak dan seorang ibu yang sudah renta di Lampung membuat Nana harus mengirimkan hampir semua upahnya ke kampung halaman. Padahal, Nana juga ingin betul sekali waktu bisa membelanjakan upahnya untuk membeli baju-baju cantik yang diidamkannya.

"Boro-boro [bisa menyenangkan diri sendiri], [upah] cuma cukup untuk kirim ke kampung aja. Buat anak-anak sekolah, jajan. Nabung aja belum bisa," katanya getir.

Tapi Nana tak bersedih hati. Meski kata sejahtera masih jauh dari hidupnya, tapi dia berharap agar tiga buah hatinya bisa mendapatkan kehidupan yang berbeda.

"Mereka [anak-anak] harus bisa menikmati Indonesia yang sejahtera," kata dia. [cnn]