-->

Breaking

logo

September 8, 2020

20 Tahun Misteri Kasus 'Munir', Mengapa Ia Begitu Ditakuti Pemerintah?

20 Tahun Misteri Kasus 'Munir', Mengapa Ia Begitu Ditakuti Pemerintah?

NUSAWARTA - Pemikiran kritis Munir tentang kebangsaan dan agama menimbulkan reaksi perlawanan. Dia diancam dan dituduh anti-Islam, komunis, dan ateis. Munir juga dituduh anti-nasionalis karena berperan penting dalam mengungkap bukti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan di Aceh, Papua, dan Timor Leste.

Sekilas terdengar seperti kata-kata filsuf atau tokoh agama, kalimat itu sejatinya adalah kutipan dari Munir Said Thalib, pembela hak asasi manusia paling terkenal di Indonesia, yang tewas diracun 16 tahun lalu pada Senin (7/9).

Munir meninggal dunia dalam penerbangan Garuda Indonesia GA974 dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda pada 7 September 2004. Otopsi yang dilakukan oleh otoritas Belanda menunjukkan tubuhnya mengandung arsenik dengan kadar tiga kali lipat dari dosis yang mematikan. Namun, pemerintah Indonesia tidak pernah menindaklanjuti laporan Tim Pencari Fakta (TPF) untuk memerintahkan penyelidikan independen atas kasus kematiannya.

Siapakah Munir? Seberapa relevan aktivisme dan pemikirannya dengan kondisi HAM di Indonesia saat ini?

Kutipan di atas menunjukkan inklusivitas Munir. Pengalamannya tentang kekerasan dan ekstremisme agama membawanya ke inklusivitas dan kecintaan terhadap hidup melalui keberagaman agama manusia.

Terlepas dari kutipan di atas, Munir yang banyak dikenal bukanlah orang yang membantu orang lain atas dasar religiusitas. Munir jarang mengucapkan komentar religius. Sisi religiusnya mungkin merupakan hasil dari interaksinya dengan kaum yang lemah dan tertindas. Munir pernah berkata kepada Usman Hamid, yang dikisahkan dalam opininya di Indonesia at Melbourne, “Jika seorang pekerja mengalami kecelakaan di tempat kerja atau di jalan, kita semua harus siap membantunya, tanpa memikirkan apakah tindakan kita sejalan dengan Alquran atau Alkitab.”

Di masa mudanya, Munir nyaris tidak mungkin melontarkan pernyataan semacam itu. Tahun-tahun di masa mudanya ditandai dengan kekerasan. Munir sering bercerita tentang bagaimana ketika dia marah, dia akan memukul orang atau melemparkan barang ke arah mereka. Sebagai aktivis hak asasi manusia, Munir pernah menerima penghargaan dan dituduh menyalahgunakan hadiah uang tunai. Laporan media tentang kejadian tersebut sampai ke lingkungannya dan membuat Munir sangat marah. “Jika itu terjadi di masa muda, saya akan melemparkan gelas ke orang itu. Orang-orang boleh menuduh saya atas apa pun, tapi jangan sampai karena menjadi pencuri. Itu membuat saya sedih.”

Munir pernah mengatakan kepada ulama liberal Islam Ulil Abshar-Abdalla, ada suatu periode pada 1980-an ketika dia mengikuti Islam ekstremis dan tasnya “selalu berisi pisau”. Saat itu Presiden Soeharto menindak aktivisme Islam atas nama Pancasila. Munir menganggap dirinya sebagai pembela Islam yang siap melawan musuh-musuh Islam.

Kecenderungan Munir muda untuk marah memengaruhi segalanya, mulai dari hubungannya hingga pendekatannya terhadap agama. Namun belakangan, saat kuliah di Universitas Brawijaya Malang, ia menjadi lebih reflektif. Ketika menjadi Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), ia mencermati undang-undang organisasi yang ditulis oleh tokoh intelektual Muslim progresif Nurcholish Madjid.

Munir menyadari, Islam mengakui adanya ketidakadilan dan Islam hadir bagi kaum yang termarginalkan. Munir seakan berubah dalam semalam. Ia menjadi sangat spiritual dalam praktik keagamaannya, melampaui garis agama formal. Munir memprioritaskan peningkatan dirinya dan kehidupan orang lain.

Dalam hal ini, Munir terkadang berselisih dengan pihak-pihak yang pemahamannya tentang Islam hanya terbatas pada teks tanpa refleksi yang lebih besar atas konteks ajaran. Berkali-kali Munir bertemu dengan orang-orang yang memandang HAM sebagai produk Barat. Islam tidak mengakui hak asasi manusia, kata mereka. Berulang kali pula, Munir akan menjelaskan HAM adalah hasil dari perkembangan peradaban. Hak asasi manusia lahir dari penderitaan para korban di seluruh dunia: korban perang, korban genosida, penghilangan paksa, dan bentuk kekerasan lain yang terus berlanjut hingga saat ini.

Menurut opini Usman Hamid di Indonesia at Melbourne, semangat Munir membawa obor keadilan sejalan dengan semangat umum Alquran: mewujudkan serta menegakkan keadilan, kesetaraan, dan perdamaian dalam masyarakat. Memihak pada korban, pekerja, dan orang miskin merupakan inti dari praktik peradilan Munir. Dia percaya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan harus menjadi bagian dari budaya agama. Tafsir yang berbeda dengan prinsip keadilan harus ditinjau ulang.

Oleh karena itu, perjuangan Munir bersifat universal. Di Afrika Selatan, ada Nelson Mandela. Di Amerika Serikat, universalitas seperti itu dikenang dalam sosok Martin Luther King, Jr. Di Indonesia juga ada Kartini: surat-suratnya menunjukkan keterikatan kuat dengan gagasan universalitas hak asasi manusia yang melampaui hak warga negara. Prinsip keadilan yang diperjuangkan oleh para humanis tersebut bersifat universal dan melampaui pemahaman abstrak tentang keadilan.

Teman-teman Munir mengenalnya sebagai aktivis hak asasi manusia dan intelektual. Dia sangat memikirkan tentang kebangsaan. Dalam bukunya “Membangun Bangsa dan Menolak Militerisme: Jejak Pemikiran Munir” ia menekankan, untuk membangun bangsa yang kuat tidak dapat mengandalkan nilai-nilai yang menolak prinsip keadilan. Itu sebabnya, menurut Munir, militerisme sangat berbahaya dalam upaya membangun kembali bangsa dengan demokrasi sebagai basis pendiriannya.

Bagi Munir, kebangsaan lebih dari sekedar “nasionalisme” sempit atau “nasionalisme chauvinistik” yang mengutamakan jati diri atau kehormatan nasional di atas hak asasi manusia. Saat menerima penghargaan Right Livelihood Award, Munir mengungkapkan pemikiran kosmopolitan tentang menjadi warga dunia dalam “dunia yang terintegrasi”. Di masa depan, tegasnya, “Semua orang perlu mempertimbangkan kemungkinan dunia bersatu berdasarkan rasa kemanusiaan dan solidaritas. Kejahatan yang dilakukan oleh negara-bangsa atau atas nama kemajuan dan pembangunan akan berkurang hanya jika kita mampu mengakui diri kita sendiri sebagai bagian dari takdir manusia lain.”

Namun, pemikiran kritis Munir tentang kebangsaan dan agama menimbulkan reaksi perlawanan. Dia diancam dan dituduh anti-Islam, komunis, dan ateis. Munir juga dituduh anti-nasionalis karena berperan penting dalam mengungkap bukti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan di Aceh, Papua, dan Timor Leste.

Menurut pendapat Usman Hamid di Indonesia at Melbourne, pengalaman hidup Munir membuktikan, menghidupkan kembali humanisme dalam konsepsi kebangsaan dan kehidupan beragama di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Serangan dan tudingan yang ditujukan kepada Munir bukan hanya lisan. Dia juga menghadapi serangan fisik dan akhirnya pembunuhan. Seorang jenderal militer secara terbuka menyatakan dia ingin Munir mati. Satu paket bahan peledak dikirimkan ke pintu rumah ibunya. Sebuah bom meledak di luar rumahnya. Puluhan preman menyerang kantornya. Pada akhirnya, dia diracuni dengan arsenik. Semua itu adalah metode brutal para pengecut yang panik.

Serangan-serangan tersebut tidak menargetkan Munir sendirian. Mereka juga menyerang universalitas hak asasi manusia. Mereka dirancang untuk menyebarkan ketakutan dan membungkam orang. Sebagai manusia biasa, Munir tentu saja merasa takut. Namun, kemanusiaan dan solidaritasnya dengan orang lain membantunya menaklukkan ketakutannya sendiri.

“Apa yang kita takuti adalah ketakutan itu sendiri,” tegas Munir. Munir mungkin tidak bermaksud mengutip mantan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt atau penulis esai Prancis Michel de Montaigne yang menyampaikan komentar serupa. Itu adalah pepatah yang dia gunakan sebagai pegangan untuk melanjutkan perjuangan dan meruntuhkan tirani kebungkaman.

Munir menyadari, segala hal yang menghalangi para aktivis, mulai dari peluru hingga tank, sebenarnya bukanlah halangan besar. Kendala terbesar ada di pikiran. Rasa takut, tandas Munir, mengurangi kepekaan dan rasionalitas yang diperlukan untuk bertindak. Bukan kebetulan, sentimen serupa juga dimiliki oleh agama Kristen: “akar dosa adalah ketakutan”. Keyakinan pada kemanusiaan dan keadilan universal adalah bagian penting dari pemahaman agama yang inklusif.

Salah satu jari Munir nyaris putus saat membela buruh yang di-PHK. Munir senantiasa menghibur orang-orang yang anggota keluarganya menjadi korban penghilangan paksa. Ia bahkan membantu membebaskan seorang anggota pasukan elit militer yang disandera oleh kelompok bersenjata.

Munir ialah sosok pemberani. Dia menaklukkan ketakutannya dengan cinta. Janda Munir Suciwati mengingatnya sebagai pria yang mencintai kehidupan. Munir mencintai keluarganya, merawat ikan peliharaannya, dan tidak akan menghindar dari pekerjaan rumah tangga. Bagi Munir, cinta dan solidaritas tercermin dari kepekaannya terhadap rasa sakit orang lain. Sensitivitas membuatnya sulit untuk mengabaikan “sang liyan” (the others).

Munir dicintai oleh para penyintas yang dia perjuangkan. Munir melampaui kata-kata dan gagasan, Usman Hamid menyimpulkan di Indonesia at Melbourne, serta telah membantu membawa perubahan yang berarti. Seperti yang ditulis oleh filsuf Amerika Richard Rorty, “Bukan kepercayaan pada filsafat atau agama, tetapi kepekaan terhadap orang lain yang memungkinkan kita untuk membangun solidaritas dengan orang lain.” [MTPL]