-->

Breaking

logo

September 6, 2020

27 Lamanya Dibui, Korban Salah Tangkap di China Minta Ganti Rugi Rp 48 Miliar

27 Lamanya Dibui, Korban Salah Tangkap di China Minta Ganti Rugi Rp 48 Miliar

NUSAWARTA - Awal Agustus lalu, berbagai media sempat santer memberitakan sosok seorang mantan narapidana China bernama Zhang Yuhuan (52). Pasalnya, Zhang telah mencetak rekor sebagai narapidana tidak bersalah yang dibui dengan hukuman paling lama di China.

Dilansir dari WION, Zhang dari Provinsi Jiangxi, awalnya divonis karena tudingan pembunuhan dua anak laki-laki. Karena inilah, Zhang terpaksa menjalani hukuman penjara hingga 9.778 hari alias 27 tahun.

Pada Agustus lalu, Zhang pun akhirnya dinyatakan tidak bersalah setelah kasusnya dibuka kembali oleh pengadilan. Selain itu, dalam proses pengadilan barunya, Zhang juga menuturkan bahwa ia sebenarnya dipaksa polisi untuk mengaku bersalah.

Kemudian, setelah satu bulan 'absen' dari pemberitaan, kasus Zhang kembali berlanjut. Pada Rabu (2/9) pekan lalu, Zhang pun dilaporkan resmi mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pemerintah.

Mengutip dari China Daily, jumlah kompensasi yang diminta Zhang mencapai hingga lebih dari 22,34 juta yuan (Rp48,1 miliar). Puluhan miliar kompensasi ini pun diajukan Zhang kepada Pengadilan Tinggi Jiangxi.

Pengacara Zhang, Cheng Guangxin kemudian menjelaskan bahwa kompensasi terdiri dari sejumlah poin ganti rugi. Di antaranya adalah 10,17 juta yuan (Rp21,9 miliar) untuk kasus salah tangkap Zhang; 1 juta yuan (Rp2,1 miliar) untuk perawatan medis; 10,17 juta yuan untuk penderitaan mental; hingga 1 juta yuan untuk biaya banding.

"Karena kasus salah tangkap, kebebasan klien saya telah dirusak setiap menitnya. Jadi kompensasi (diajukan) atas kasus penahanan yang salah. Menurut saya, dibandingkan dengan orang yang kehilangan kebebasan setelah bekerja delapan jam per hari, (kompensasi Zhang) harus mencapai tiga kali lipat," ucap Cheng.

Senada dengan Cheng, dalam dokumen ajuannya, Zhang mencatat bahwa kompensasi yang ia terima harus bernilai besar. Terlebih lantaran ia telah menjalani hukuman penjara hingga puluhan tahun lamanya.

"Tidak ada yang mau menukar kebebasan 27 tahun dengan kompensasi 5 juta (Rp10,7 miliar) atau 10 juta yuan (Rp21,5 miliar). Jika kompensasi terlalu rendah, itu tidak akan menunjukkan keadilan, meringankan kerusakan mental yang disebabkan oleh penahanan yang salah, atau mencegah kasus salah tangkap (terjadi kembali)," tulis Zhang dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, Zhang juga diketahui menuntut beberapa hal lain Pengadilan Tinggi Jiangxi. Di antaranya adalah tuntutan permintaan maaf, pemulihan reputasi Zhang hingga bantuan upaya penghilangan efek buruk karena hukuman yang salah.

Pada 4 Agustus, Pengadilan Tinggi Jiangxi membatalkan putusan awal terkait dengan penangguhan hukuman mati yang sempat dijatuhkan untuk Zhang. Selain itu, pengadilan tinggi juga mulai menemukan fakta bukti kasus tidak cukup lengkap untuk memvonis Zhang. Pada hari itu juga, Zhang pun resmi dinyatakan tidak bersalah hingga diizinkan untuk pulang ke rumah.

Sementara, kasus pembunuhan yang membelit Zhang diketahui terjadi pada tahun 1993. Ketika itu, Zhang dibekuk setelah polisi menemukan dua mayat anak laki-laki di waduk di sebuah desa di Jinxian. Zhang sendiri diketahui adalah tetangga dari para korban.

Kemudian, 2 tahun setelah penangkapan, Zhang dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Menengah Rakyat Nanchang. Vonis diberikan lantaran Zhang dituding terkena pasal pembunuhan yang disengaja.

Namun, hukuman mati kemudian ditangguhkan hingga diganti menjadi hukuman seumur hidup dengan syarat bahwa Zhang tidak akan melakukan pelanggaran baru selama masa percobaan penahanan dua tahun.

Zhang dan keluarganya sendiri selalu menolak putusan hakim dan tudingan atas pembunuhan. Setelah berulang kali berupaya mengajukan banding, pengadilan tinggi akhirnya memutuskan untuk mengulangi kasus dan membuka kembali sidang mulai 9 Juli lalu. [akrt]