-->

Breaking

logo

September 12, 2020

8 Bulan Tak Dapat Jasa BPJS, Ratusan Tenaga Medis RSUD Malah Diamuk Bupati, Disuruh Minta Maaf

8 Bulan Tak Dapat Jasa BPJS, Ratusan Tenaga Medis RSUD Malah Diamuk Bupati, Disuruh Minta Maaf

NUSAWARTA - Ratusan tenaga medis RSUD Indrasari Rengat, Indragiri Hulu, Riau, menggelar aksi diam di halaman depan rumah sakit tersebut, Jumat (11/9/2020).

Para tenaga medis menuntut pembayaran insentif atau uang jasa yang bersumber dari BPJS yang belum dibayarkan selama 8 bulan, mulai Januari 2020 hingga sekarang.

Aksi diam petugas media itu membuat Bupati Indragiri Hulu (Inhu), Yopi Arianto mengamuk. Ia mendatangi peserta aksi dan mengacam memecat para tenaga medis, khususnya tenaga honorer.

Tak hanya itu, 10 orang tenaga medis RSUD Indrasari Rengat dipanggil dan dimintai keterangan oleh Inspektorat Daerah.

Para tenaga medis tersebut disuruh mengisi surat pernyataan. Di dalam surat pernyataan itu diuraikan bahwa tenaga medis menyatakan permohonan maaf kepada Bupati Kabupaten Inhu, kepada Kepala Dinas Kesehatan dan kepada direktur serta jajaran managemen RSUD Indrasari Rengat.

Dalam surat pernyataan itu juga disebutkan bahwa tenaga medis menyatakan menerima pembagian jasa BPJS sesuai dengan aplikasi yang telah disepakati. Tenaga medis juga harus berjanji tidak akan mengulangi aksi serupa dan tetap melaksanakan pelayanan sesuai SOP.

Kepala Inspektorat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Boyke David Elman Sitinjak ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pemanggilan terhadap tenaga medis pasca aksi.

“Benar, ada 10 orang tenaga medis dimintai keterangannya usai aksi kemarin,” ujar Boyke David Elman Sitinjak, Sabtu (12/9/2020).

Pemanggilan dan permintaan keterangan terhadap 10 orang tenaga medis tersebut dimulai Jumat pukul 20.00 WIB hingga Sabtu (12/9) pukul 01.00 WIB.

Para tenaga medis itu dipanggil dan diperiksa untuk mengungkap dalang dan motif aksi diam di RSUD Indrasari Rengat.

Pemanggilan masih terus dilakukan terhadap 60 orang tenaga medis pada Senin (14/9/2020) mendatang.

Hanya saja, pemanggilan tersebut dilakukan secara bergantian yakni pagi, siang dan sore agar tidak menggangu terhadap pelayanan di RSUD Indrasari.

“Pemanggilan dijadwalkan hingga Kamis (17/9/2020) mendatang. Karena ada sekitar 206 orang,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan terhadap ratusan tenaga medis akan disimpulkan pada Jumat (18/9/2020).

Pemeriksaan diharapkan menghasilkan solusi dan juga pemberian sanksi. Karena aksi yang dilakukan para tenaga medis tanpa izin.

Terkait insentif atau uang jasa yang dituntut tenaga medis, Kepala Inspektorat mengatakan bahwa sepengetahuannya dana yang bersumber dari BJPS belum cair.

Kemudian untuk besaran yang akan diserahkan kepada tenaga medis dari hasil pemeriksaan terhadap tenaga medis akan dapat dikaji ulang.

“Intinya pelayanan di RSUD jangan sampai terganggu,” harapnya.

Di tempat terpisah, salah seorang tenaga medis, membenarkan adanya surat pernyataan yang harus diisi dan ditandatangani.

“Padahal, yang kami tuntutpun bukanlah minta bonus atau lainnya, tetapi jasa kami. Namun akhirnya, kenapa kami begitu ditekan,” sebutnya.

Ia juga mendapat informasi tentang rekannya yang sudah dipanggil Inspektorat. Padahal saat melakukan aksi, mereka tidak menelantarkan pasien.

Bahkan sebelum aksi, pasien telah diperiksa baik infus dan oksigen serta ada satu perawat yang menjaga di setiap ruangan. Makanya, dia sempat bertanya di dalam hati, apakah yang dilakukan mereka sangat fatal.

“Menangis kami semua tenaga medis ini. Namun kami masih mengedepankan nurani dan kemanusiaan,” lirihnya. [psid]