-->

Breaking

logo

September 15, 2020

8 Fakta Alfin Andrian, Gangguan Jiwa sampai Selalu Dibayangi Sosok Syekh Ali Jaber

8 Fakta Alfin Andrian, Gangguan Jiwa sampai Selalu Dibayangi Sosok Syekh Ali Jaber

NUSAWARTA - Pelaku penusuk Syekh Ali Jaber, Alin Andrian akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Pemuda 24 tahun itu dijerat polisi dengan pasal 351 ayat 2 KUHP dengan ancaman maksimal penjara lima tahun.

Namun, dikabarkan bahwa alfin mengidap gangguan jiwa. Hal itu sebagaimana keterangan yang diberikan orangtua pelaku kepada polisi.

Berikut 8 fakta Alfian Andrian yang dirangkum PojokSatu.id:

1. Baru 15 menit

Alfin Andrian diketahui menusuk Syekh Ali Jaber saat baru 15 menit memberikan tausiah di Masjid Fallahudin, Lampung, Minggu (13/9).

Acara sendiri sediannya berlangsung dari pukul 16.00-18.00 WIB.

“Itu sedang interaksi para jemaah dengan Syekh Ali Jaber,” ungkap Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Asryad.

Saat itu, Syekh Ali Jaber meminjam telepon selular jamaah. Tiba-tiba, pelaku langsung berlari naik ke atas panggung dan menusukkan senjata tajam.

Mendapati hal itu, Syekh Ali Jaber melakukan perlawanan sehingga tusukan mengenai lengan kanannya.

“Korban sempat melakukan tangkisan tapi kena lengan sebelah kanan di bahu,” jelasnya.

Mengetahui hal itu, sejumlah jamaah langsung mengamankan pelaku. Sementara, Syekh Ali Jaber langsung dilarikan ke Puskesmas Gedong Air, Kota Bandar Lampung.

2. Gangguan Jiwa

Berdasarkan keterangan orangtua, Alfin Andrian disebut mengalami gangguan jiwa.

“Menurut keterangan orang tuanya yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa. Namun dari kepolisian tidak bisa menerima pengakuan ini begitu saja,” kata Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto.

Akan tetapi, keterangan itu diragukan polisi.

“Tetapi dari pihak kepolisian tidak percaya begitu saja menerima penjelasan ini. Sehingga dari pihak kami proaktif malam ini untuk mengundang dokter dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung,” tambahnya.

Dan untuk pelaku sendiri kini tengah dilakukan observasi awal pemeriksaan. Pun direncanakan akan dibawa ke RSJ.

“Selain itu kita lakukan pemeriksaan urine kepada pelaku. Dan hasilnya negatif dan kita akan melakukan pemeriksaan di RSJ dan kedua akan memanggil psiakter dari dokter kepolisian,” ucapnya.

“Kami akan koordinasikan ke Biddokes. Saat ini dalam pendalaman oleh Reskrim. Didampingi dokter psikiatri,” jelasnya.

3. Tidak Ada Rekam Medis dari RSJ

Kabag Humas RSJ Lampung David mengatakan, pihaknya sudah memeriksa arsip rekam medis hingga empat tahun terakhir. Namun tidak ada nama Alfin.

“Kita sudah memeriksa arsip rekam medis hingga mundur empat tahun. Nama yang bersangkutan tidak terdata,” kata David.

Menurut dia, informasi dari kepolisian, Alfin pernah berobat ke RSJ tapi tidak menjalani rawat inap.

“Informasi dari polisi, ia pernah ke UGD. Tidak rawat inap. Karena itu kita minta pihak keluarga datang untuk menjelaskan kapan yang bersangkutan pernah berobat. Bisa jadi namanya tidak terdata karena menggunakan nama panggilan,” ungkapnya.

David melanjutkan, Minggu malam pihaknya mendatangi Mapolresta Bandarlampung dan melakukan pemeriksaan awal terhadap Alfin.

“Belum ada kesimpulan, karena baru observasi awal. Bicaranya juga belum fokus. Mungkin karena peristiwa yang dia alami sebelumnya. Untuk mengetahui kondisi kejiwaannya, ia harus dibawa ke RSJ dan menjalani pemeriksaan mendalam,” tegasnya.

4. Baru Pulang Seminggu

Sejumlah tetangga pelaku menyatakan tak begitu mengenal sosok Alfin Andrian. Jumawan, Ketua RT 007 Kelurahan Sukajawa, menyebut, Alfin diketahui baru tinggal di lingkungannya.

“Anak ini (pelaku) mungkin baru sekitar satu pekan tinggal di RT 007 ini, di rumah kakeknya,” kata dia.

Namun, ia mengakui bahwa Alfin Andrian merupakan kelahiran di daerahnya, akan tetapi selama ini dia tinggal bersama pamannya di Kabupaten Mesuji.

Jumawan baru mengetahui bahwa pelaku penikaman tersebut merupakan warganya dan tinggal di rumah kakeknya.

“Kaget juga kalau pelaku itu tinggal di sini karena baru tahu kemarin saat penusukan terjadi,” kata Jumawan.

Terkait pelaku memiliki penyakit gangguan jiwa seperti pengakuan keluarganya, Jumawan mengaku tidak mengetahuinya.

“Saya tidak tahu yang bersangkutan ada gangguan jiwa atau tidak,” kata dia.

Hal serupa diungkapkan oleh Warga Sukajawa lainnya Andika yang mengaku tidak mengenal pelaku penusukan Syekh Ali Jaber tersebut.

“Enggak kenal saya, tapi katanya ini…katanya namanya Alfin, dia warga Sukajawa tapi di sebelah sana naik ke atas dikit,” kata dia.

5. Ditetapkan Tersangka

Alfin Andrian (24) ditetapkan sebagai tersangka penusuk Syek Ali Jaber. Alfin ditetapkan tersangka setelah menjalani pemeriksaan sejak tadi malam.

“Statusnya kita tetapkan sebagai tersangka karena sudah mendekati 24 jam, dari pemeriksaan semalam,” kata Kapolresta Bandarlampung Kombes Yan Budi Jaya, Senin (14/9).

Alfin dijerat pasal 351 KUHP; (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Yan Budi menuturkan, terkait pemeriksaan kejiwaan tersangka, pihaknya masih menunggu tim dari Mabes Polri.

“Semalam sudah kita datangkan psikiater dari RSJ Lampung. Tapi baru diagnosa awal. Itu masih kita dalami. Masih menunggu dari Mabes Polri,” ucapnya.

Ia menambahkan, kasus penyerangan Syek Ali Jaber akan tetap ditangani penyidik Polresta Bandarlampung.

Soal penetapan tersangka sebelum hasil pemeriksaan kejiwaan Alfin keluar, kapolres mengatakan itu hanya prosedur.

“Kita tetap berproses dengan prosedur. Karena itu kan (pemeriksaan kejiwaan) hanya untuk membuktikan dia ini benar atau tidak mengidap gangguan jiwa. Kalau ada kartu kuning, bisa dipastikan dia mengalami gangguan jiwa,” ujarnya.

Lebih lanjut Yan Budi mengatakan, penentuan tersangka mengalami gangguan jiwa akan diputuskan oleh hakim dalam persidangan.

“Hal itu persidangan yang menentukan. Kalau menurut hakim nanti memang mengalami gangguan jiwa, ya itu kewenangan hakim. Kita tetap memproses kasus 351-nya (penganiayaan),” tegas Yan Budi.

6. Belum Ditemukan Radikalisme

Polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif kepada pelaku penusukan Syekh Ali Jaber Alfin Andrian.

Sampai saat ini, polisi juga belum menemukan bukti bahwa Alfian Andrian memiliki keterlibatan dengan kelompok teroris atau sejenisnya.

Diduga, penusukan yang dilakukan pria 24 tahun itu adalah inisiatif sendiri.

“Sampai sejauh ini kita belum menemukan hal kesana ya (kelompok teroris),” ujar Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad saat dihubungi, Senin (14/9).

7. Selalu Dibayangi Sosok Syekh Ali Jaber

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad menyatakan, penyidik masih menggali motif pelaku melakukan penusukan kepada Syeikh Ali Jaber.

Pandra mengungkap, saat dilakukan pemeriksaan, Alfin mengaku kerap berhalusinasi didatangi Syekh Ali Jaber.

Sehingga ketika mendengar Syekh Ali Jaber berdakwah di dekat rumahnya, palaku langsung berniat melakukan penyerangan.

“Dia (pelaku) merasa terbayang-bayangi wujud atau fisik Syeikh Ali Jaber sehingga dia melakukan tindakan (penusukan) tersebut,” ungkapnya.

“Itu yang ada di dalam pikiran dia,” jelas Pandra.

Kendati demikian, pihaknya belum sepenuhnya mempercayai pengakuan Alfin dan masih terus mencari pembuktian atas pengakuannya kepada penyidik.

“Ini harus sesuai dong antara fakta yang terjadi maupun dari keterangan tersangka kan harus sesuai,” tandas Pandra.

8. Orangtua Bersikukuh

M. Rudi, ayah Alfin Andrian, tersangka penusuk Syekh Ali Jaber, bersikukuh anaknya menderita gangguan jiwa.

Hal ini disampaikan M. Rudi saat kembali ke Polresta Bandarlampung untuk dimintai keterangan oleh penyidik, Senin (14/9).

“Gangguan mental. Ya, masih sampai sekarang juga,” kata Rudi.

Warga Sukajawa, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung ini menyatakan, Alfin mengalami gangguan mental sejak beberapa tahun terakhir.

“Dari tahun 2017. Pernah seminggu dirawat di rumah sakit jiwa,” ucapnya.

Dilanjutkan, saat penyerangan, Rudi sedang ada di rumah. Ia tidak mengetahui jika Alfin berada di Masjid Falahuddin.

“Pas ke lokasi (masjid), dia sendiri. Saya masih di rumah,” ujarnya. [pjst]